31 Desa di DIY Berisiko Tinggi Demam Berdarah

Editor: Koko Triarko

250
Mahasiswa program doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan, FKKMK UGM, -Foto: Ist/ Jatmika H Kusmargana
YOGYAKARTA – Daerah Istimewa Yogyakarta hingga saat ini masih menjadi salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki masalah soal pengendalian penularan penyakit demam berdarah atau Dengue. 
Menurut laporan Kemenkes RI, sejak 2004 -2013, DIY berada di posisi ketiga secara nasional dengan tingkat incidence rate (IR) sebesar 95,99 per 100 ribu penduduk, jauh di bawah target nasional 51 kasus untuk tiap 100 ribu penduduk.
Tiga dari lima Kabupatan/Kota di DIY, yakni Kota Yogyakarta, Sleman dan Bantul, diketahui merupakan daerah dengan tingkat IR tinggi.
Mahasiswa program doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan, FKKMK UGM, Agus Kharmayana Rubaya, menyebutkan, dari 206 desa/kelurahan di Kabupaten Sleman, Bantul dan kota Yogyakarta, sebanyak 31 desa/kelurahan teridentifikasi berisiko tinggi, 28 berisiko sedang dan 147 berisiko rendah.
Menurutnya, kelompok yang memiliki risiko tinggi terhadap penularan demam berdarah itu dipengaruhi oleh faktor cuaca yang memainkan peran penting dalam memprediksi jumlah kasus yang akan terjadi. Sebab, tingkat suhu udara, curah hujan dan kelembaban sangat mempengaruhi.
“Suhu udara berhubungan dengan percepatan laju perkembangan larva menjadi nyamuk dewasa, sehingga berdampak pada lebih awalnya infeksium dan meningkatnya jumlah rata-rata gigitan,” kata Agus, dalam ujian promosi doktor di UGM, belum lama ini.
Dalam penelitian disertasinya berjudul ‘Dinamika Kasus Dengeu sebagai Dasar Pengembangan Model Pemetaan Risiko Berbasis Wilayah di DIY’, Agus menyebutkan, karakteristik wilayah memiliki korelasi dengan daerah yang memiliki risiko penularan Dengue.
Menurutnya, wilayah perkotaan  dengan kepadatan penduduk tinggi memiliki risiko lebih besar dibanding dengan pedesaan dan wilayah dengan kepadatan penduduk yang lebih rendah.
“Hal tersebut mengkonfirmasi dan menguatkan faktor tersebut memang berkaitan dengan penyebaran Dengue,” katanya.
Untuk wilayah yang berisiko tinggi dan sedang, melalui model pemetaan risiko berbasis wilayah, jumlah kasus pada bulan tertentu dapat diprediksi secara linear berdasarkan jumlah kasus pada bulan yang sama di tahun sebelumnya.
Sedangkan untuk risiko rendah, menunjukkan, bahwa jumlah kasus Dengue pada bulan tertentu dapat diprediksi secata linear mengikuti pola musiman 12 bulanan.
“Meski demikian, pengendalian Dengue erat kaitannya dengan mobilitas penduduk antarwilayah, sehingga pendekatan multi analisis perlu dilakukan lewat lintas kabupaten dan kota,” pungkasnya.
Baca Juga
Lihat juga...