Pegiat Literasi di Lampung Tetap Sebarkan ‘Virus’ Membaca Selama Ramadan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

193

LAMPUNG — Selama ramadan sejumlah pegiat literasi di Lampung mengisi berbagai kegiatan dengan tetap melakukan tebar buku serta aktifitas berkaitan dengan pendidikan. Rudi Hartono (28) pengelola rumah baca (Rubaca) Akar Pelangi di desa Labuhan Ratu Lampung Timur mengisinya dengan safari ramadan.

Safari bertujuan mengenalkan budaya literasi bernuansa religi. Selama Ramadan fokus memperdalam ilmu agama. Kegiatan ini melibatkan 150 anak di Taman Pendidikan Alquran (TPA) di wilayah Labuhan Ratu.

Kegiatan diisi dengan lomba baca Alquran, lomba baca Iqro, lomba baca surat pendek, santunan anak yatim dan berbagi menu takjil. Safari ramadan rubaca Akar Pelangi disebutnya tetap menekankan minat baca terutama dengan membaca buku buku rohani Islam.

“Saat hari biasa anak anak bisa membaca buku di rumah baca akar pelangi dan selama Ramadan dilakukan safari untuk meningkatkan kecintaan anak dalam membaca buku termasuk buku keagamaan,” terang Rudi Hartono saat dikonfirmasi Cendana News baru baru ini.

Perkembangan gawai yang berdampak mudahnya anak mengakses internet membuat kegiatan membaca buku mulai ditinggalkan. Langkah yang dilakukan diharapkan dapat mendorong anak-anak untuk mendalami buku buku agama dan melalui kegiatan lomba baca Alquran sekaligus menjaring bibit berbakat sebagai qori maupun qoriah.

“Selain itu kegiatan pemberian santunan bisa menjadi satu bentuk kepedulian akan sesama oleh pegiat literasi di lingkungan tempat tinggal,” tambahnya.

Berbeda dengan pegiat literasi di Lampung Timur, Febrial (34) pengelola rumah baca Akar Raja Baca di desa Kuripan kecamatan Penengahan Lampung Selatan memiliki kegiatan unik.

Bagi anak anak yang memiliki waktu luang saat sore hari ia menyediakan buku bacaan di teras rumah. Sementara bagi orang dewasa dan remaja yang memiliki waktu luang ia melakukan pelatihan pembuatan tukus.

Tukus disebutnya selain bisa digunakan dalam acara resmi juga bisa untuk penutup kepala kegiatan sehari hari.

“Tukus menjadi salah satu topi tradisional berbahan kain tapis dan dibuat dengan tekhnik jahit tangan, saya melatih remaja dan ibu rumah tangga membuat tukus selama Ramadan,” terang Febrial.

Sebagai pengelola rumah baca ia menyebut pengaplikasian kegiatan membaca salah satunya untuk berkreasi. Kreasi tersebut salah satunya membuat topi tradisional bernuansa etnik Lampung dan bisa dijual seharga Rp75.000 per buah.

Hasil penjualan tukus yang telah dibuat oleh anak anak dan remaja serta ibu rumah tangga bisa menjadi sumber penghasilan. Febrial bahkan telah menjual ratusan tukus dengan hasil penjualan sebagian dipergunakan untuk membeli buku pelengkap di rumah baca Akar Raja Baca.

Mengisi kegiatan ramadan juga dilakukan oleh Ardi Yanto (40) pegiat literasi motor perahu pustaka asal desa Kelawi kecamatan Bakauheni, bahkan melakukan tebar buku mengisi waktu berbuka puasa di Menara Siger.

Pegiat literasi motor perahu pustaka tersebut menyebut dengan menggunakan motor perpustakaan ia menggelar buku di beberapa tempat.

Ardi Yanto
Ardi Yanto, pegiat literasi motor perahu pustaka yang menggelar buku di Menara Siger dalam kegiatan ngabubookread [Foto: Ist/Henk Widi]
Selain di beberapa dusun, selama Ramadan Menara Siger menjadi salah satu lokasi untuk menebar buku. Tempat tersebut dipilih karena kerap dipergunakan untuk berkumpul anak anak saat sore. Sebagian anak yang rata rata diajak oleh orangtua bahkan bisa membaca ratusan jenis buku didominasi buku bergambar.

“Sudah hampir dua tahun Setiap ramadan saya menggelar buku di Menara Siger agar anak bisa membaca buku,” papar Ardi Yanto.

Ardi Yanto memastikan kegiatan membudayakan baca buku menjadi sebuah kegiatan positif. Selama ramadan ia bahkan menyebut buku buku bernuansa religi Islam lebih banyak dibawa ditambah dengan buku bergambar bagi anak anak. Kegiatan gelar buku di Menara Siger menurut Ardi Yanto selama ramadan justru mendapat respon positif. Sebab pengunjung yang membawa serta anaknya bisa menikmati suasana sore di Menara Siger sambil membaca buku.

Lihat juga...

Isi komentar yuk