Prepekan, Pedagang Musiman Tumpah Ruah di Pasar Bakauheni

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

519

LAMPUNG — Tradisi melakukan kegiatan belanja sehari sebelum lebaran yang di wilayah Lampung yang dikenal dengan Prepekan masih tetap dilestarikan warga setempat. Terlihat sejumlah pasar tradisional di Lampung Selatan terlihat ramai. Pasar Bakauheni salah satunya, ramainya pembeli berdampak kepada akses jalan sempat mengalami kemacetan sejak pagi.

Soleh, salah satu petugas parkir dari Dinas Perhubungan kabupaten Lampung Selatan menyebut tradisi prepekan membuat pedagang musiman juga ikut berjualan. Tercatat sekitar puluhan pedagang memanfaatkan momen keramaian yang didominasi pedagang kulit ketupat, pedagang daging sapi, kambing, bunga tabur untuk nyekar.

“Setiap hari, ratusan pedagang berjualan di area dalam, namun sejak sore kemarin trotoar di sekitar pasar dimanfaatkan untuk berjualan terutama pedagang musiman yang tidak memiliki lapak,” terang Soleh kepada Cendana News di pasar Bakauheni, Kamis (14/6/2018).

Soleh memastikan ada kenaikan jumlah pembeli dibandingkan hari biasa. Warga yang kebanyakan wajah wajah baru diduga merupakan para perantau yang pulang ke kampung halaman saat lebaran.

prepekan
Pedagang daging musiman memenuhi sepanjang trotoar pasar Bakauheni [Foto: Henk Widi]
Sanjaya, salah satu pedagang daging musiman mengaku sengaja berjualan saat prepekan karena tingginya permintaan. Sebagai pedagang musiman, ia menjual daging sapi dan kambing yang dibeli dari tukang jagal.

Permintaan yang tinggi akan daging sapi membuat harga semula Rp110.000 per kilogram naik menjadi Rp130.000 per kilogram. Meski harga naik ia memastikan stok daging sebanyak 100 kilogram habis terjual.

“Saya dan pedagang musiman sudah membuat lapak sejak tiga hari sebelumnya karena dua hari sebelum lebaran banyak warga yang sudah berbelanja,” papar Sanjaya.

Tradisi prepekan yang meningkatkan volume penjual dan pembeli tersebut membuat sejumlah warga memilih menjadi pedagang musiman. Sanjaya yang pada hari biasa bekerja sebagai tukang ojek mengaku diberi kepercayaan untuk menjual daging milik bos penjual daging.

Perkilogram daging sapi yang terjual ia menyebut mendapat bagian sekitar Rp25.000 dan dengan penjualan sekitar 100 kilogram saja ia bisa memperoleh keuntungan sekitar Rp2,5 juta. Hasil tersebut merupakan bagian dari total Rp13 juta hasil penjualan.

Wasiem, salah satu warga yang memanfaatkan momen prepekan dengan menjual kulit ketupat sebanyak 1.000 buah. Ia menyiapkan sebanyak 100 ikat yang dijualnya masing-masing seharga Rp6.000 yang berisi 10 kulit ketupat.

Sebanyak 1.000 kulit ketupat yang dijual dapat memberinya penghasilan Rp600 ribu. Hasil yang lumayan dipergunakannya untuk kebutuhan selama lebaran termasuk membeli lauk daging untuk keluarganya.

Selain Wasiem penjual kulit ketupat, tradisi prepekan juga memberi keuntungan penjual bunga untuk menyekar makam. Sumini, penjual bunga untuk nyekar menyiapkan sekitar 100 bungkus bunga dengan harga Rp5.000 per kantong plastik.

Sebanyak Rp500ribu berhasil dikumpulkan dari penjualan bunga tersebut.

Salah satu pembeli, Aisah, menyebut selain membeli kebutuhan dapur untuk hari raya Idul Fitri juga membeli kebutuhan perabotan rumah tangga. Barang yang dibeli bertepatan dengan momen prepekan di antaranya kipas angin, toples kue serta kebutuhan lain.

Keramaian pasar saat prepekan diakuinya sangat terlihat dibandingkan hari biasa karena saat prepekan sejumlah pedagang musiman marak di pasar tradisional Bakauheni.

Baca Juga
Lihat juga...