Ada Dua Wartawan di Balik Sutradara Pengkhianatan G 30 S/ PKI

Editor: Mahadeva WS

6.297

JAKARTA – Embie C. Noer, penata musik film Pengkhianatan G 30 S/ PKI menyebut, dibalik penyutradaraan film yang di masa orde baru selalu diputar setiap 30 September tersebut, ada dua orang wartawan yang memiliki peran.

Arifin C Noer ditunjuk menjadi sutradara film Pengkhianatan G 30 S/ PKI, saat seorang wartawan Istana Pak Dipo sedang jogging dengan wartawan Majalah Tempo Goenawan Mohamad. “Pak Dipo menginformasikan pada Mas Goenawan, bahwa Pak Harto rencananya akan membuat film Sejarah Orde Baru dan menanyakan siapa yang sebaiknya menjadi sutradara. Setelah berdiskusi, Mas Goenawan mengusulkan Mas Arifin yang menjadi sutradara film ‘Pengkhianatan G 30 S/ PKI’ dan Pak Dipo menyetujuinya, dan kemudian di follow up,“ ungkap Embie C. Noer kepada Cendana News di Kantor KFT (Karyawan Film dan Televisi), di Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI), Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (4/7/2018).

Lelaki kelahiran Cirebon, Jawa Barat, 17 Juli 1955 itu membeberkan, sebelumnya Arifin C Noer lebih banyak memproduksi film dengan Perum PFN (Produksi Film Negara). Diantaranya yang diproduksi film Harmonikaku (1979), kemudian Yuyun Pasien Rumah Sakit Jiwa (1979), Serangan Fajar (1981), Pengkhianatan G-30-S PKI (1982), dan Djakarta 1966 (1982).

Embie C. Noer, penata musik film Pengkhianatan G 30 S PKI (Foto Akhmad Sekhu)

“Saya hanya melihat Mas Arifin dipanggil oleh Perum PFN untuk mengerjakan project-project filmnya, yang dimulai dari film drama keluarga “Harmoniku’, “ beber Ketua Bidang Musik Lembaga Seni dan Budaya PP Muhammadiyah.

Menurut Embie, proses riset pembuatan film Pengkhianatan G 30 S/ PKI sebenarnya sama dengan pembuatan film Serangan Fajar maupun Djakarta 1966. Arifin C Noer mengumpulkan sebanyak mungkin data-data maupun kliping-kliping untuk keperluan penulisan skenarionya.

“Tapi film Pengkhianatan G 30 S/ PKI memang lebih rumit karena banyak sekali tokoh-tokoh sejarah yang harus disurvey, termasuk Mas Arifin pernah satu kali diterima Pak Harto untuk bicara langsung dengan Beliau,” ujar Peraih Penghargaan Piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI) 1982  Kategori Tata Musik Terbaik berkat film Serangan Fajar.

Arifin C Noer memiliki banyak tim yang bekerja. Bahkan teman-temanya dari Yogyakarta dan Cirebon diperbantukan untuk melakukan riset. “Jadi ada yang datang ke Sinematek, dan ada juga yang datang ke berbagai perpustakaan, untuk mengumpulkan materi-materi sebagai bahan penulisan skenarionya, di samping data-data itu, juga data dari Pemerintah,“ papar peraih Piala Festival Film Bandung sebagai Penata Musik Terpuji (1989).

Embie menyebut, proses produksi film Pengkhianatan G 30 S/ PKI memakan waktu dua tahun. Mulai dari diwacanakan, persiapan, diproduksi sampai didistribusikan dan diputar di bioskop seluruh pelosok Indonesia. “Filmnya cukup panjang dan komplek,” simpulnya.

Untuk penataan musik, Embie mengaku sudah terbiasa mengerjakan penataan musik karya Arifin C Noer, baik di panggung teater maupun film. “Apalagi saya dan Mas Arifin satu rumah jadi kami bisa melakukan diskusi cukup intens, baik di kantor dan juga di rumah,” tambahnya.

Pertengahan Ramadan lalu, Embie bersama istri dan anaknya melakukan ziarah ke Makam Pak Harto. “Iya saya seperti ke makam orangtua karena bagaimana pun Pak Harto adalah orangtua kami sebagai rakyat Indonesia,” ucapnya mantap.

Embie menganggap film Pengkhianatan G 30 S/ PKI dikerjakan dengan tanggung jawab dan profesional yang tinggi. Artinya secara sinematografi bisa dipertanggungjawabkan, termasuk juga dari segi artistik dan sisi-sisi lainnya. “Diputar setiap tahun pada 30 September untuk memperingati Hari Kesaktian Pancasila, saya merasa bangga karena film itu semakin sering diputar semakin terasa kekuatannya,” tandasnya dengan bangga.

Adapun, saat ini film tersebut sudah tidak lagi diputar pada 30 September, Embie menganggap kalau itu di luar persoalan film. Hal itu lebih dikarenakan dinamika persoalan politik. “Saya menghargainya, karena punya pertimbangan dan sudut pandang berbeda,” tuturnya.

Sejarah besar di Indonesia disebutnya, jarang dibuat film. Terlebih digarap hingga memiliki kualitas dan sinematografi seperti Pengkhianatan G 30 S/ PKI. “Saya merasa film Pengkhianatan G 30 S/ PKI sangat menyakinkan sebagai karya seni, khususnya dalam mengungkapkan peristiwa sejarah besar di Indonesia,” tegasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.