SDM Poliklinik Hewan Yogyakarta, Masih Minim

Editor: Koko Triarko

266
YOGYAKARTA – Meningkatnya tren memelihara hewan serta kesadaran untuk memeriksakan kesehatan hewan peliharaan, membuat Poliklinik Hewan Yogyakarta tak pernah sepi pasien. Sayangnya, peningkatan jumlah pasien di Poliklinik Hewan Yogyakarta, belum didukung tenaga atau SDM yang mencukupi. 
Penanggungjawab Poliklinik Hewan Yogyakarta, drh. Dwi Rohayati. –Foto: Jatmika H Kusmargana
Berada di bawah naungan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, UPT Poliklinik Hewan Yogyakarta yang dahulu bernama UPTD Puskeswan Yogyakarta ini hanya memiliki empat orang tenaga saja. Terdiri dari dua orang dokter hewan dan dua orang tenaga medis, yang harus melayani puluhan pasien setiap harinya.
“Tenaga kita terbatas. Kita belum memiliki tenaga administrasi. Jadi, tenaga medis dan paramedis selama ini harus merangkap sebagai admin. Saat ramai, kadang kuwalahan,” ujar penanggujawab Poliklinik Hewan Yogyakarta, drh. Dwi Rohayati, Jumat (29/6/2018).
Tak hanya keterbatasan tenaga, Poliklinik Hewan Yogyakarta juga belum memiliki armada kendaraan untuk mendukung sejumlah layanan seperti House Call atau panggilan rumah.
“Sebenarnya ada kendaraan berupa motor roda tiga. Tapi, karena tidak bisa memakai kita biasanya memakai motor pribadi untuk memberikan pelayanan House Call,” katanya.
Berdiri sejak 1997, Poliklinik Hewan Yogyakarta bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan, guna meningkatkan status kesehatan hewan di Yogyakarta.
Poliklinik Hewan Yogyakarta ini memiliki berbagai layanan, mulai dari pengobatan, operasi bedah, rawat inap, penitipan, rontgen, konsultasi kesehatan, vaksinasi hingga penyuluhan.
“Kita menerima semua jenis hewan. Tapi, mayoritas yang ke sini adalah hewan peliharaan, seperti kucing, anjing, reptil, serta unggas berupa burung dan ayam. Rata-rata setiap hari ada 20-30 hewan yang kami tangani. Tidak hanya dari sekitar Jogja, tapi juga dari Sleman, Bantul bahkan Klaten,” ujarnya.
Dibanding poliklinik hewan lainnya, salah satu keunggulan Poliklinik Hewan Yogyakarta adalah biaya layanan yang lebih murah. Hal itu karena sejumlah obat mendapatkan subsidi dari pemerintah.
“Rata-rata biaya yang dikeluarkan pasien antara Rp30-50 ribu sekali periksa. Selama ini kita ditarget memasok PAD Rp5,8 juta, dan kita selalu bisa mencapai target tersebut,” ungkapnya.
Firyana, warga Kotagede, mengaku memilih memeriksakan kucingnya ke Poliklinik Hewan Yogyakarta, karena perimbangan jarak yang lebih dekat dari rumahnya. Selain juga biaya periksa yang lebih murah dibanding poliklinik swasta.
“Biasanya saya ke Seturan. Tapi, kan jauh. Di sini lebih dekat, biaya juga murah. Makanya, ke sini. Pelayanannya juga lumayan bagus,” ujarnya.
Baca Juga
Lihat juga...