Tetel, Makanan Tradisional Berbahan Singkong, Mulai Langka

Editor: Satmoko Budi Santoso

560

YOGYAKARTA – Menikmati kuliner asli daerah menjadi salah satu hal yang tak bisa ditinggalkan saat liburan ke suatu tempat. Selain itu kuliner asli daerah juga dapat menjadi buah tangan untuk dibawa pulang ke rumah.

Jika Anda sedang berlibur ke Yogyakarta, cobalah salah satu makanan tradisional yang banyak ditemukan di Gunung Kidul, Bantul, maupun Kulon Progo. Namanya tetel.

Makanan tradisional yang terbuat dari bahan baku ketela ini sepintas mirip dengan tiwul, makanan khas Gunung Kidul. Namun tetel kini lebih jarang ditemukan bahkan bisa dibilang mulai langka.

Seperti halnya tiwul, tetel sama-sama terbuat dari tepung singkong atau ketela yang biasa disebut gaplek. Yang membedakan adalah campuran kacang tanah dalam adonannya.

Sujilah salah seorang pembuat tetel asal Bantul Yogyakarta – Foto: Jatmika H Kusmargana

“Kalau tiwul tidak ada campuran kacangnya. Sedangkan tetel pakai campuran kacang tanah,” ujar salah seorang pembuat tetel, Sujilah, asal Bantul, Yogyakarta.

Ia mengatakan, tetel memiliki cita rasa khas yang gurih dengan tekstur sedikit kasar. Hal itu karena campuran kacang tanah di dalamnya. Adanya campuran kacang tanah juga membuat warna tetel sedikit kecoklatan.

Untuk membuat tetel, cukup mudah. Bahan bakunya hanya singkong, kacang tanah, kelapa, gula dan garam.

“Pertama kupas singkong lalu cuci bersih. Setelah itu kukus kurang lebih 45 menit dengan ditabur gula dan garam secukupnya. Setelah matang tumbuk hingga menjadi adonan. Lalu campurkan kacang tanah yang telah dibelah menjadi dua,” ujarnya.

Lalu diamkan adonan, bentuk menjadi kotak-kotak kecil dengan cara diiris sesuai selera. Agar nampak cantik, biasanya tetel juga dihidangkan dengan taburan parutan kelapa.

Meski mudah dibuat dan murah, tetel merupakan makanan tradisional yang mengenyangkan. Warga Yogyakarta biasa menikmati sambil meminum teh atau kopi hangat.

Baca Juga
Lihat juga...