Rahasia tentang Melani

CERPEN LUHUR SATYA PAMBUDI

431

BARANGKALI ada beberapa hal yang mestinya tetap tersimpan rapat dan jangan sekali pun dibuka dengan alasan apa saja, termasuk rahasia dalam satu keluarga.

Namun, Bramantyo merupakan lelaki yang memegang teguh sebuah prinsip: kebenaran harus diungkapkan, kendati terkadang pahit akibatnya.

Ia konsisten menjaga idealisme itu dalam hidupnya. Lantas, menjelmalah sesuatu tak terduga bagi Bramantyo dan Imani, istrinya, tepatnya sesudah mereka memberitahu riwayat sesungguhnya kepada Melani, putri tunggal mereka.

Memang dampaknya tidak seketika itu juga menerpa, tapi akhirnya mereka kehilangan sesuatu yang begitu berharga. Risiko yang harus mereka tanggung sendiri.

Bramantyo dan Imani memiliki asumsi bahwa Melani sudah dewasa dan layak mengetahui sebuah fakta yang selama ini disembunyikan dari sang putri. Lelaki berusia 58 tahun itu berhati-hati mengatakannya agar Melani bisa menerimanya dengan lapang dada.

“Melani, ada hal penting yang harus kami beritahukan padamu. Tampaknya sekarang sudah tepat waktunya, tapi Bapak minta kau persiapkan mentalmu lebih dulu agar tidak terlalu terkejut nanti.”

“Apa sih yang akan Bapak katakan? Saya siap saja kok, apa pun itu.”

“Baiklah. Sebenarnya… Kau bukan anak kandung kami, Nak.”

“Hah, apa saya tidak salah dengar?”

“Tidak, Nak. Memang begitulah kebenarannya.”

“Lantas, siapa sebetulnya orangtua kandung saya? Apakah Bapak dan Ibu mengenalnya? Tinggal di mana mereka sekarang?” tanya Melani yang jelas tercengang bukan kepalang. Serta-merta diajukannya sejumlah pertanyaan sekaligus dengan mata berkaca-kaca.

“Iya, kami mengenal mereka, bahkan kau pernah bertemu mereka. Kau tahu Paklik Mustajab kan, sepupu jauh Bapak yang tinggal di desa terpencil itu? Dialah ayah kandungmu.”

“Hah, jadi saya anak Lik Mus?”

“Meski kau sudah tahu kenyataannya, kau tetap anak kesayangan kami berdua, Melani. Jangan ada yang berubah, ya.”

Melani bergeming belaka. Ia masih terpaku lantaran tak mengira, sepasang orangtua yang tinggal bersamanya bukanlah orangtua kandungnya. Gadis itu belum lama merayakan usianya yang ke-25, tatkala lelaki yang senantiasa dipanggilnya Bapak mengatakan fakta yang baru diketahuinya.

Bramantyo berharap tidak ada yang berubah, tapi segala sesuatu tentang si putri semata wayang ternyata tak pernah sama lagi. Melani mulai berbeda sikapnya terhadap orang-orang yang selama ini serumah dengannya. Hingga suatu ketika ia mencetuskan pernyataan yang begitu mengejutkan.

“Tolong, izinkan saya tinggal bersama keluarga Lik Mus. Saya ingin berbakti pada orangtua kandung saya. Rasanya sudah cukup lama saya hidup dengan orangtua angkat saya.”

Kata-kata Melani sungguh menusuk hati Bramantyo dan istrinya.

“Kenapa kau harus pergi, Nak? Apakah selama ini sesungguhnya kau tak bahagia hidup bersama kami?” tanya Imani sendu.

“Saya bahagia hidup bersama Ibu dan Bapak. Tapi, saya merasa tak enak hati karena hidup nyaman di sini, sedangkan orangtua kandung saya dan keluarganya hidup susah di sana.”

“Apa yang bisa kau lakukan di sana untuk membantu mereka?” tanya Bramantyo.

“Saya akan memberikan sebagian besar harta saya untuk mereka, baik itu pemberian Bapak dan Ibu maupun hasil pekerjaan saya selama dua tahun terakhir ini.”

