Stef Ola, Putra Adonara yang Sukses Tekuni Dua Profesi

Editor: Mahadeva WS

289
Stephanus Ola Demon,ST, Dosen sekaligus karyawan pada perusahaan kontraktor ternama di NTT. Foto : Ebed de Rosary

LARANTUKA – Menekuni dua profesi sekaligus merupakan sebuah tantangan yang tidak mudah untuk dilakukan. Diperlukan sebuah kemauan dan kerja keras agar bisa sukses menjalani kedua profesi secara bersamaan.

Namun hal itu bisa dijalani Stephanus Ola Demon,ST. Seorang dosen yang juga menempati jabatan puncak sebuah perusahaan kontraktor ternama di NTT.  “Sumber ilmu itu ada di lingkungan akademik yakni di universitas, karena itu saya  tetap memilih menjadi dosen. Selain itu, di ruang kuliah saya diperkaya dengan ide dan ilmu dari mahasiswa saya sendiri,” ungkapnya, Senin (11/6/2018).

Tetap menjadi dosen, dipilih Stef karena pekerjaan tersebut dinilainya sebagai pekerjaa mulia. Dengan menjadi dosen, alumnus Universitas Katolik (Unika) Widya Mandiria Kupang  tersebut, bisa bersaing ke kancah nasional. Pembangunan pelabuhan feri di Adonara Flores Timur sampai selesai murni mengandalkan insiyur-insiyur dari NTT.

Putra Lamanele, Ile Boleng, Adonara yang lahir di Sandakan 9 September 1974 tersebut, dikenal karena jasanya menghadirkan PT. Bumi Indah di Pulau Adonara. Stef juga berperan besar dalam perbaikan jalan (hotmiks) di sekian ruas jalan yang ada di Adonara, Solor, dan Flores Daratan. Ruas jalan tersebut sebelumnya mengalami kerusakan cukup parah.

Stef Ola, merupakan putra dari  Bernadus Lewun Duhan (74) dan Ruth Sanfa (72) dan merupakan anak ke-2 dari empat bersaudara. Memasuki usia lima tahun, Dia dihantar dari Malaysia ke kampung orang tuanya di Lamanele dan di asuh oleh keluarga dari bapaknya.

Alasan menghantarnya kembali ke kampung saat itu karena kedua orang tuanya sibuk bekerja di Malaysia. Stef tumbuh tanpa mendapatkan didikan secara langsung dari orang tua. Kondisi tersebut menjadi ujian yang membuatnya menjadi sosok tangguh dan mandiri.

Ditangan keluarga bapanya di kampung halaman, Stef bersekolah hingga SMP dan melanjutkan pendidikan di SMA Kristen 1 Kupang. Masa-masa sulit dialami saat menempuh pendidikan SMA di Kupang. Kala itu dianggap menjadi masa perjuangan yang menantang.

“Saya pernah lari dari rumah keluarga dan tidak mau bersekolah lagi. Beras tidak ada, makan tanpa lauk, tidak mendapatkan kiriman uang dari orang tua hingga ke sekolah dengan berjalan kaki. Jadwal kapal feri yang tidak tentu dari kampung menyulitkan pengiriman bekal makanan,” ungkapnya.

Stef mengaku pernah suatu waktu, tiga hari lamanya, dirinya hanya mengkonsumsi buah dan daun pepaya. Hal itu terjadi karena tidak memiliki uang untuk membeli beras dan lauk pauk. Kerasnya kehidupan membuatnya belajar sungguh-sungguh mengerjakan pekerjaan apa saja yang dipercayakan.

Biayai Kuliah Sendiri

Usai menamatkan SMA di Kupang, Stef sudah mempunyai niat untuk kuliah namun terkendala biaya. Orang tuannya, belum menyanggupi keinginan tersebut karena beban biaya tidak untuk Dia sendiri. Hal itu mendorongnya untuk memutuskan mengikuti jejak orang tuannya ke Malaysia, pada 1994.

Di Malaysia, Stef Ola bekerja di Supermarket selama enam bulan.  Namun gaji yang diterima tidaklah seberapa, sehingga akhirnya memutuskan pindah bekerja di bagian perhitungan dan penomoran kayu yang lokasi kerjanya di hutan. Sesekali baru mereka turun ke kota sekedar membeli makanan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Setahun di Malaysia, dengan sedikit uang yang terkumpul, ditambah pemberian dari orang tua, di 1995 saya memilih pulang ke Kupang untuk kuliah. Saya lulus UMPTN dan diterima di jurusan pertanian Universitas Patimura Ambon. Tetapi mengingat Ambon itu juga di wilayah timur sama dengan NTT sehingga saya memutuskan tidak kuliah disana,” ungkapnya.

Terlintas kenangan akan masa kecilnya dimana Stef selalu ingin meraih gelar insinyur dan bekerja sebagai kontraktor. Ini mendorongnya memilih kuliah di Fakuktas Teknik, di Universitas Widya Mandira (Unwira) Kupang untuk bisa meraih mimpi yang terpendam.

Uang tabungan dari gaji yang didapat saat bekerja di Malaysia, dimanfaatkan untuk biaya pendaftaran dan biaya lainnya di awal kuliah. Suami dari Theresia Setya Ningrum (32) ini, menyisihkan sedikit uangnya untuk membeli tanah dan langsung membangun sebuah rumah darurat berukuran 4×6 meter di Kelurahan Oebufu.

