Saling Membutuhkan

(Oleh: Siti Hardiyanti Rukmana)

1.029

Bila kuingat masa kecilku di Semarang —ketika Bapak menjadi Panglima Kodam Diponegoro—, dimana pada saat itu aku masih duduk di SR/Sekolah Rakyat (sekarang SD), di Kampung Kagog. Setiap hari Minggu, ibu selalu mengajak aku untuk mencuci pakaianku sendiri dan pakaian bapak ibu. Saat-saat indah dan berkesan dengan ibu yang tak pernah aku lupakan.

Tadinya aku tidak mengerti kenapa kami harus mencuci sendiri baju-baju. Padahal ada pembantu (sekarang poluler dengan ART /Asisten Rumah Tangga) yang nyuci.

*

Aku tanya ke ibu : “Bu kenapa kita harus mencuci sendiri, kan sudah ada yang nyuci bu?”

“Ngene (begini) wuk (nak), memang sudah ada yang nyuci, tapi ibu ingin kamu tahu dan merasakan seperti apa kalau nyuci pakaian sendiri. Jadi kamu bisa tahu juga rasanya mereka bekerja.”

Saya belum puas dengan jawaban ibu : “Tapi bu itu kan memang pekerjaan mereka, makanya dibayar oleh bapak dan ibu.”

“Betul yang kamu katakan wuk, disini ibu ingin supaya setelah merasakan apa yang mereka kerjakan, kamu bisa menghargai mereka, mereka juga manusia biasa yang bisa capek, jadi kita tidak akan menyuruh mereka semena-mena,” Ibu menjelaskan dengan sabar.

“Jadi kita juga musti baik dengan mereka ya bu,” kata saya sambil memilah pakaian putih dan berwarna.

Aku, Sigit (kanan) dan Bambang (kiri) , ketika tinggal di Semarang tahun 1958-an. Dokumen Siti Hardiyanti Rukmana

Sambil merendam pakaian kotor ke dalam ember berisi air, ibu menuturkan: “Pinter kowe ngger (kamu nak) …. Kamu musti menyadari, kalau nggak ada mereka, semua harus kita kerjakan sendiri. Kamu bayangkan kalau semua kita kerjakan sendiri, pulang sekolah kamu cuci pakaian, setrika, nyapu lantai, ngepel, bersihkan kamar tidur, bantu masak, cuci piring dan gelas dan lain-lain sebagaimana yang mereka kerjakan. Belum bikin PR. Kowe mesti kesel banget (kamu pasti capek sekali).”

“Iya ya bu, kalau nggak ada mereka, repot juga kita dan pasti capek sekali,” mulai mengerti yang dimaksud ibu.

“Jadi sebenarnya kita juga butuh mereka, bukan mereka saja yang membutuhkan kita. Ini yang disebut saling membutuhkan. Mereka sekarang tinggal di rumah kita, jadi mereka juga menjadi anggota dari rumah ini, berarti juga saudara kita. Jadi kalau nyuruh jangan teriak-teriak, jangan marah-marah … suruhlah dengan baik-baik.”

“Bu, kata temenku pembantunya itu kalau ditimbali (dipanggil) suka nggak mau datang, padahal sudah diteriakin kenceng sekali.”

Ibu berkata sambil memandang saya, “Mungkin karena kesalahan majikan, kurang menghargai mereka, memperlakukan mereka dengan kasar, akhirnya mereka jadi berontak hatinya, dipanggil pura-pura nggak denger. Kamu nggak boleh seperti itu. kalau kamu ingin orang lain baik padamu, ya berbuat baiklah dengan orang lain.”

“Iya bu,” saya jawab sambil ngucek-ngucek baju pakai sabun.

Sementara sambil menggilas pakaian dengan sabun di papan gilasan, ibu melanjutkan pituturnya kepada saya : ”Wuk, di hadapan ALLAH itu semua sama, yang membedakan bukan jenis pekerjaan kita atau kedudukan kita, yang membedakan adalah ibadah dan amal sholeh kita. Kalau kita berbuat baik dengan orang lain, maka itu akan menjadi catatan kebaikanmu di hadapan-NYA.”

*

Saya sangat mengagumi ibuku, karena apa yang ibu lakukan ini tetap dilakukan sampai akhir hayatnya. Walaupun beliau menjadi pendamping bapak sebagai “Ibu Negara”, setiap hari minggu bila tidak ada acara, ibu selalu mencuci pakaiannya sendiri, terutama kain batiknya.

“Ibu sayang…, sekarang aku merasakan betapa besar pengaruh ajaran ibu pada diriku. Ajaran ibu sepintas terlihat sangat sederhana, namun di balik semua itu mengandung satu pelajaran yang sangat tinggi dalam menempa mental kita untuk selalu berbuat baik dan menghargai orang lain.

Terima kasih ibu… untuk semua jerih payah ibu dalam ibu membimbing kami putra putri ibu. Berbahagialah ibu bersama bapak. Doa kami akan selalu menemanimu di atas sana.
We love you ibu ..always.”

Terima kasih ya ALLAH, telah ENGKAU hadirkan seorang ibu untuk kami, seorang ibu yang tegar namun penuh kelembutan. Satukan bapak dan ibu kami di surga-MU ya ALLAH .. aamiin.

Jakarta, 10 Juni 2018
Jam 01.00 dini hari