Tradisi Kunjungan Semarakan Idul Fitri di Lampung Selatan

Editor: Mahadeva WS

297

LAMPUNG – Suasana Idul Fitri menjadi perayaan kemenangan setelah berpuasa selama sebulan bergitu terasa di Lampung Selatan. Kebersamaan dan keberagaman terlihat dalam tradisi saling mengunjungi yang dilakukan oleh warga di daerah tersebut.

Baik pemeluk agama Islam dan agama lain, seperti Hindu dan Kristiani menjalani tradisi saling berkunjung. Suasana tersebut sangat terlihat di Desa Gandri Kecamatan Penengahan Lampung Selatan. Sejumlah umat Kristiani dan Hindu melakukan kunjungan ke keluarga pemeluk agama Islam yang merayakan Idul Fitri.

Wayan Suarte (30) salah satu warga di dusun Sukajaya desa Gandri menyebut, sebagai pemeluk Hindu, berkunjung saat Idul Fitri menjadi momen istimewa. Keberagaman agama warga desa setempat sudah terjadi sejak puluhan tahun silam. Saat perayaan Nyepi dan Galungan kegiatan saling berkunjung juga dilakukan oleh pemeluk Islam dan Kristen ke rumah warga yang beragama Hindu.

“Sebagian warga pemeluk agama Islam, Kristen dan Hindu di desa kami merupakan kerabat dalam satu keluarga. Meski memeluk agama yang berbeda sehingga tetap terjalin kebersamaan dan ikatan persaudaraan,” terang Wayan Suarte saat ditemui Cendana News usai mengunjungi salah satu keluarga yang merayakan Idul Fitri, Jumat (15/6/2018).

Tradisi saling mengunjungi tersebut menjadi kesempatan menjaga silaturahmi yang sudah terjalin selama bertahun-tahun. Disebut Wayan Suarte, sebagai warga perantau dari wilayah Bali dan Jawa Tengah, keberagaman di wilayah tersebut ikut membantu pembangunan desa setempat. Kegotongroyongan dalam kehidupan di desa telah dilakukan selama bertahun tahun tanpa memperhitungkan agama dan asal usul.

Hal yang sama diakui oleh Antonius (34) salah satu warga pemeluk agama Kristen Katolik yang melakukan kunjungan Idul Fitri ke keluarga Muslim. Tradisi saling kunjung sudah berlangsung puluhan tahun. Warga dengan berbeda suku dan agama di wilayah tersebut bahkan saling berkunjung saat perayaan Natal.  “Keluarga besar kami dari Yogyakarta sebagian memeluk agama Islam dan Katolik, jadi tetap terikat dalam kekerabatan yang kental,” tutur Antonius.

Kue jenang dan jipang disajikan sebagai kue tradisional khas yang muncul saat Idul Fitri [Foto: Henk Widi]
Selain berasal dari satu wilayah asal seperti Yogyakarta, kekerabatan akibat ikatan darah menjadi faktor tetap terjaganya silaturahmi. Momen hari raya Idul Fitri menjadi kesempatan untuk bertemu. Momen kunjungan tersebut bisa meneruskan silsilah keluarga.

Tradisi penerusan silsilah keluarga sering dilakukan dalam arisan keluarga yang digelar setahun sekali. Pertemuan dengan keluarga besar meski sebagian memeluk agama berbeda menjadi kesempatan memperkenalkan setiap anggota keluarga. “Pada istilah kami yang berasal dari Yogyakarta harapan kami jangan sampai kepaten obor atau tidak mengenal kerabat dari generasi muda hingga yang tua,” cetus Antonius.

Sumardiono (70) salah satu anggota keluarga tertua yang memeluk agama Islam menyebut, toleransi dan keberagaman terjalin puluhan tahun di desa tersebut. Momen Idul Fitri menjadi kegiatan mengumpulkan keluarga yang terpisah. Tradisi mudik yang masih tetap dijalankan keluarga dilakukan oleh kerabat yang bekerja di daerah lain dan kembali pulang ke kampung halaman. “Bagi yang sudah berkeluarga mudik kerap dilakukan bergantian ke keluarga suami dan isteri terutama yang tinggal di wilayah berbeda,” papar Sumardiono.

Toleransi dan keberagaman yang terjadi di wilayah Lampung Selatan ikut didorong karena kekeluargaan. Pada saat berkumpul keluarga, tradisi makan bersama dengan menu menu tradisional menjadi kesempatan untuk mempertahankan kebersamaan. Menu menu olahan kuliner yang disantap bersama dengan keluarga besar saat hari raya Idul Fitri sekaligus melestarikan tradisi kuliner yang hanya muncul saat lebaran.

Beberapa menu kuliner yang kerap muncul saat lebaran diantaranya, Kue Jipang dan jenang. Filosofi jenang dan jipang yang rekat oleh gula dan bahan beragam jenis bisa memperlihatkan keberagaman dalam hal agama. Meski berbeda agama dan suku, namun kebersamaan bisa membuat masyarakat bisa hidup berdampingan dalam toleransi.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.