936 Pesilat dari 4 Negara Unjuk Kebolehan di FSI 2018

Editor: Koko Triarko

277
PADANG — Sebanyak 936 pesilat dari empat negara, yakni Republik Suriname, Singapura, Malaysia, dan Republik Indonesia, memperagakan silat tradisi pada Festival Silat Internasional (FSI) 2018, di Kota Padang, Sumatera Barat.
Sekjen Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB-IPSI) Pusat, Erizal Chaniago, mengatakan, diselenggarakannya Festival Silat Indonesia 2018 ini sebagai bentuk melestarikan silat yang merupakan budayanya orang Indonesia dan induknya itu, ada di bumi Minangkabau, Sumatera Barat.
“Saya sangat menginginkan, agar dalam memperagakan silatnya dari berbagai daerah atau pun negara, untuk bisa menampilkan keaslian silat. Hal ini diharapkan, silat tidak punah, dan silat dikenal banyak orang,” katanya, di Padang, Kamis (12/7/2018).
Sekjen Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB-IPSI) Pusat, Erizal Chaniago/ Foto: M. Noli Hendra
Ia menjelaskan, peserta dari empat negara, yakni Suriname, Singapura, Malaysia, dan Indonesia, terdiri dari 6 tim, berjumlah 78 orang peserta. Dari Nusantara, diwakili 6 provinsi 10 tim dengan 300 orang. Sedangkan untuk kabupaten dan kota di Sumatera Barat ada 18 kabupaten dan kota dengan 558 orang peserta. “Jadi, jika dijumlahkan secara keseluruhan, pesertanya ada 936 peserta,” ucapnya.
Menurutnya, peserta Festival Silat Internasional yang diselenggarakan di Kota Padang, pada tahun ini jumlahnya lebih banyak dari tahun lalu.
Erizal berharap, iven untuk silat bisa lebih sering lagi diselenggarakan di berbagai daerah di Indonesia. Sementara kalau di Sumatera Barat, terbilang daerah yang cukup sering menggelar kegiatan yang berkaitan dengan silat.
Sebut saja untuk Festival Silat Internasional, Gelanggang Silih Berganti, dan festival silat tingkat kabupaten dan kota. Kegiatan ini bahkan diselenggarakan rutin setiap tahun. Alasan di daerah Sumatera Barat sering diselenggarakannya acara yang berkaitan dengan silat, karena induknya silat ada di Minangkabau.
Ketua Pelaksana sekaligus Kadispora Kota Padang, Azwin, mengatakan tujuan diselenggarakannya Festival Silat Internasional, untuk meningkatkan perkembangan dan prestasi silat di Kota Padang, khususnya Sumbar dan Nusantara.
Melalui kegiatan ini, juga diharapkan dapat meningkatkan silaturahmi pesilat Nusantara dan dunia. Serta bisa memberikan wadah pengalaman tanding bagi pesilat.
“Sembari melestarikan budaya silat, kegiatan ini juga turut berdampak kepada pariwisata di Kota Padang. Karena dengan jumlah peserta yang mencapai hampir seribu orang, jika dijumlahkan dengan pendamping peserta, turut menunjang pariwisata di Padang,” ucapnya.
Kegiatan Festival Silat Internasional ini diselenggarakan sejak 11-15 Juli 2018. Dipusatkan di salah satu ruangan berukuran besar yang ada di Hotel Kyriad Bumiminang Padang. Silat yang diperagakan ialah silat tradisi dan bukan silat pencak.
Ketua Umum IPSI Sumatera Barat, Fauzi Bahar, mengatakan untuk menyebarluaskan bela diri silat, diharapkan silat sudah bisa dimulai dari jenjang pendidikan sekolah dasar. Misalnya, di Kota Padang yang ada 416 SD Negeri, seandainya setiap SD diberikan kewajiban ekskul, maka dibutuhkan 416 guru atau pendekar untuk melatih.
“Maka iven inilah yang bisa menumbuhkan pendekar baru, apalagi bila silat dipertandingkan. Silat perlu dimulai dari sejak dini,” katanya.
Baca Juga
Lihat juga...