12 Desa Terpencil di Flores Mulai Nikmati Listrik

Editor: Koko Triarko

245
MAUMERE – Sejak awal 2018 hingga akhir Juni 2018, sebanyak 12 desa di tiga kabupaten di ujung timur Pulau Flores, yakni Kabupaten Sikka, Flores Timur dan Lembata, sudah menikmati listrik yang dipasang oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN).
“Memang hingga akhir 2017, baru 70 persen desa di tiga kabupaten ini yang menikmati listrik, sehingga awal tahun ini kami mulai mengejar pemasangan jaringan dan hingga saat ini ada penambahan lagi  12 desa terpencil,” sebut Arif Rohmatin, General Manager PT. PLN Area Flores Bagian Timur (FBT), Rabu (4/7/2018) siang.
General Manager PT. PLN Area Flores Bagian Timur (FBT), Arif Rohmatin. -Foto: Ebed de Rosary
Menurut Arif, 12 desa tersebut, yakni Bu Watuweti, Loke, Tuwa dan Poma di Kecamatan Tanawawo serta Desa Parabubu, Gera dan Liakutu di Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka.
Sementara untuk Kabupaten Flores Timur ada Desa Nusa Nipa dan Lamatutu di Kcamatan Tanjung Bunga dan di Kabupaten Lembata ada di Desa Tupabaran, Tapolangu dan Dikesare di Kecamatan Lebatukan.
“Sesuai target dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, tahun 2018 harus semua desa di seluruh Indonesia sudah berlistrik. Ini yang membuat kami terus mengeajr prosentasenya,” ungkapnya.
PLN Area Flores Bagian Timur (FBT), sebut Arif, memastikan hingga akhir tahun 2018 semua desa di tiga kabupaten yang berada di ujung timur Pulau Flores ini sudah bisa menikmati listrik. Paling lama awal 2019 target tersebut harus tercapai.
“Akhir tahun 2018 targetnya semua jaringan listrik sudah sampai di ibu kota desa, sehingga tahun 2019 akan dilakukan perluasan jaringan hingga ke dusun-dusun. Ini menjadi tantangan buat kami, sebab medan dan infrastruktur jalan di tiga kabupaten ini sangat memprihatinkan,” tuturnya.
Arif menegaskan, kondisi jalan yang rusak berat bahkan belum diaspal, membuat mobilisasi peralatan dan material seperti tiang listrik, kabel dan lainnya sulit dilakukan. Untuk itu, pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten untuk membantu mencari jalan keluar pendropingan material.
“Kalau untuk kepulauan di Kabupaten Sikka, seperti Parumaan, Kojadoi, Kojagete dan Sukun, direncanakan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), dan materialnya sedang didrop ke sana. Kalau untuk Pulau Pemana sudah sejak 2016 listrik beroperasi 24 jam,” terangnya.
Untuk Pulau Palue di Kabupaten Sikka, sambung Arif, pembangunan bangunan rumah untuk mesin dan kantornya sudah dilakukan dan rampung. Pemasangan jaringan juga sudah mulai dilakukan, sehingga sedang menunggu pendropingan mesin dan sudah bisa beroperasi paling lama akhir tahun 2018 nanti.
Bupati Sikka, Drs. Yoseph Ansar Rera, menegaskan, pembangunan jaringan lsitrik di Kabupaten Sikka tentunya mendapat perhatian dari pemerintah, yang juga fokus memperbaiki dan membangun jalan ke desa-desa terpencil, terutama wilayah barata Kabupaten Sikka yang selama ini sulit dijangkau.
“Pemerintah terus berupaya membangun jalan dan selalu berkoordinasi dengan pihak PLN, termasuk menginfromasikan kepada pemerintah desa, agar turut membantu menyadarkan masyarakat. Bila ada pemasangan jaringan listrik, masyarakat harus merelakan tanahnya dipergunakan untuk menancapkan tiang dan memangkas pohon yang menghambat jaringan kabel listrik,” ungkapnya.
Ansar berharap, agar kerja sama tersebut bisa memberikan kemudahan bagi PLN dalam mempercepat target pengerjaan pemasangan jaringan listrik, sehingga semua desa di kabupaten Sikka akhir tahun 2018 bisa menikmati listrik.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.