“Saya memilih membangun rumah di Oebufu karena dengan hitungan rute kendaraan umum satu jalur menuju ke kampus Unika. Rumah yang ditempati ini, kemudian menjadi tempat tinggal bagi banyak mahasiswa dari Adonara yang kesulitan mendapatkan tempat tinggal di Kupang,” jelasnya.

Sejak menjadi mahasiswa, Stef Ola sudah dipercaya menjadi asisten dosen. Dengan pengalaman ini, saat meraih gelar strata satu (S1) di Unika Kupang, Dia langsung diangkat menjadi dosen dengan sebutan dosen kontrak yang masa kontraknya 5 tahun. Hal tersebut dijalani hingga diangkat menjadi dosen tetap pada 2005.

Menjalani profesi sebagai dosen sejak 2005, mantan Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fakultas Teknik ini sudah berpengalaman bergulat dalam dunia proyek. Dia dikenal sangat jago pada bidang hitungan. Dengan kehebatannya tersebut, di Kupang saat itu Stef sangat dikenal, termasuk oleh orang-orang di PT. Waskita Karya.

Dipercaya Pimpinan

Suatu waktu, pimpinan PT. Bumi Indah Lekianus Lubahu   mencari seorang tenaga yang dapat membantu mengurus perusahannya. Dan PT. Waskita Karya, merekomendasikannya untuk membantu pekerjaan di perusahaan kontraktor besar di NTT tersebut.

Stef mengaku waktu itu, sangat gugup ditelepon oleh seorang pimpinan perusahaan besar. Dan terlebih diminta untuk langsung bertemu di sebuah restoran mewah yang ada di Kota Kupang. Hanya mengenakan sandal jepit, Dirinya datang memenuhi undangan bertemu dengan pimpinan perusahaan dan para staf yang semuanya berpakaian jas.

“Baru saja saya duduk, tanpa basa basi, pimpinan Bumi Indah langsung meminta saya membantu beliau mengurus perusahaan kontraktornya. Saya katakan saya seorang  dosen dan mempunyai waktu tetap mengajar di kampus,” ungkapnya.

Ayah dari Isidorus Witak (9), Stefani Witin (5) dan Gemaraina Witak (1) ini pun
membuat penawaran, jika bapak Melkianus bersedia, Dirinya akan membagi waktu dua minggu mengajar dan dua minggu sisanya bekerja di perusahaannya dan langsung disetujui.

Pak Melkianus terang Stef, menanyakan gaji yang diinginkan dan langsung dijawab dihargai sepadan dengan apa yang dikerjakan. Terjadi kesepakatan hari itu, dan Stef pun siap membantu mengurus PT. Bumi Indah yang kala itu berlokasi di Sumba. “Saya waktu itu kepala proyek dan lokasi kerja saat itu lebih banyak di Pulau Sumba. Kami membangun jalan (hotmiks), membangun bandara serta pelabuhan laut. Setiap kali ada pembelanjaan barang uang kelebihan satu sen pun saya kembalikan,” tuturnya.

Karakter ini yang membuat Stef Ola dikenal sebagai anak kesayangan dari pak Melkianus pimpinan Bumi Indah. Setiap idenya pasti dipertimbangkan dan diterima untuk dijalankan dan juga selalu mendapat kepercayaan untuk melakukan survey-survei di daerah baru yang akan dibangun kerja sama.

Di 2010, pria berusia 44 tahun ini menyampaikan idenya berkaitan dengan sudah saatnya, PT. Bumi Indah ekspansif mengembangkan sayap pelayanan ke wilayah lain di NTT. Ide ini kemudian diterima dan di tahun tersebut, PT. Bumi Indah memenangkan tender pembangunan pelabuhan Feri di pulau Adonara kabupaten Flores Timur.

“Mendapat proyek di Adonara, bagi saya adalah berkat. Bahwa selama ini saya hanya mengabdi di tanah orang, kali ini saya sunguh sunguh membangun untuk Lewotana atau kampung halaman sendiri,” sebutnya.

Usai mengerjakan proyek pelabuhan fery yang penyelesaiannya tepat waktu, PT.Bumi Indah pun mendapatkan tender pembangunan jalan hotmix di hampir semua jalan di pulau Adonara, Solor hingga Flores daratan. Dirinya pun mendapat apresiasi dari masyarakat dan pemerintah karena proyek yang dikerjakannya kualitasnya bagus.

“Saya dibanyak tempat ditegur, disapa dengan sangat akrab dan santun. Beberapa kali di acara penguburan orang meninggal saya mendengar langsung nama saya diperbincangkan walau mereka belum mengenal saya. Mendengar ungkapan polos dari mereka saya sangat senang dan puas,” tuturnya bangga.

Ada satu prinsip yang selalu dipegang oleh Stef Ola dalam bekerja, yakni melakukan setiap pekerjaan dengan jujur, lancar, selesai tepat pada waktunya dan sesuai spesifikasi yang telah ditetapkan. Jangan berusaha untuk menekan biaya untuk kepentingan pribadi atau kelompok kelompok tertentu, itu hanya mempersulit diri sendiri.

Proyek yang dikerjakan adalah fasilitas publik untuk kepentingan publik, maka sudah semestinya dikerjakan dengan sungguh-sungguh, jujur dan bertangungjawab. Kerja keras yang dilakukan membuat Stef akhirnya diangkat menjadi General Manager dan melanjutkan pendidikan Magister Teknik di Universitas Atmajaya Jakarta dan mendapat gelar Magister Teknik di 2017.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.