Suwardi Mudik dari Bandung ke Belitung, Bersepeda

Editor: Satmoko

421

LAMPUNG – Mudik atau pulang kampung saat Lebaran Idul Fitri menjadi tradisi yang rutin dilakukan setiap tahun oleh masyarakat di Indonesia yang beragama Islam.

Berbagai sarana transportasi mudik digunakan mulai pesawat, kapal laut, kereta api, kendaraan roda empat, roda dua hingga sepeda. Keinginan untuk mudik dengan cara berbeda membuat salah satu warga Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mudik menggunakan sepeda. Bukan sepeda sembarangan melainkan sepeda fixie digunakan untuk mudik.

Suwardi, warga Dusun III RT 011/006, Desa Batu Hitam, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung, melakukan mudik menggunakan sepeda berangkat dari Bandung, Jawa Barat.

Suwardi, pemudik asal Bandung tujuan Belitung melakukan perjalanan mudik menggunakan sepeda [Foto: Henk Widi]
Laki-laki umur 33 tahun tersebut menyebut, berangkat dari Bandung pada Senin sore (4/6) dan tiba di Pelabuhan Bakauheni pada Minggu pagi (10/6) setelah naik kapal laut dari Merak ke Bakauheni selama dua jam.

Saat ditemui Cendana News di KM 01 Bakauheni, Suwardi menyebut perjalanan menggunakan sepeda merupakan perjalanan kedua. Sebab tahun sebelumnya, Wardi demikian panggilannya, pernah melakukan perjalanan jarak jauh dua kali.

Kali pertama ia mengaku pernah menempuh perjalanan dari Sidoarjo-Jawa Timur dengan jarak sekitar 780 kilometer. Sementara jarak dari Bandung ke Belitung kota kelahirannya bisa mencapai 900 kilometer lebih.

“Perjalanan dengan menggunakan sepeda bukan kali pertama saya lakukan, namun pulang kampung saat mudik baru pertama kali ini saya lakukan,” terang Suwardi, salah satu pemudik asal Bandung tujuan Bangka Belitung, Minggu (10/6/2018).

Suwardi yang berangkat enam hari sebelumnya mengaku, sudah menempuh perjalanan ratusan kilometer untuk tiba di pelabuhan Merak Banten. Jalur yang dilalui di antaranya melintasi beberapa wilayah misalnya Bandung-Cianjur-Sukabumi-
Lebak, menyusuri jalan lintas Selatan Pulau Jawa hingga ke pelabuhan Merak Banten.

Sepanjang perjalanan Suwardi yang mengaku masih menjalankan puasa tersebut kerap beristirahat menyesuaikan kebutuhan fisik.

Sepeda fixie atau fixed gear disebutnya sengaja dipilih karena proses pengereman mudah dilakukan. Proses mengerem sepeda cukup dilakukan dengan mengurangi laju sepeda dan menahan putaran pedal ke arah belakang.

Jenis sepeda fixie hybrid merk Polygon sengaja dipilih setelah dibelinya pada tahun 2015 dengan harga Rp4,5 juta. Hobi berpetualang diakuinya menjadi salah satu alasan untuk melakukan perjalanan mudik menggunakan sepeda.

Tiba di Menara Siger, Suwardi membagikan pengalaman mudik dengan Sigit satpol PP penjaga Menara Siger [Foto: Henk Widi]
Selama enam hari menggowes sepeda, rute menantang yang ditemui menurut Wardi berada di Sawarna kabupaten Lebak. Sebab tanjakan terjal di beberapa titik cukup menguras energinya.

Meski demikian sejumlah objek wisata pantai membuat dirinya bisa menikmati perjalanan sesuai hobi petualang. Selain itu perjalanan melintasi sejumlah objek wisata akan digunakan untuk istirahat sejenak, sekaligus mendokumentasikan perjalanan salah satunya di Menara Siger Lampung Selatan.

“Saya punya istri dan dua orang anak sudah saya minta pulang duluan ke Kotabumi Lampung Utara, selanjutnya saya menyusul dengan sepeda,” beber Suwardi.

Bekal selama perjalanan, diakui Suwardi hanya beberapa helai baju, peralatan reparasi sepeda, obat-obatan dan sejumlah peralatan lain. Barang bawaan tersebut diletakkan di jok belakang dengan tempat khusus yang sudah diberi alat khusus antihujan.

Peralatan standar dengan lampu sepeda, helm ,sarung tangan serta alat keamanan bersepeda tidak lupa dikenakan selama perjalanan.

Meski menyebut kerap mengalami kelelahan fisik, asupan nutrisi dan juga pengalaman bersepeda membuat Wardi tidak kesulitan melakukan perjalanan.

Kendala melakukan perjalanan adalah saat berbarengan dengan pemudik motor dan kendaraan roda empat sehingga dirinya selalu mengambil jalur kiri. Ia memastikan belum pernah mengalami insiden di jalan bahkan saat malam hari karena helm dan  sepeda dilengkapi lampu khusus.

Memasuki hari keenam saat tiba di Bakauheni Lampung, dengan manajemen waktu yang diaturnya, Wardi memprediksi bisa tiba di Kotabumi pada hari kedelapan. Ia menyebut, total perjalanan waktu untuk tiba di Belitung membutuhkan waktu dua pekan. Sebelum ke Bangka Belitung ia memastikan akan mampir ke Kotabumi selama tiga hari di keluarga sang istri.

“Mampir tiga hari lalu melanjutkan perjalanan ke Belitung via darat dan laut, istri menyusul menggunakan pesawat,” terang laki-laki yang pernah bekerja sebagai kontraktor tersebut.

Suwardi menyebut, sesuai dengan prediksi ia bisa tiba di Belitung pada tanggal 14 Juni sebelum salat Ied sehingga bisa berlebaran di kampung halaman. Dua kali naik kapal roll on roll off (roro) dari Pelabuhan Merak-Bakauheni juga akan dilakukan dari Tanjungapi-api ke Pelabuhan Mentok Bangka Barat. Selanjutnya, ia akan kembali melanjutkan perjalanan dengan kapal cepat atau perahu dari Pulau Bangka ke Pulau Belitung.

Meski menyebut memiliki uang cukup untuk naik pesawat, pilihan mudik Lebaran dengan sepeda diakuinya bukan perkara untuk menghemat. Ia menyebut sensasi perjalanan darat dengan sepeda sekaligus untuk melihat Indonesia melalui perjalanan tak biasa.

Ia bahkan menyebut akan bangga saat tiba dan merayakan Lebaran sekaligus bisa bersyukur menikmati karunia kesehatan dan bisa mudik memakai sepeda fixie.

Baca Juga
Lihat juga...