OMK: Kaum Muda Katolik Butuh Guru Agama

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

197

LAMPUNG — Isi liburan kenaikan kelas dan tahun ajaran baru, sekitar 60 pelajar dari berbagai wilayah di paroki Santo Thomas Rasul kecamatan Sribawono kabupaten Lampung Timur menggelar pertemuan Orang Muda Katolik (OMK).

Lusia Yuli Hastiti, wakil ketua OMK Santo Thomas Rasul menyebutkan, kegiatan pelajar Katolik dalam suasana liburan tersebut digelar untuk membahas berbagai isu berkaitan dengan tantangan dan peluang kaum muda Katolik yang masuk sebagai generasi milenial.

“Pertemuan yang digelar selama dua hari pada pekan terakhir bulan Juni membahas berbagai isu terkini. Beberapa masalah terkait urbanisasi, pendidikan Katolik, perkembangan tekhnologi, kekuatan, ancaman, tantangan dan peluang pada OMK sebagai generasi muda gereja,” sebutnya kepada Cendana News, Kamis (28/6/2018).

Lusia, demikian ia dipanggil, guru di salah satu SMP swasta di kecamatan Marga Sekampung bahkan menyoroti terkait pendidikan iman Katolik terkendala minimnya tenaga pendidik.

“Pendidikan secara umum menjadi kebutuhan bagi generasi muda, namun secara khusus kaum muda Katolik juga mulai membutuhkan keberadaan guru agama Katolik yang tidak tersedia,” terang Lusia.

OMK Lamtim
Lusia Yuli Hastiti, salah satu guru sekolah swasta di Lampung Timur sekaligus wakil ketua OMK Sribawono [Foto: Henk Widi]
Pendidikan keagamaan Katolik yang masih terkendala oleh persoalan tenaga didik beragama Katolik membuat pelajaran agama kerap tidak dilakukan di kelas. Sejumlah pelajar bahkan harus rela memilih waktu khusus untuk bisa mendapat pelajaran sebagai bidang studi di sekolah.

“Meski demikian, keberadaan OMK sekaligus bina iman remaja membuat pelajar Katolik masih tetap bisa mendapat pendidikan dasar keagamaan,” terangnya.

Melalui gelaran Suara OMK tersebut, melalui diskusi dan sharing kelompok, tantangan yang dihadapi generasi muda secara umum dan pelajar Katolik juga menjadi pembahasan.

Menyikapi dinamika perkembangan tekhnologi dengan gawai, pertemuan tersebut sekaligus menyadarkan agar pelajar tetap menjaga nasionalisme dan mempertahankan ciri iman Katolik yang dimiliki. Semangat 100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia menjadi dasar agar jiwa nasionalisme tetap terjaga sejak dini.

“Isu-isu nasional berkaitan dengan tantangan pelajar Katolik tentunya menjadi perhatian bagi OMK, bahkan terkait narkoba serta hal negatif perusak generasi muda,” papar Lusia.

 

Ditambahkan, anggota OMK dari berbagai wilayah seperti kecamatan Marga Sekampung, Sribawono, Sekampung Udik, sebagian merupakan pelajar SMP, SMA, Mahasiswa dan pekerja yang belum menikah. Melalui tema “Suara OMK” yang didominasi pelajar, merupakan tindak lanjut dari kegiatan pengurus OMK seluruh Keuskupan Tanjungkarang provinsi Lampung pada 11-13 Mei di Pringsewu.

Agnesia Citra Anggini, salah satu anggota OMK asal Stasi Santa Maria de Fatima menyebut pelajar Katolik harus bisa kritis terhadap perkembangan zaman. Berbagai peluang dan tantangan dalam kehidupan modern sekaligus menjadi peluang dan tantangan bagi OMK yang juga generasi penerus gereja.

Melalui pertemuan Suara OMK tersebut peserta seperti dirinya bisa dibekali dengan materi dan pendidikan yang baik meski tidak diperoleh di sekolah.

“Kami bisa menjalin komunikasi dengan OMK yang sebagian pelajar usia SMP, SMA agar tetap berkomitmen menjadi pelajar Katolik dalam tantangan zaman,” terang Agnesia.

Suara OMK yang menjadi ajang berkumpul pelajar dari sebanyak tiga kecamatan tersebut sekaligus menjadi pemersatu generasi muda Katolik. Selain diisi dengan diskusi, kegiatan juga diperkaya dengan dinamika kelompok, permainan dan lagu untuk menyemangati anggota OMK sekaligus perayaan Ekaristi.

Pertemuan antar anggota OMK sekaligus mempertemukan generasi muda Katolik yang selama ini terkendala jarak di wilayah kabupaten Lampung Timur.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.