435 Hektare Lahan Pertanian di Parigi, Bergantung Hujan

206
Lahan pertanian, ilustrasi -Dok: CDN
PARIGI – Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikulura dan Perkebunan Kabupaten Parigi Moutong, Nelson Metubun, mengatakan daerahnya masih memiliki sekitar 453 hektare areal pertanian sawah tadah hujan.
Sawah ini menggunakan sistem pengairan yang sangat mengandalkan curah hujan, atau dikenal dengan padi gogo atau padi ladang.
“Lahan persawahan padi gogo tersebar di empat kecamatan di Parigi Moutong,” kata Nelson, di Parigi, Selasa (10/7/2018).
Empat kecamatan yang memiliki lahan sawah tadah hujan itu berada di Kecamatan Palasa seluas 104,75 hektare, Tinombo seluas 120 hektare, Parigi Tengah 75 hektare dan Kecamatan Kasimbar 153.25 hektare.
“Dari empat kecamatan, Kecamatan Kasimbar yang memiliki lahan cukup besar, namun realisasi di bulan April seluas 77 hektare, sementara di bulan Mei menurun hanya seluas 36 hektare,” ungkap Nelson.
Sektor pertanian padi merupakan komoditas unggulan di kabupaten itu yang saat ini masih menjadi salah satu daerah penopang ketahanan pangan nasional.
Meski begitu, padi gogo hanya sebagai pendukung di sektor pertanian padi, di mana masa tanam dan panen hanya dapat dilaukan setahun sekali, karena prosesnya hanya bergantung pada hujan, jika musim penghujan tiba, maka musim taman mulai berjalan.
Produksi padi gogo di kabupaten itu hanya sebesar 2,6 ton per hektare, atau sangat jauh dengan produksi padi sawah irigasi. “Sebagian masyarakat Parigi Moutong masih mempertahankan model pertanian tradisional, hanya mengandalkan hujan. Pertanian ini rata-rata masyarakat yang berada di wilayah pegunungan,” jelas Nelson.
Parigi Moutong di tahun ini menargetkan produksi padi sawah milik petani kurang lebih 307.976 ton, atau sekitar 30 persen dari total target Sulteng. Untuk mendukung target tersebut, maka luas pertanian padi di kabupaten itu ditetapkan 59.088 hektare. (Ant)
Baca Juga
Lihat juga...