Puluhan Pengepul Ayam Aksi Turun Jalan

Editor: Satmoko

329

SOLO – Puluhan pengepul ayam di Solo Raya menggelar aksi unjuk rasa di depan Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah. Mereka memprotes tingginya harga ayam di tingkat penyedia sehingga menyulitkan pedagang di tingkat eceran.

Perwakilan pengepul ayam di Solo Ari Sugeng mengatakan, harga ayam saat ini membuat pengepul hingga tingkat pengecer sulit untuk bertahan. Sebab, disamping harganya yang melejit, stok barang yang ada juga semakin sulit.

“Pengepul pun menjadi sulit mendapatkan stok. Dalam sehari terkadang tak dapat barang,” ucapnya kepada Cendana News, Sabtu (9/6/2018).

Di tingkat pengepul, harga ayam hidup saat ini mencapai Rp 23.500. Harga ini terlampau tinggi jika dibandingkan harga normal yang kisaran Rp 17.000-18.000 per kg. Sebab, dengan tingginya harga ayam hidup di tingkat pengepul ini membuat harga daging ayam di pengecer melonjak hingga Rp 38.000 per kg.

Ari Sugeng Perwakilan Pengepul Ayam di Solo Foto Harun Alrosid

“Harga Rp 23 ribu per kg ayam hidup ini sebenarnya bisa dijual saat Lebaran saja. Lha ini selama 2 bulan harga ayam tinggi terus. Pedagang yang kesulitan,” keluh dia.

Dijelaskan, proses penjualan ayam memang harus melalui beberapa rantai pasokan. Mulai dari peternak yang dikelola oleh PT baru dibeli oleh broker. Dari broker inilah pengepul baru mengambil ayam hidup untuk bisa di jual di tingkat pengecer.

“Di pengecer ini kita hanya mengambil keuntungan seribu rupiah per kg ayam hidup. Itupun keuntungan kotor, masih harus dikurangi biaya cabut bulu dan lain-lain,” urainya.

Dalam sehari, Sugeng menjelaskan, satu pengepul rata-rata bisa menjual ayam 1 – 2 ton per hari. Namun kondisi harga yang tinggi membuat pengepul kesulitan untuk mendapatkan stok ayam yang cukup. “Tingginya harga ini membuat pedagang sulit menjual. Stok ayam juga sulit dan menipis,” akunya.

Dalam aksi yang diikuti lebih dari 50 pengepul di Solo dan sekitarnya ini meminta pemerintah turun tangan dalam mengendalikan harga. Sebab, jika dibiarkan terus menerus akan berdampak buruk dan menyebabkan inflasi. “Artinya kami minta harga di tingkat PT ini biar bisa lebih wajar. Kalau harga Lebaran diterapkan jauh sebelum Lebaran jelas menyengsarakan masyarakat,” tandasnya.

Sejumlah pengepul juga mengaku tak mendapatkan ayam sebagai dampak tingginya harga di tingkat PT. “Sehari ini tidak dapat barang sama sekali. Kadang kita cari dari habis Subuh hingga siang baru dapat ayam, jumlahnya tak seberapa,” tambah Sarno pengepul asal Boyolali.

Baca Juga
Lihat juga...