Sawah di Mergangsan Tetap Produktif Meski Dikepung Bangunan

Editor: Mahadeva WS

278

YOGYAKARTA – Areal persawahan yang terletak di Kampung Mergangsan Kidul, Wirogunan, Mergangsan, Yogyakarta menjadi satu-satunya lahan pertanian yang masih tersisa di jantung atau pusat kota Yogyakarta saat ini.

Meski hanya berjarak sekira satu kilometer dari Malioboro dan Keraton, areal persawahan tersebut seakan menjadi anomali dari gencarnya pembangunan yang ada di sekitarnya. Keberadaanya menjadi sebuah pemandangan yang menyejukan di tengah kemunculan, gedung baik hotel, mall, restoran maupun pemukiman di kota Yogyakarta sejak beberapa tahun terakhir.

Seorang petani warga setempat, Mardi Wiyono (65) mengatakan, lahan pertanian di kampungnya sejak dulu dikenal sebagai lahan subur. Terletak tepat disisi Sungai Code, aliran irigasi untuk areal tersebut mengalir tanpa henti sepanjang tahun. Para petani penggarap sawah dapat menanam padi tiga kali setahun.

Hasilnya-pun cukup melimpah. Wiyono mampu mendapatkan panen hingga enam kwintal dengan lahan garapan seluas 2.400 meter persegi. Jumlah tersebut untuk satu kali masa tanam.

“Dulu sekitar tahun 90an, luasan lahan pertanian di sini mencapai enam hektare lebih. Memanjang dari sisi sebelah utara mulai kampung Surokarsan, hingga ke sebelah selatan melewati kampung Mergangsan Lor, hingga Mergangsan Kidul. Namun kini tinggal separuh-nya saja,” ungkapnya.

Warga Kampung Mergangsan Lor tersebut mengatakan, alih fungsi lahan berupa pembangunan perumahan, maupun gedung lainnya, menjadi faktor utama semakin berkurangnya luasan sawah di kampungnya. “Dulu di sisi sebelah utara itu masih sawah semua. Tapi sekarang sudah jadi Perumahan Tamansiswa Indah. Sebelah selatan juga sekarang sudah jadi rumah dan restoran,” katanya.

Wiyono menyebut, areal sawah yang masih tersisa saat ini milik seorang bernama Jendral Widodo. Salah satu warga Kampung Surokarsan tersebut telah mewariskan lahan kepada anak-anaknya. Sang pemilik memilih tidak menjual sawah tersebut meski telah banyak orang menawarnya. “Memang katanya tidak akan dijual. Padahal sudah banyak yang menawar, termasuk orang besar sepeti walikota atau apa. Tidak tahu mau dibangun hotel atau mall,” katanya.

Wiyono sudah mulai menjadi petani penggarap sawah di kawasan ini sejak 25 tahun lalu. Bersama delapan orang petani lainnya yang semuanya adalah warga dari berbagai daerah. Teknis menggarap sawah tersebut dengan sistem bagi hasil.  “Kalau sejak dulu ingin dijual oleh pemiliknya, mungkin sekarang sudah tidak ada lagi sawah disini. Mungkin sudah ganti jadi perumahan atau hotel,” katanya.

Terkait adanya wacana menjadikan areal persawahan di Kampung Mergangsan Kidul sebagai kawasan warisan budaya dan pariwisata pertanian di tengah kota Yogyakarta, Wiyono mengaku sangat mendukung. Pasalnya, sawah di sekitar tempat tinggalnya itu merupakan satu-satunya yang masih tersisa di tengah kota Yogyakarta.

“Ya bagus, biar tetap ada sawah di tengah-tengah kota. Tidak cuma perumahan, mall atau hotel saja,” pungkas kakek 5 cucu tersebut

Baca Juga
Lihat juga...