Ratusan Sapi Turut Meriahkan Bakdo Kupat di Boyolali

267
Kirab Sapi, ilustrasi -Dok: CDN
BOYOLALI – Ratusan ekor sapi ternak milik warga di lereng Gunung Merapi, Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah,  diarak keliling kampung untuk merayakan Syawalan, yang dikenal dengan “bakdo kupat”, Jumat (22/6/2018).
Warga yang mengeluarkan ternaknya dari kandangnya dengan dikalungi ketupat, mengarak keliling kampung merupakan bagian dari kegiatan tradisi syawalan yang digelar masyarakat di lereng Gunung Merapi setiap tahun, sepekan sehabis Lebaran.
Tradisi masyarakat yang sudah berlangsung turun-temurun sejak zaman nenek moyang tersebut, diawali dengan doa bersama dengan membawa makanan dari rumah berupa ketupat sayur, bersama lauk pauknya serta satu gunungan berupa hasil bumi dan tumpeng ketupat untuk diarak keliling kampung bersama ternaknya.
Hadi Suwarno (65), sesepuh warga Desa Sruni, mengatakan, perayaan syawalan digelar setiap tahun tujuh hari setelah Lebaran. Masyarakat setempat menyebut bakdo kupat dan bakdo sapi. Artinya, hewan ternak pada bakdo kupat ini, dimanjakan oleh pemiliknya dengan diberikan makan ketupat sebelum diarak keliling kampung.
Menurut Suwarno, ternak sapi dimanjakan sebagai tanda bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rezeki melalui hasil ternak sapi ini, berupa susu segar. Dari hasil produksi susu sapi ini, keluarga dapat makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga sekarang.
“Semua warga mengeluarkan ternak sapi untuk diarak keliling kampung. Jumlah ternak sapi sekitar 500 ekor yang keliling kampung. Setelah diarak, sapi kemudian dimandikan untuk dikembalikan ke kandangnya,” kata Suwarto.
Kegiatan syawalan dengan mengarak ternak sapi tersebut, menjadikan Desa Sruni yang terletak di lereng Gunung Merapi di sisi utara tersebut yang sepi menjadi meriah. Semua warga keluar rumah melihat langsung kegiatan ternak sapi yang dibawa keliling kampung pemiliknya itu.
“Trasidi syawalan dengan menggembala hewan ternak keliling kampung ini, merupakan tinggalan dari nenek moyang, dan kini terus kami budayakan dan lestarikan,”kata Suwarno.
Tradisi tersebut, kata dia, sebagai wujud syukur kepada Tuhan YME atas rezeki yang diberikan melimpah melalui ternak sapi. Warga juga berdoa bersama memohon kepada Tuhan, agar hewan-hewan ternak yang dipelihara dapat berkembang biak dengan baik.
Ajik ,salah satu warga Desa Sruni, mengaku keempat ekor ternak sapinya telah diberikan makan ketupat dan rumput gajah hingga kenyang, dan sapi-sapi kemudian dikeluarkan dari kandang untuk diarak keliling kampung.
Ternak setelah dimandikan kemudian dikembalikan ke kandangnya. “Hal ini, sudah menjadi tradisi dari leluhur yang masih terus dilestarikan oleh masyarakat hingga sekarang,” kata Ajik.
Selain itu, masyarakat Desa Sruni yang mayoritas produksi dari hasil ternak seperti susu sapi dan petani sayuran, juga sebagai wujud syukur kepada Tuhan YME yang telah memberikan rezeki kepada masyarakat lereng Merapi ini. (Ant)
Baca Juga
Lihat juga...