Panen Cengkih, Harga Turun Dibanding Tahun Lalu

Editor: Satmoko Budi Santoso

256

LAMPUNG – Masa panen raya cengkih perkebunan wilayah kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) pasca lebaran Idul Fitri masih dilakukan oleh sejumlah petani di beberapa kecamatan.

Sentra perkebunan cengkih di Lamsel di antaranya kecamatan Katibung, Kalianda, Bakauheni, Rajabasa, Penengahan yang berada di dataran tinggi.

Sumiem (50) salah satu petani cengkih varietas Sikotok dan Zanzibar menyebut, panen bulan Juni menjadi masa panen kelima setelah proses pemanenan dilakukan selama bulan Ramadan hingga pasca lebaran Idul Fitri.

Puncak masa panen cengkih di Lampung Selatan khususnya wilayah pesisir Rajabasa diakui Sumiem membuat harga komoditas tersebut turun. Harga masa panen tahun ini disebutnya bahkan maksimal masih berada di bawah Rp100.000 per kilogram.

Lahan perkebunan cengkih di kecamatan Bakauheni Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
Jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang sempat mencapai angka Rp140.000 per kilogram. Pada awal bulan Mei, ia menjual cengkih kering seharga Rp98.000 per kilogram dan akhir Juni harga mencapai Rp85.000 per kilogram.

“Harga cenderung turun karena sudah memasuki masa panen raya cengkih, namun penurunan harga tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang masih berada di atas angka seratus ribu per kilogram,” terang Sumiem, saat ditemui Cendana News tengah menjemur cengkih yang selesai dipetik suaminya, Sabtu (30/6/2018).

Pemilik 450 batang cengkih tersebut mengaku, sebagian tanaman cengkih miliknya merupakan tanaman baru berusia enam tahun, sebagian sudah berusia puluhan tahun.

Kondisi cuaca yang mendukung proses pembungaan disebutnya membuat produktivitas cengkih miliknya bisa maksimal hingga 30 kilogram per pohon. Setiap proses pemetikan dengan pola pemilahan buah tua, Sumiem, warga Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni tersebut, mendapatkan 5 kilogram cengkih.

Meski produksi stabil namun harga cengkih diakuinya masih belum bisa menembus angka Rp100.000 per kilogram. Dijual ke pengepul dengan harga Rp85.000 per kilogram dirinya masih bisa memperoleh Rp8,5 juta per kuintal.

Padahal tahun sebelumnya dengan harga minimal Rp100.000 per kilogram dirinya masih bisa mengantongi penjualan sebesar Rp10 juta per kuintal. Meski keuntungan lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, Sumiem menyebut, dibandingkan komoditas kakao dan pisang, cengkih masih sangat menjanjikan.

Harga cengkih yang turun tersebut, karena sebagian petani menjual cengkih jenis sikotok dan zanzibar ke pengepul. Harga bisa lebih rendah saat dibeli oleh cengkau atau perantara jual beli cengkih yang bisa berkisar Rp80.000 per kilogram.

Belum adanya program kemitraan dengan perusahaan produsen rokok membuat harga cengkih mengikuti harga pasar. Beruntung, ungkap Sumiem, di sela-sela pohon cengkih dirinya masih bisa memanen pisang dan kakao yang bisa dipanen sepanjang musim.

Anita salah satu petani cengkih melakukan proses pengeringan dengan sinar matahari [Foto: Henk Widi]
Petani lain di Desa Hargo Pancuran bernama Anita (38) menyebut, sebagian petani di wilayah tersebut mengikuti program kemitraan. Program kemitraan dengan salah satu perusahaan rokok tersebut membuat harga tetap stabil pada level Rp100.000 bahkan bisa mencapai Rp130.000 per kilogram.

Penetapan harga yang sudah disepakati antara petani dan perusahaan memberi keuntungan kedua belah pihak.

“Kualitas cengkih di lahan perkebunan kaki Gunung Rajabasa yang menghadap Selat Sunda kualitasnya bagus sehingga dipilih produsen rokok,” paparnya.

Pola kemitraan dengan bantuan bibit, disebut Anita, dilakukan dengan sistem kelompok sehingga petani mendapat jaminan serapan cengkih dengan harga pasti. Sebagai tanaman keras yang mampu bertahan hingga ratusan tahun, Anita menyebut, cengkih memberi keuntungan berlipat.

Memiliki 100 batang dengan asumsi satu pohon berbuah 30 kilogram dengan hasil 3 ton petani bisa mendapatkan hasil Rp30 juta dari hasil penjualan yang dipatok seharga Rp100.000 per kilogram.

Anita menyebut, dibandingkan dengan petani lain yang tidak menjalin kemitraan, ia memastikan bisa mendapatkan jaminan harga. Meski petani non-kemitraan menjual cengkih dengan harga di bawah Rp100.000, dirinya dan sejumlah petani yang ikut kemitraan tetap bisa menjual dengan harga minimal Rp100.000 per kilogram.

Kebutuhan akan finansial warga yang menjual cengkih ke pengepul saat mendesak membuat petani memilih tidak mengikuti program kemitraan, meski harga bisa berubah sewaktu-waktu.

“Petani yang sudah ikut program kemitraan rata-rata mendapat bibit dan perjanjiannya dilarang menjual selain ke mitra,” beber Anita.

Sebagian besar petani cengkih, disebut Anita, masih mempergunakan sistem pengeringan manual. Pengeringan manual dilakukan memanfaatkan sinar matahari dan dijemur di lapangan serta tepi jalan.

Sinar matahari yang sempurna, diakui Anita, bisa mengeringkan cengkih selama maksimal tiga hari. Harga cengkih dengan program kemitraan mencapai Rp100.000 merupakan cengkih yang sudah disortir dan dipisahkan dari cangkang serta kering sempurna.

Baca Juga
Lihat juga...