banner lebaran

Sepi Pembeli, Pedagang Pasar Ramadan Mengeluh

Editor: Mahadeva WS

178

BALIKPAPAN – Memasuki minggu ketiga Ramadan, sejumlah pedagang pasar Ramadan di Kota Balikpapan mengeluhkan sepinya pembeli. Sejak minggu pertama Ramadan kondisi sepi pembeli sudah dirasakan pedagang.

Pedagang salah satu pasar Ramadan Balikpapan Endang (35) mengaku, pada pekan pertama pembeli sudah terlihat sepi. Padahal harga yang ditawarkan untuk penjualan makanan dan minuman yang dijual tidak naik. “Sepinya pembeli ini sudah mulai dirasakan pada tahun lalu, ditambah tahun ini yang sepi. Mungkin karena banyak yang jual di pinggir jalan dan dekat rumah atau memang pembelinya sudah pada mudik duluan juga ga tahu,” keluhnya saat ditemui Kamis, (7/6/2018).

Menurutnya, menu yang dijual juga masih sama dengan tahun lalu yaitu snack seperti risoles, tahu isi dan makanan pembuka puasa lainnya. “Sekarang sudah banyak titik pasar Ramadan mungkin terbagi ya pembelinya. Harganya juga dari Rp1.000-1.500 perbijinya. Kalo pembeli yang sudah loyal masih membeli, tapi ada juga mencari yang terdekat saja,” tambah Endang yang sudah tiga tahun berjualan di pasar Ramadan.

Hal yang sama juga dikatakan pedagang pasar ramadan di kawasan Balikpapan Permai, Adel. Menurutnya, persediaan makanan pembuka yang dijual juga tidak banyak. “Kalo sudah lewat jam 05.00 sore makanan yang dijual juga diturunkan harganya yaitu Rp10 ribu untuk 7 biji. Memang untungnya sedikit tapi dari pada tidak habis,” tandasnya.

Berjualan di pasar Ramadan dilakukannya untuk menambah pendapatan yang bisa dimanfaatkan untuk lebaran. “Yang terpenting modal dan sewa tempat dapat tertutupi,” ujarnya.

Sementara itu, pelaku usaha restoran Kurnia Sutanto menyebut, selama Ramadan pembeli tidak banyak yang memesan makanan berbuka puasa. “Tahun ini makin terasa, dari tahun lalu. Minggu pertama saja belum ada yang pesan banyak, baru minggu kedua sudah terlihat tapi juga tidak banyak,” beber pria yang berjualan bubur ayam dan nasi liwet Bandung tersebut.

Kurnia memperkirakan penyebab sepinya pembeli masyarakat lebih menghemat pendapatan yang diperoleh. Hal itu dilakukan karena kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih. “Bukan hanya menghemat, bisa jadi pendatang yang dulu di kota minyak sudah pada pulang kampung. Ada yang kena phk dan sebab lainnya,” imbuh Kurnia.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.