75% Penderita HIV/AIDS di Bali Usia Produktif

Editor: Satmoko Budi Santoso

318

DENPASAR – 75% penderita HIV AIDS merupakan golongan usia produktif. Informasi tersebut disampaikan oleh pengelola program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali, Yahya Anshori, dalam orasinya di Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS) di Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar, Minggu (1/7/2018).

Lebih jauh dalam orasinya, Yahya menyampaikan, berdasarkan data yang dihimpun Dinas Kesehatan Provinsi Bali dari tahun 1987 hingga Mei 2018, di Bali ada sekitar 18 ribu lebih kasus HIV/AIDS yang tersebar di 9 kabupaten/kota se-Bali dan 75% adalah kelompok usia 15-39 tahun yang merupakan kelompok usia yang masih produktif.

Berdasarkan data tersebut juga terungkap bahwa kasus HIV/AIDS terbanyak ditemukan di Kota Denpasar sebesar 37,8% menyusul Kabupaten Badung 16,2% dan Kabupaten Buleleng 15,1% pada urutan kedua dan ketiga.

“Tingginya kasus HIV/ AIDS tersebut harus menjadi perhatian semua pihak tidak hanya pemerintah, masyarakat pun diharapkan ikut peduli terhadap penyakit mematikan tersebut,” ucap Yahya.

Menurutnya, cara kerja virus HIV/AIDS yaitu menyerang kekebalan tubuh seseorang yang terinfeksi dan penyebarannya sendiri dapat melalui kontak fisik melalui darah, jarum suntik, transfusi darah bahkan dari ibu kepada anak yang dikandungnya.

Untuk menanggulangi hal tersebut pihaknya sudah melakukan berbagai upaya penanggulangan HIV/AIDS. Termasuk dengan menggandeng stake holder terkait  di dalamnya melibatkan Kita Sayang Remaja (KISARA) Bali dan Kelompok Siswa Peduli AIDS serta Narkoba (KSPAN), untuk mensosialisasikan bahaya HIV/AIDS serta mengedukasi masyarakat terkait upaya pencegahan penyebaran penyakit tersebut.

“Remaja adalah usia yang sangat rentan terpapar AIDS, untuk itu mari tingkatkan kepedulian, tingkatan edukasi kepada masyarakat, bersama-sama kita tanggulangi dan cegah penyebaran HIV/AIDS,” imbuhnya .

Hal senada juga disampaikan oleh Adi Narendra selaku Wakil Ketua Forum Remaja Bali yang berada di bawah naungan Kisara Bali.

Menurutnya remaja merupakan kelompok usia yang sangat memegang peran penting dalam upaya pencegahan penyakit HIV/AIDS. Remaja bisa menjadi agen-agen untuk sosialisasi serta edukasi kepada masyarakat tidak saja terkait upaya pencegahan penyebaran HIV/ AIDS, namun dapat pula mengedukasi masyarakat.

Bagaimana seharusnya memperlakukan para penderita HIV/AIDS, mengingat banyak penderita HIV/AIDS yang dikucilkan di masyarakat. Padahal sesungguhnya dengan pengobatan yang tepat serta tahu persis cara penyebaran penyakit tersebut, penderita HIV/AIDS dapat hidup secara normal di tengah-tengah masyarakat .

“Oleh sebab itu, saya meminta ke depan pemerintah dapat menyusun program-program yang sejalan dengan kebutuhan para remaja dan remaja dapat dilibatkan dalam program tersebut,” tegas pria ini.

Baca Juga
Lihat juga...