Ritus Mudik

OLEH TJAHJONO WIDARMANTO

328
Tjahjono Widarmanto. Foto: Istimewa

MENJELANG Lebaran Idul Fitri, jutaan manusia yang tersebar di berbagai kota metropolis di Indonesia digerakkan oleh sebuah kekuatan luar biasa untuk berduyun-duyun kembali pulang ke tempat asal muasalnya.

Fenomena eksodus besar-besaran menjelang Lebaran inilah yang populer disebut mudik. Fenomena ini merupakan sebuah ritus tahunan yang sulit dijelaskan apakah itu sebagai keajaiban fenomena agama, fenomena sosial ataukah fenomena budaya.

Dengan kata lain, mudik Lebaran ini merupakan sebuah “keajaiban” yang menakjubkan yang tidak tertandingi oleh ritus lainnya, baik di Indonesia ataupun belahan negeri yang lain dalam segi skala jumlah dan dinamika massa.

Terlibat dalam ritus mudik ini massa dalam jumlah jutaan bergerak berpindah secara ulang-alik dalam skala waktu seminggu atau dua minggu.

Eksodus besar-besaran ini tentu saja menjadi kerepotan tersendiri karena jumlah orang yang ulang-alik tidak sebanding dengan sarana transportasi yang tersedia, membuka peluang kriminalitas dan bahaya kecelakaan lalu lintas.

Menurut data Kementerian Perhubungan, jumlah pemudik tahun ini bisa mencapai lebih dari 40 juta orang dengan berbagai angkutan jalan raya; kereta, kapal laut, pesawat bahkan sepeda motor. Namun, anehnya, kerepotan dan kesulitan ini tidak pernah menyurutkan peristiwa mudik, bahkan dari tahun ke tahun jumlah massa senantiasa bertambah.

Di beberapa negara memang ada juga yang memiliki ritus mudik semacam ini. Di Amerika Serikat atau negara Eropa lain, misalnya, memiliki ritus christmas day dan thanksgiving day yaitu saling berkumpul dengan seluruh keluarga inti.

Tapi mudik christmas dan thanksgiving day mereka tak pernah sanggup menyaingi ritus mudik Lebaran di Indonesia dalam jumlah skala besar hingga jutaan orang. Mau tidak mau memaksa keterlibatan banyak pihak termasuk negara untuk ikut mengatur mekanisme mudik Lebaran.

Ritual mudik tidak sekadar berkonotasi fisik. Mudik harus ditafsirkan dalam kerangka filosofis, bahkan spiritual, sebagai manifestasi kesadaran untuk kembali dari berbagai pengembaraan fisik dan jiwa. Ritus mudik bisa dikaitkan pula dalam konsep waktu. Mudik adalah peristiwa dalam waktu yang melingkar.

Konsep waktu dalam kebudayaan Timur memang melingkar atau cakra manggilingan, bukan linear seperti konsep Barat. Namun selalu ada titik perputaran untuk kembali. Selalu ada titik balik.

Kita tak akan pernah sanggup untuk berucap, ”Saya pergi dan tak akan pernah kembali.” Namun akan senantiasa berkata, “ Setinggi-tinggi terbang bangau akhirnya ke pelimbahan juga.”

Mudik dikatakan oleh budayawan Umar Kayam (2002) sebagai tradisi primordial masyarakat agraris Jawa berabad-abad lalu yang kemudian bermetamorfosis menjadi cara kaum urban untuk menemukan kembali nilai-nilai keadaban yang hanya bisa ditemui di kampung halaman.

Keras dan letihnya perjuangan hidup di kota membangkitkan imajinasi kampung halaman menjadi obat penawar rasa letih dan keterasingan diri. Kampung halaman mengandung memori sejarah yang membangunkan kembali otentisitas nilai-nilai kemanusiaan.

Melalui mudik inilah manusia modern, yang dikatakan oleh Herbert Marcuse dalam One Dimensional Man (1964), sarat kealpaan karena teralienasi oleh serangan industrialisasi, ekonomi dan teknologi, menemukan kembali hakikat diri.

Mudik menjadikan manusia urban mendapatkan kembali imaji kampung halamannya yang sarat rasa kebersamaan, guyub, solider, tradisional dan damai. Mereka menemukan kembali identitas diri setelah berkelana jauh bersinggungan dengan nilai budaya modernitas yang manipulatif, liberal, individual, kompetitif dan saling sikut.

Peristiwa mudik ke kampung halaman ini juga merupakan simbolisasi kecintaan terhadap tanah kelahiran sebagai “ibu kandung kebudayaan”. Mudik menunjukkan kesadaran untuk tidak lupa diri dan tidak ingkar pada asal-usul.

Tradisi Timur menganggap orang yang lupa pada asal-usul akan memiliki “dosa budaya” yang akan menanggung risiko “siksa budaya”. Hal itu tersirat dalam kisah Malin Kundang yang terkutuk menjadi batu.

Kisah ini tak sekadar mengusung nilai kepatuhan pada ibu, namun juga bisa dipandang sebagai narasi metaforik dari seorang manusia yang ingkar terhadap asal-usulnya dan lupa pada tanah kelahirannya.

Kisah Malin Kundang ini disebut Lyotard (2004) merupakan inti pengetahuan dan kearifan tradisional tentang bagaimana manusia memandang dan bersikap sebagai makhluk berbudaya.

Mudik yang selalu bersinggungan dengan Ramadan dan Idul Fitri ini bisa pula diartikan sebagai ritus dalam koridor fenomena sosial dan budaya yang bertemu dengan peristiwa religi. Puncak pencapaian ibadah puasa adalah kembalinya atau berpulangnya seseorang kepada fitrah sebagai manusia yang terbebas dari dosa.

Ritus mudik selalu melekat dengan momentum Idul Fitri, karena makna simboliknya adalah kembali pulang kepada kesucian jiwa. Idul Fitri dalam kosa kata budaya Indonesia adalah Lebaran: bermakna peleburan segala dosa, salah dan khilaf dalam kerangka hubungan horizontal dan vertikal.

Akhirnya, memang, mudik akan selalu menjadi momentum yang amat istimewa. Setelah berhari-hari, berminggu-minggu hingga berbulan-bulan manusia dipaksa bertahan dan bersaing dalam pertarungan hidup yang keras bahkan liar. Bisa menyebabkan saling sikut, curiga, prasangka, menebar fitnah, memaki dan mencibir, maka tiba saat melebur segala dosa.

Membuka kesediaan memberi maaf dan meminta maaf dengan hati yang luas dan lapang. Sehingga tali silaturahmi yang bisa saja retak terjalin kembali. Kita pun bisa kembali memaknai hakikat kemanusiaan. ***

Tjahjono Widarmanto, pemerhati budaya, guru di SMAN 2 Ngawi, Jawa Timur

Redaksi menerima tulisan opini dengan tema tidak mengandung SARA dan memperkukuh tegaknya kedaulatan bangsa. Kirim ke editorcendana@gmail.com

Baca Juga
Lihat juga...