Warga Lamtim Nikmati Manfaat Konservasi Hutan Bakau

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

238

LAMPUNG — Ekosistem hutan kawasan pantai pesisir timur Lampung dengan dominasi tanaman mangrove terus dikembangkan oleh Koperasi Konsumen Nelayan Rukun Sidomakmur sebagai objek wisata alam.

Sudarwanto, ketua koperasi Konsumen nelayan Rukun Sidomakmur desa Sriminosari kecamatan Labuhan Maringgai Lampung Timur menyebut saat ini luas hutan mangrove yang dikelola di pesisir timur Lampung mencapai 187 hektare.

“Pengelolaan kawasan hutan tersebut telah mendapat izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia untuk pemberdayaan masyarakat di sektor wisata,” sebutnya kepada Cendana News, baru-baru ini.

Sudarwanto menyebut ide memanfaatkan kawasan hutan mangrove sebagai destinasi wisata merupakan bagian dari unit usaha koperasi. Penanaman berbagai jenis mangrove didominasi jenis Api api (Avicennia) yang tumbuh secara liar, Bakau (Rhizopora sp) yang sengaja ditanam oleh masyarakat.

“Berbagai jenis tanaman mangrove tersebut terus dirawat sekaligus membuat trek jembatan dari bambu sepanjang 2.000 meter dari akses masuk menuju ke pantai pesisir timur Lampung,” tambahnya.

Sudarwanto menambahkan, di tepi pantai berpasir juga terdapat sejumlah tanaman vegetasi laut penahan abrasi. Jenis tanaman yang tumbuh secara alami di antaranya Pandan laut (Pandanus odorifer), Cemara Udang (Casuarina equisetifolia), Waru laut (Hibiscus tiliaceus), Lamtoro (Leucaena leueocephala), Sengon laut (Paraserianthes falcataria), Ketapang (Terminalia cattapa) serta sejumlah tanaman vegetasi hutan pesisir pantai.

“Sebagian tanaman yang tumbuh di pesisir pantai merupakan vegetasi hutan yang alami namun tetap kita jaga keasliannya. Kita terus galakkan konservasi sekaligus pemberdayaan masyarakat,” terang Sudarwanto.

Diakui Sudarwanto, upaya tersebut juga mendapatkan dukungan dari salah satu BUMN dengan menanam sebanyak 10.000 batang mangrove di belasan hektare secara bertahap.

“Sejumlah titik yang ditanami oleh masyarakat dan BUMN bahkan sudah tumbuh subur menjadi habitat alami sejumlah satwa,” ungkapnya.

Dalam waktu dekat Sudarwanto juga memastikan koperasi akan mendatangkan mangrove jenis Pidada (Sonnerartia caseolaris) atau dikenal dengan mangrove apel yang memiliki ciri khas buahnya bisa dimakan.

Selain bagian buah, pemanfaatan pidada juga bisa digunakan pada bagian daun yang dapat disantap sebagai lalapan, dibuat menjadi urap bagian kuliner khas objek wisata kawasan hutan mangrove Sriminosari.

Pada tahap awal tanaman pidada penahan abrasi sebanyak 275 batang dengan harga perbatang Rp7.000 akan dipakai sebagai indukan. Jenis mangrove pidada tersebut akan ditanam di sepanjang trek jalan setapak terbuat dari bambu yang digunakan wisatawan mengakses sejumlah spot hutan mangrove Srimonosari.

Jenis pohon mangrove pidada diakui Sudarwanto akan dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan sirup yang akan dipergunakan sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan.

“Sebagian warga terutama kaum wanita juga sudah mendapat pelatihan proses pembuatan sirup mangrove, tinggal menunggu bahan baku yang dikembangkan koperasi,” papar Sudarwanto.

Sudarwanto, Ketua Koperasi Konsumen nelayan Rukun Sidomakmur desa Sriminosari kecamatan Labuhan Maringgai Lampung Timur [Foto: Henk Widi]
Hasil pengelolaan objek wisata mangrove Sriminosari selama hampir satu tahun ikut memberi dampak positif bagi perkembangan ekonomi dan lingkungan.

Kawasan Hutan Mangrove Ikut Dorong Pemberdayaan Masyarakat

Pengembangan kawasan wisata alam hutan mangrove sekaligus kawasan konservasi secara berkelanjutan diakui oleh Sutarno, kepala seksi Pembangunan kecamatan Labuhan Maringgai.

Sutarno menyebut, sejumlah satwa bisa ditemukan untuk penelitian. Satwa yang secara alami menetap di sabuk hijau (green belt) hutan mangrove Sriminosari di antaranya burung bangau, ikan glodok, biawak, kepiting bakau serta berbagai jenis burung laut.

“Kawasan hutan mangrove memang sangat disukai sebagai habitat berbagai satwa dan kerap menjadi objek penelitian,” papar Sutarno.

Penambahan tanaman mangrove jenis Pidada menurut Sutarno merupakan upaya untuk memberdayakan masyarakat. Sebab jenis tanaman tersebut bisa dipergunakan untuk membuat sirup dan bisa disajikan kepada pengunjung.

Berkat pengembangan usaha wisata mangrove Sriminosari, kunjungan wisatawan meningkat setiap bulan. Sutarno memastikan saat hari biasa pengunjung bisa mencapai 300 hingga 500 orang, saat libur tahun baru mencapai 7.000 pengunjung dan saat liburan Idul Fitri mencapai 5.800 pengunjung.

Akses masuk sekaligus lokasi pembelian tiket di kawasan hutan mangrove Sriminosari kecamatan Labuhan Maringgai Lampung Timur [Foto: Henk Widi]
Mendapat pemasukan puluhan juta, hasil tersebut dipergunakan untuk pembenahan dan penambahan sejumlah fasilitas di antaranya saung bambu, mushola, toilet dan lokasi kuliner.

“Perbaikan trek jembatan bambu yang sudah berusia setahun dialokasikan dari hasil pendapatan tiket, meski kita sudah usulkan ke pemerintah untuk trek permanen dari beton,” papar Sutarno.

Meski sebagai sumber penghasilan bagi nelayan, pedagang makanan, Sutarno juga mengimbau warga tetap menjaga ekosistem. Sebagai kawasan hutan, berbagai larangan penangkapan ikan, penebangan hutan dan perusakan lingkungan diberlakukan. Pengunjung bahkan hanya diperbolehkan mengambil gambar dengan kamera terkait aktifitas burung, ikan dan satwa lain agar ekosistem hutan tetap terjaga.

Baca Juga
Lihat juga...