Pernikahan Dini Penyebab Tingginya Angka Kematian Ibu-Bayi di NTB

Editor: Koko Triarko

291
-Foto: Kepala Dikes NTB, Marjito/Foto: Turmuzi
MATARAM – Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat, mengklaim angka kematian ibu dan bayi setiap tahun mengalami penurunan, meskipun saat ini masih tergolong masih tinggi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik NTB, angka kematian selama 2017 mencapai 929 kasus, dengan proporsi 9.0 per 1.000 kelahiran hidup. Angka tersebut menurun lebih kecil dibandingkan 2016 sebanyak 1.006 kasus, dengan proporsi 9.86 per 1.000 kelahiran hidup.
“Kasus kematian bayi di NTB ada penurunan setiap tahun, meski angka yang ada sekarang ini masih tinggi”, kata Kepala Dikes NTB, Marjito, di Mataram, Jum’at (8/6/2018).
Dikatakan, salah satu penyebab paling dominan kematian bayi di NTB adalah masih tingginya angka pernikahan usia anak, dengan usia 19 tahun ke bawah, sehingga mempengaruhi kesehatan reproduksi.
Menurutnya, jumlah kematian bayi tertinggi pada 2017 ada di Kabupaten Lombok Timur, yakni mencapai 346 kasus, dan terendah ada di kabupaten Sumbawa Barat dengan 17 kasus.
“Sementara untuk kematian ibu mengalami penurunan. Dari jumlah 92 kasus pada 2016 dengan proporsi 93,2 per 1.000 kelahiran hidup, menjadi 85 kasus pada 2017” katanya.
Sebelumnya, Ketua PKK NTB, Hj. Erica, juga menyebutkan, bahwa salah satu penyebab terjadinya kematian bayi dan ibu melahirkan di NTB adalah masih tingginya kasus pernikahan dini atau usia anak.
Pernikahan perempuan pada usia tersebut dampaknya kurang baik, terutama bagi kesehatan reproduksi saat hamil maupun pascamelahirkan. Kondisi inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya kematian pada bayi dan ibu melahirkan.
Sebagai upaya menekan angka kematian bayi dan ibu melahirkan, Pemda NTB gencar mengkampanyekan mencegah pernikahan usia anak, melalui program Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP), dengan menggandeng para aktivis dan pegiat perempuan dan anak, baik melalui sosialisasi, pemberdayaan dan mendorong kebijakan.
Baca Juga
Lihat juga...