“Tapi, bukankah kau bisa tetap tinggal di sini dan sesekali saja mengunjungi mereka?” usul Imani, yang tentu tak ingin Melani pergi begitu saja.

“Maaf, Bu. Saya ingin tinggal bersama keluarga sejati saya. Saya ingin merasakan hidup memiliki kakak, tak hanya seorang diri menjadi anak.”

“Bagaimana jika keluarga sejatimu tak mau menerima kehadiranmu?” ucap Imani.

“Saya yakin, mereka tak akan menolak saya.”

“Jika begitu maumu, kami tak mungkin menolaknya,” kata Bramantyo pahit.

Sesungguhnya Melani memilih pergi karena alasan lain. Ia merasa sakit hati lantaran tak pernah diberitahu bahwa dia sebatas anak angkat. Ia seakan hidup dalam kebohongan besar bersama orang-orang yang disayanginya. Namun, ia tak pernah mengungkapkan alasan itu.

***
“KENAPA sih Mas Bram mesti mengatakan kenyataan itu pada Melani?” gugat Imani.

“Bukankah kita pernah berjanji menyatakan kebenaran itu? Apakah kau sudah lupa?” kata Bramantyo sesudah Melani menyatakan niatnya untuk pergi, lalu beranjak dari mereka berdua.

“Saya ingat, tapi mungkin seharusnya Melani belum boleh mengetahui rahasia itu. Lihat saja hasilnya, dia justru akan pergi meninggalkan kita. Padahal kitalah yang mengasuhnya sedari kecil dan terus menyayanginya hingga dia dewasa kini.”

Baca Juga

“Iya, Dik. Kita seperti salah momentum. Tapi, mau bagaimana lagi ketika dia sudah mengetahui kenyataannya dan justru memutuskan kembali ke orangtua kandungnya?”

Bramantyo dan Imani lantas mengenang masa silam, tepatnya ketika mereka mengambil anak kelima Mustajab untuk dijadikan anak angkat mereka. Sepupu jauh Bramantyo itu hidup dalam keterbatasan ekonomi di sebuah desa yang jauh dari kota.

Semula tidak pernah ada niat mengangkat anak dari kerabat sendiri, hingga sepasang suami istri tersebut bertemu dengan Mustajab di rumah orangtua Bramantyo yang tinggal satu desa.

Mustajab mengunjungi rumah pamannya setelah mengetahui kehadiran kerabatnya dari kota. Ayah Bramantyo -selaku tuan rumah- tengah pergi bersama istrinya ketika Mustajab datang ke tempat tinggalnya.

“Saya dengar, istri Dik Mus sedang hamil lagi, ya?” tanya Bramantyo yang ditemani Imani duduk di ruang tamu bersama Mustajab.

“Betul, Mas Bram. Dia sedang hamil anak kelima kami.”

“Wow, betapa bahagianya Dik Mus berdua, sudah punya anak empat, masih mau tambah lagi sekarang,” ucap Imani spontan.

“Iya, Mbak Ima. Alhamdulillah, meski hidup kami amat sederhana, tapi masih saja dikaruniai keturunan,” sahut Mustajab.

“Maaf, Dik Mus. Saya mau bicara berdua dengan Mas Bram sebentar,” kata Imani seraya tiba-tiba mengajak suaminya bergerak menjauh dari tempat duduk Mustajab.

“Ada apa, Dik?” tanya Bramantyo yang belum mengerti maksud istrinya.

“Mas, bagaimana kalau kita minta anak kelima Dik Mustajab sebagai anak angkat kita?” tanya Imani dengan suara lirih.

“Hah, apa kau serius? Kenapa tiba-tiba kau punya ide seperti itu?”

“Iya, Mas. Bukankah kita memang pernah berencana untuk mengangkat anak? Sepertinya bukan kebetulan kita di sini, sementara ada kerabat yang hidupnya susah dan mau punya anak lagi. Kita bisa sekaligus menolong keluarga Dik Mus, jika kita menjadikan anaknya sebagai anak kita.”

“Baiklah. Mari kita bicarakan dengan Dik Mus sekarang.”

Bramantyo dan Imani kemudian kembali ke tempat duduknya.

