WVI Klaim Kesehatan Masyarakat Desa di NTT Meningkat

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

187

MAUMERE — Selama empat tahun, semenjak 2014 hingga 2018 menjalankan program Suara dan Aksi Warga Negara untuk Akuntabilitas Pemerintah dan Peningkatan Layanan Kesehatan Ibu dan Anak di 60 desa di kabupaten Kupang, Timor Tengah Utara dan Sikka, Wahana Visi Indonesia (WVI) menemukan adanya peningkatan kesehatan di masyarakat.

“Berdasarkan wawancara dengan warga desa, fasilitator desa, pemerintah desa dan penyedia layanan seperti kader Posyandu, kepala Puskesmas dan bidan desa menunjukan bahwa program ini telah menunjukan beberapa perubahan,” sebut Jhony Noya, Area Program Manager Wahana Visi Indonesia (WVI) Sikka, Jumat (8/6/2018).

Dikatakan Jhony, perubahan yang terjadi seperti meningkatnya pengetahuan masyarakat dan penyedia layanan mengenai standar layanan, peningkatan kepercayaan diri masyarakat untuk berbicara di depan umum dan menyamapikan pendapat terkait permasalahan yang terjadi.

Juga meningkatknya partisipasi masyarakat dalam perencanaan di desa, perhatian dan dukungan pemerintah desa terhadap kesehatan ibu dan anak, transparansi pemerintah desa, ungkapnya.

Selain itu tambah Jhonny, terjadi penambahan sarana dan pra sarana, akses ke layanan kesehatan ibu dan anak juga meningkat. Tenaga kesehatan di desa juga bertambah serta bidan desa yang semakin ramah dalam memberikan pelayanan.

“Penggunaan layanan kesehatan ibu dan anak semakin meningkat serta kerja sama yang semakin baik antara masyarakat, penyedia layanan dan pemerintah dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak di desa tersebut,” sebutnya.

Jhonny Noya
Jhony Noya, Area Program Manager Wahana Visi Indonesia (WVI) Sikka. Foto : Ebed de Rosary

Program yang dijalankan oleh WVI ini terang Jhonny dibiayai oleh bank dunia di mana program ini menggunakan pendekatan suara dan aksi warga negara yaitu sebuah pendekatan akuntabilitas sosial.

“Tujuan dari program ini untuk meningkatkan dialog antar masyarakat, penyedia layanan dan pemerintah dalam rangka meningkatkan akses dan kualitas layanan dasar, secara khusus layanan kesehatan ibu dan anak,” jelasnya.

Sementara itu, Plt. Bupati Sikka Drs. Paolus Nong Susar dalam membacakan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Akhir Bupati dan Wakil Bupati Sikka menjelaskan bahwa angka kematian ibu dan bayi di kabupaten Sikka masih sangat tinggi dimana kematian ibu dari target RPJMD sebesar 80 per 100 ribu kelahiran hidup baru tercapai 85,82 persen .

Angka kematian bayi pun lanjut Nong Susar dari target RPJMD sebesar 7 per 1.000 kelahiran hidup realisasinya baru mencapai 44,84 persen. Ini sebuah tantangan yang harus dihadapi bersama bukan cuma pemerintah namun juga semua lembaga swadaya masyarakat dan pemuka agama dan tokoh adat.

“Ini sebuah tantangan yang sangat berat bagi pemerintah agar angka kematian ibu dan bayi semkain rendah dan tidak terjadi lagi. Peran suami juga sangat dibutuhkan sehingga pemahaman masyarakat yang sudah terbentuk dengan adanya program dari WVI bisa membantu menurunkan secara drastis angka kesehatan ibu dan anak di Sikka,” pungkasnya.

Lihat juga...

Isi komentar yuk