Zaman Pak Harto, Negara Hadir Mengadvokasi Pancasila

Editor: Koko Triarko

288
YOGYAKARTA – Di masa kepemimpinan Presiden RI, HM Soeharto, Pancasila sebagai ideologi negara diakui begitu kuat menancap di seluruh lapisan elemen masyarakat. Negara dianggap selalu hadir dalam mengajarkan dan mengawal Pancasila. 
Hal itulah yang kini tidak dirasakan lagi, sejak berakhirnya pemerintahan Orde Baru, dan memasuki masa Reformasi. Pancasila sebagai dasar filosofi kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak lagi dianggap penting. Bahkan, dicap sebagai barang haram.
“Harus diakui zaman Pak Harto, negara hadir untuk mengedukasi dan mengadvokasi Pancasila. Walau terjadi pro dan kontra, namun saat itu negara benar-benar hadir. Pancasila sebagai ideologi dan filosofi bangsa dikenal semua rakyatnya. Walau kontrol kekuasan terlalu tinggi dan terlalu sentralistik hingga seolah memunculkan kebenaran tunggal,” ujar Ketua Pusat Studi Pancasila UGM, Heri Santoso.
Menurut Heri, kehadiran negara dalam mengajarkan dan menjaga ideologi Pancasila di zaman Orba, dapat dilihat dari dua hal. Yakni dari sisi kelembagaan dan pendidikan.
“Zaman Pak Harto, secara kelembagaan ada BP7 dan P4. Kegiatan banyak dilakukan seperti penataran dan sebagainya. Bahkan, masuk dalam undang-undang, masuk TAP MPR, sehingga posisinya sangat kuat. Namun, setelah reformasi TAP MPR Nomor 2 tahun 1978 dihapus begitu saja. Seolah Pancasila haram. Ini, kan fatal,” tegasnya.
Dikatakan Heri, munculnya slogan “Pie, Penak Jamanku, to”, merupakan salah satu bentuk keresahan dan kegelisahan masyarakat terhadap reformasi yang tidak kunjung menunjukkan hasil.
“Masyarakat menyadari ada yang salah dengan reformasi. Seperti hilangnya edukasi dan advokasi terhadap Pancasila. Hilangnya kehadiran negara. Baru belakangan ini muncul UKP PIP, lalu BPIP,” katanya.
Menurut Heru, jika sebuah negara ingin tetap bertahan dari berbagai ancaman, diperlukan sebuah ideologi negara yang kuat. Pasalnya, banyak negara di dunia ini hancur karena tidak memiliki idelogi. Sementara, Pancasila merupakan ideologi yang telah dilahirkan para pendahulu bangsa dan dinilai paling cocok di Indonesia.
Baca Juga
Lihat juga...