“Maaf, tadi kami tinggalkan Dik Mus sejenak. Barangkali Dik Mus sudah tahu bahwa kami berdua sudah delapan tahun menikah dan belum juga dikaruniai keturunan.”

“Iya, Mas Bram. Saya tahu dan turut prihatin.”

“Nah, Dik Mustajab kan selama ini sudah punya empat anak dan bahkan akan memiliki anak kelima sebentar lagi.”

“Iya, lalu maksud Mas Bram?”

“Bagaimana seandainya saya dan Imani menjadikan anak kelima Dik Mus sebagai anak angkat kami? Moga-moga Dik Mus tidak tersinggung, tapi maksud kami baik.”

“Waduh, saya tidak bisa jawab sekarang. Saya harus bicara dengan istri saya. Tapi, terus terang saya memang sedang pusing, bagaimana membiayai kelahiran anak kelima kami, apalagi untuk mengurus masa depannya nanti. Bahkan kedatangan saya ke mari sebenarnya berharap mendapat bantuan dari Mas Bram.”

“Tentu Dik Mus harus membicarakannya baik-baik dengan sang istri. Kami akan menunggu jawabannya selama masih di sini,” ujar Bram.

“Tolong, niat kami dipertimbangkan benar ya, Dik. Saya sudah rindu sekali bisa merasakan kebahagiaan sebagai seorang ibu. Kami berdua jelas akan menyayanginya sepenuh hati dan membesarkan dia sebaik-baiknya,” kata Imani menambahkan ucapan suaminya.

Mustajab pulang membawa sesuatu yang barangkali mampu menjadi solusi dalam masalah rumah tangganya yang tengah bersiap menyambut kehadiran warga baru. Istri Mustajab semula keberatan. Namun, ia akhirnya bersedia melepas anak kelimanya diasuh Bramantyo dan istrinya.

Mustajab berhasil meyakinkannya. Perempuan itu selama ini sudah mengenali mereka sebagai orang baik, yang saban datang ke desa kerap memberi bantuan atau sekadar buah tangan untuk keluarganya.

Mustajab dan istrinya pun percaya anak bungsu mereka bakal bernasib lebih baik ketimbang kakak-kakaknya. Setelah mendapat tanggapan positif, Bramantyo dan Imani pulang ke kota dengan membawa harapan baru.

Dua bulan kemudian, Bramantyo berdua datang lagi ke desa untuk menjemput sang buah hati. Mereka ikut berdebar-debar ketika menunggui kelahiran calon anak mereka. Lantas, ada sesuatu yang berbeda dan terasa istimewa tatkala mereka pulang ke tempat tinggalnya di kota dengan membawa bayi perempuan yang diberi nama Melani.

Sejak saat itu terbitlah kebahagiaan baru yang terus bertambah tahun demi tahun berjalan. Namun, kini kembali berdua belaka Bramantyo dan Imani menempati sebuah rumah tanpa seorang putri yang sudah bersama mereka selama lebih dari seperempat abad. Mereka sekadar mendapat kabar bahwa sesudah sempat tinggal bersama keluarga Mustajab di desa selama beberapa bulan, Melani kemudian mengikuti kakak sulungnya yang ternyata telah hidup sejahtera sebagai pengusaha di ibu kota.

Bramantyo dan Imani masih berharap, suatu masa nanti Melani bersedia menemui mereka lagi, sebatas menjenguk sejenak pun tak mengapa. Mereka percaya bahwa Melani tak akan melupakan kasih sayang mereka begitu saja dan masih memiliki kerinduan untuk menjumpai orangtua angkatnya kembali. ***

Luhur Satya Pambudi, lahir di Jakarta dan tinggal di Yogyakarta. Cerpennya pernah dimuat di Tribun Jabar, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, basabasi.co, dan sejumlah media massa lainnya. Kumpulan cerpen perdananya berjudul Perempuan yang Wajahnya Mirip Aku (Pustaka Puitika).

Redaksi menerima kiriman cerpen. Tema bebas yang pasti tidak SARA. Naskah cerpen orisinil, belum pernah tayang di media lain dan juga belum pernah dimuat di buku. Kirimkan karya beserta biodata dan nomor ponsel ke editorcendana@gmail.com Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan

 

 

Baca Juga
Lihat juga...