Permainan Anak-anak di Malam 27 Ramadan

Editor: Satmoko

482

PESISIR SELATAN – Malam 27 Ramadan ternyata tidak hanya disebut dengan datangnya malam lailatul qadar. Tapi, bagi anak-anak di Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, memiliki permainan khas.

Permainan yang dilakukan yakni membakar lilin kecil di halaman rumah. Permainan ini memang sudah lama dilakukan anak-anak di Sutera.

Selain aman untuk dilakukan anak-anak, permainan ini punya daya pikat di kalangan  anak-anak yang melakukan permainan tersebut. Misalnya, di saat membakar lilin, ada berbagai obrolan yang terucap dari mulut anak-anak tersebut.

Seperti yang dikatakan oleh Ihsan, murid kelas IV SD ini, lilin yang dibelinya sekotak dalam ukuran kecil itu harganya Rp500. Lilin itu dibakar dan dipasang di tempat- tempat yang menarik seperti di halaman rumah yang ada batu atau di atas tempurung kelapa.

Anak – anak tengah bermain bakar lilin di halaman rumah yang bertepatan pada malam 27 Ramadan/Foto: M. Noli Hendra

“Senang sekali bakar-bakar lilin, setelah dibakar kalau dilihat seperti barisan bintang di langit,” katanya, Minggu (10/6/2018).

Permainan anak-anak pada malam 27 Ramadan ini, bisa dikatakan dilakukan bagi seluruh anak-anak di Sutera. Permainan ini tentunya mendapatkan pengawasan dari kedua orangtua.

Persoalan kenapa permainan ini adanya di malam 27 Ramadan, karena bentuk kegembiraan anak-anak datang di malam yang sebagian orang mengenalnya sebagai malam lailatul qadar.

Marlis tokoh masyarakat di Surantih, mengatakan, di usianya yang kini mencapai 70 tahun, di waktu kecilnya dulu juga telah melakukan permainan bakar lilin tersebut.

“Bagi kami ketika anak-anak dulu, bermain bakar lilin adalah bentuk kegembiraan kami dengan adanya bulan Ramadan,” ujarnya.

Menurutnya, kalau bicara makna bermain bakar lilin di malam 27 Ramadan ini, bukanlah sebuah budaya, tapi merupakan kesenangan anak-anak saja. Dari cerita kesenangan itu, menjadi cerita turun-temurun antargenerasi.

“Biasanya di momen bakar lilin itu, kami cerita tentang kisah-kisah nabi. Dulu  masa mengaji di surau juga telah mendengar cerita soal nabi dari ustad. Kami jadi suka sama kisah nabi dan rasul,” jelasnya.

Namun, kata Marlis, bermain bakar lilin di malam 27 Ramadan ini, tidak hanya di sekitar rumah, tapi juga bisa melakukan pembakaran lilin di tempat khusus, yang bentuknya bisa dibuat susunan lafaz Allah.

“Dulu listrik belum ada, jadi penerangan waktu itu ya lampu minyak dan lilin. Maka bakar lilin waktu dulu begitu banyak anak-anak yang melakukan,” sebutnya.

Terkadang, kalau dilihat dari kejauhan dengan adanya lilin itu, desa di malam hari sungguh menjadi indah. Mendatangkan sensasi kegembiraan tersendiri.

Baca Juga
Lihat juga...