Puja Mandala Simbol Toleransi di Nusa Dua Bali

Editor: Koko Triarko

408
DENPASAR – Bagi wisatawan di Bali yang mengunjungi kawasan Nusa dan sekitarnya, pasti tak asing dengan kompleks peribadatan Puja Mandala. Letaknya yang berada di pelataran bukit kampial Nusa Dua, Kuta Selatan, Badung, ini menjadi miniatur toleransi antarumat beragama, karena memiliki lima tempat ibadah, yaitu Masjid, Pura, Vihara, dan Gereja Katolik dan Gereja Protestan.
Bagi umat muslim, tentu Masjid Agung Ibnu Batutah menjadi tujuan utamanya. Selain digunakan untuk peribadatan, masjid ini juga dijadikan sebagai tempat wisata religi, karena memiliki sejarah yang cukup menarik. Salah satunya, karena masjid ini berdekatan dengan empat tempat ibadah agama lainnya.
Namun, tidak banyak orang tahu jika masjid di kawasan Nusa Dua Bali, ini pertama kali dibangun di era Presiden RI, HM Soeharto, pada 1997.
HM Taufik Ashadi, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali, dan tokoh senior di Bali, saat ditemui di Denpasar, Jumat (1/6/2018). -Foto: Sultan Anshori.
“Ketika itu, ada rencana proyek Nusa Dua di bawah naungan Bali Tourism Development Corporation (BTDC), sebagai bagian dan rencana induk pengembangan Pariwisata Bali”, kata salah satu tokoh Bali, HM. Taufik Ashadi, saat ditemui di Denpasar, Jumat, (1/6/2018).
Menurutnya, proyek itu merupakan pembangunan suatu kawasan pariwisata, dengan pemukiman wisatawan secara terpusat, yang jauh dari pusat kehidupan sehari-hari masyarakat Bali pada umumnya.
Sebab itu, katanya, selain rencana pembangunan kompleks kawasan wisata, juga harus dibarengi dengan dibangunnya tempat-tempat ibadah, agar pengaruh langsung para wisatawan, khususnya pengaruh negatif akan dapat diminimalisir.
Pria yang juga sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali, ini lebih jauh menceritakan, dengan rencana tersebut, pihak BNDCC memanggil beberapa pemuka dari kelima agama, untuk membicarakan rencana pembangunan kompleks peribadatan.
Pihak BNDCC hanya sebatas menyediakan (lahan yang diberikan pihak BNDCC yang saat ini menjadi lokasi Puja Mandala) lahan, tetapi pembangunannya diserahkan kepada jemaat masing-masing agama untuk bahu-membahu membangunnya secara mandiri.
“Nah, dari pihak kita (muslim) sendiri, atas arahan Bapak Menteri Pariwisata saat itu, Joop Ave, yang sebelumnya menjabat sebagai komisanis BTDC mengajak H. Usman Shir Muhammad selaku Ketua umum MUI Bali, kala itu, serta beberapa orang untuk pergi ke Jakarta, dengan tujuan dipertemukan ke pihak Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila (YAMP) yang didirikan Pak Harto. Dari pertemuan singkat itu, pihak Cendana menyetujui”, kata mantan Ketua Umum HMI cabang Denpasar ini.
Namun, lanjut Taufik, karena ada keinginan kuat dari beberapa pengusaha Jakarta untuk ikut serta berpartisipasi terkait rencana pembangunan Masjid Ibnu Batutah itu, akhirnya juga dibuka donasi. Setelah dana terkumpul, masjid kemudian dibangun dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 1997.
Kompleks Peribadatan Puja Mandala di Nusa Dua, Bali. -Foto: Sultan Anshori
“Almarhum Pak Harto sendiri yang mengesahkan, didampingi oleh pejabat daerah, seperti Gubernur Bali, kala itu, Ida Bagus Oka, dan pejabat serta tokoh masyarakat lainnya”, jelas pria yang juga teman akrab almarhum Cak Nurkholis Madjid, ini.
Selain membangun Masjid Agung Ibnu Batutah di Badung, Pak Harto juga membantu proses pembangunan masjid-masjid lain yang tersebar di Bali, seperti di Buleleng, Jembrana dan Karangasem.
Menurutnya, Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila (YAMP) yang didirikan oleh HM Soeharto tersebut sangat bermanfaat bagi masyarakat muslim, terutama yang ada di Bali. Ia berharap, Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila (YAMP) terus aktif dalam membantu serta melayani masyarakat muslim di Bali.
“Saya melihat, almarhum Soeharto konsisten sebagai pemimpin yang benar-benar melayani rakyatnya. Dengan dibangunnya beberapa masjid tersebut, bagian komitmen beliau untuk melayani masyarakat, khususnya masyarakat muslim di Bali. Ini yang saya rasa tidak didapatkan dari para pemimpin saat ini”, kata Taufik.
Selain membangun masjid, lanjut Taufik, kala itu Pak Harto juga aktif memfasilitasi hubungan antarumat di Bali, sehingga terjalin masyarakat yang majemuk. Salah satunya dengan membuat aktivitas perekonomian, melalui dibentuknya Bank Muamalah. Bank ini juga diperuntukkan tidak hanya untuk umat muslim di Bali, melainkan untuk semua umat yang berada di pulau berjuluk Seribu Pura ini.
Baca Juga
Lihat juga...