Pelaku Pemerkosaan Wisman Bukan Anggota HPI Mabar

Editor: Koko Triarko

253
Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Provinsi NTT, Abed Frans. -Foto: Ebed de Rosary
LABUAN BAJO – Pelaku pemerkosaan wisatawan asing asal Perancis yang dilakukan oleh oknum yang menjadi pemandu wsiaatawan bernisial A, bukan merupakan anggota Himpunan Pramuwisata Indonesia (DPC HPI) kabupaten Manggarai Barat (Mabar).
“Pelaku tersebut bukan anggota DPC HPI Manggarai Barat, dan kami sangat mengutuk keras tindakan pelaku pemerkosaan tersebut, seperti yang telah diberitakan media massa,” tegas Sebastian Pandeng, Ketua DPC HPI Manggarai Barat, Senin (25/6/2018).
Menurut Sebastian, pihaknya sangat mendukung dan mendorong Polres Manggarai Barat untuk mengusut tuntas kasus  pelecehan seksual terhadap wisatawan asal Perancis tersebut sesuai aturan hukum yang berlaku.
“Kami juga mendukung dan mendorong pemerintah kabupaten Manggarai Barat, agar segera melakukan penertiban legalitas terhadap tour  guide, tour agent, asosiasi boat wisata, asosiasi dive yang masuk dan beraktivitas di destinasi wisata Manggarai Barat,” sebutnya.
DPC HPI Manggarai Barat, tandas Sebastian, juga mendukung dan mendorong pemerintah kabupaten Manggarai Barat dan pelaku wisata lainnya, agar bersama-sama mengimbau wisatawan yang masuk dan beraktivitas di destinasi wisata Manggarai Barat, harus didampingi tour guide legal.
“DPC HPI Manggarai Barat sangat mendukung kebijakan pemerintah dalam menciptakan Tiga Ramah, yakni Ramah Wisatawan, Ramah Masyarakat dan Ramah Lingkungan di destinasi wisata Manggarai Barat yang lebih baik ke depannya,” ungkapnya.
Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Nusa Tenggara Timur (NTT), Abed Frans, juga turut mengecam keras kasus pemerkosaan tersebut yang terjadi di Labuan Bajo, yang merupakan salah satu destinasi unggulan di provinsi NTT maupun di Indonesia.
“Pemerintah kabupaten dan HPI  Manggarai Barat harus memiliki kewajiban untuk memberikan jaminan, bahwa pemandu wisata yang bertugas di Labuan Bajo mengantongi sertifikat resmi dari pemerintah, atau lembaga resmi seperti Himpunan Pariwisata Indoensia (HPI),” tegasnya.
Dikatakan Abed, pelayanan ASITA sebagai operator tur juga tergantung dari kinerja pemandu wisata yang dipilih untuk melayani wisatawan di lapangan. Dirinya berharap, ke depan kasus pemerkosaan turis asing, maupun kasus kriminal lainnya tidak terulang lagi, karena akan memunculkan dampak buruk bagi dunia wisata.
Baca Juga
Lihat juga...