Agar Mandiri, Sejumlah Penyandang Disabilitas Belajar Membatik

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

194

YOGYAKARTA — Sejumlah penyandang disabilitas di Pondok Pesantren Al-Amin kampung Basen Kotagede Yogyakarta nampak sibuk. Dengan kondisi fisik yang kurang sempurna, mereka tetap berusaha membuat karya batik dari bahan alami berupa daun-daunan.

Ada penyandang tuna rungu yang harus diarahkan dengan bahasa isyarat agar bisa menggambar motif sesuai pola. Ada pula penyandang tuna daksa yang nampak kesulitan membubuhkan lilin malam. Namun satu yang pasti, semangat dan rasa kebersamaan mereka nampak luar biasa.

Itulah gambaran suasana pelatihan membatik yang digelar sejumlah Mahasiswa UNY pada para penyandang disabilitas di rumah singgah Ponpes Al-Amin. Sejak Mei lalu, lima mahasiswa dari jurusan Pendidikan Luar Biasa dan Jurusan Seni Kriya, UNY melakukan kegiatan Progran Kreativitas Mahasiswa dengan membekali penyandang disabilitas ketrampilan.

“Para penyandang disabilitas biasanya sulit mendapatkan pekerjaan karena keterbatasan mereka. Padahal mereka butuh pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Karena itulah kita menggelar pelatihan ketrampilan ini agar mereka bisa mandiri dengan mendirikan usaha,” ujar Istikomah, salah seorang mahasiswa.

disabilitas membatik
Mahasiswa UNY, Istikomah. Foto: Jatmika H Kusmargana

Istikomah mengaku memilih kerajinan batik eko printing karena pembuatannya cenderung lebih mudah. Sehingga para penyandang disabilitas diharapkan tidak kesulitan untuk memproduksi batik tersebut.

Terlebih di Yogyakarta khususnya di Kotagede banyak terdapat produsen batik, sehingga diharapkan dapat membantu pemasaran produk hasil karya para penyandang disabilitas.

“Mayoritas penyandang disabilitas yang kita latih ini tidak bekerja. Mereka hanya berdiam diri saja. Kebanyakan adalah yang memiliki keterbatasan fisik. Seperti tuna rungu, tuna wicara, tuna daksa hingga penderita polio,” katanya.

Batik eko printing sendiri, dijelaskan Istikomah, merupakan jenis batik yang mengkombinasikan batik tulis dan batik yang memanfaatkan serat bahan alam sebagai pewarnaannya. Seperti misalnya daun daunan. Proses pembuatan dilakukan dengan menempelkan daun bergetah seperti daun jati atau daun katub pada kain.

Daun kemudian dipukul pelan hingga getah menempel pada kain. Setelah itu kain dikukus selama 1 jam agar warna dari getah daun keluar. Jika ingin dibuat tambahan motif, bisa digambar dengan lilin malam sesuai pola yang diinginkan. Setelah itu lakukan proses pewarnaan, lalu jemur hingga kain siap dipasarkan.

“Selain dibuat produk berupa kain, kita juga melatih membuat berbagai barang seperti tas, dompet, baju atau kaus hingga jilbab. Kendalanya memang harus diajarkan secara pelan-pelan, karena mereka memiliki keterbatasan,” katanya.

disabilitas membatik
Sejumlah penyandang disabilitas tampak sedang sibuk belajar membuat batik eko printing. Foto: Jatmika H Kusmargana

Para mahasiswa sendiri berharap agara pelatihan yang mereka lakukan bisa diteruskan oleh para penyandang disabilitas untuk memulai usaha. Ia juga mengaku akan terus mendampingi mereka, termasuk berupa membantu dari sisi pemasaran. Salah satunya dengan menjalin kerja sama dengan pihak lain.

Sementara itu salah seorang penyandang disabilitas, Slamet (32) asal Semarang mengaku senang dengan adanya pelatihan ini. Meski cukup kesulitan karena tak bisa berjalan dan harus selalu menggunakan kursi roda, ia nyatanya mampu menyelesaikan batik karyanya.

“Bagus sekali, sangat bermanfaat untuk menambah ilmu,” ujarnya.

Senada, penyandang disabilitas lainnya Siti Sumaroh (40) asal Cilacap mengaku antusias mengikuti pelatihan membatik ini. Ia yang sebelumnya juga pernah ikut pelatihan serupa mengaku ingin memanfaatkan ketrampilan baru nya ini untuk memulai usaha.

“Dulu pernah ikut, tapi hanya proses membatiknya saja. Tidak sampai pewarnaan. Kalau disini dari awal sampai finishing diajarkan. Rencananya saya ingin kembangkan keterampilan ini untuk bikin usaha di Cilacap,” ucapnya.

Baca Juga
Habib Syeh: Hindari Hoaks dan Kampanye Hitam YOGYAKARTA – Ribuan jemaah tumpah ruah di Alun-alun Utara Kota Yogyakarta, dalam tablig akbar, shalawatan dan doa yang digelar POLDA DIY, Minggu (16/9...
Perempuan Indonesia Harus Siap Hadapi Revolusi Ind... YOGYAKARTA --- Ketua Dewan Pertimbangan Presiden, Sri Adiningsih, menyampaikan bahwa perempuan Indonesia sebagai ibu banga harus siap menghadapi era i...
Kalitalang Bangkit dari Bencana Jadi Ekowisata Mer... YOGYAKARTA - Situasi Merapi, gunung api teraktif di Indonesia yang terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta, tengah mengalami p...
Pusat Studi Pancasila UGM: BP7 Lebih Efektif dari ... YOGYAKARTA - Ketua Pusat Studi Pancasila UGM, Heri Santoso, menyebut Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasi...
Zaman Pak Harto, Negara Hadir Mengadvokasi Pancasi... YOGYAKARTA - Di masa kepemimpinan Presiden RI, HM Soeharto, Pancasila sebagai ideologi negara diakui begitu kuat menancap di seluruh lapisan elemen ma...
Masjid YAMP Al Amin, Pusat Kegiatan Peribadatan di... YOGYAKARTA - Terletak di Jalan Nasional Jogja-Wates, tepatnya di Dusun Klebakan, Salamrejo, Sentolo, Kulon Progo, Masjid Al-Amin nampak berdiri megah....
Perias Pernikahan Cucu HM Soeharto Bawa Sejumlah U... YOGYAKARTA --- Perias pengantin upacara pernikahan cucu presiden ke-2 RI HM Soeharto, asal Yogyakarta, Tienuk Rifki membawa sejumlah sajen dan 12 oran...