Akses Data, Tantangan Penerapan Big Data

Editor: Koko Triarko

214
Erwin Rijanto, Dewan Gubernur Bank Indonesia. -Foto: Sultan Anshori.
BADUNG – Bank Indonesia (BI) Bali sebagai salah satu penyelenggara Annual Meeting IMF, yang akan digelar di Bali pada Oktober mendatang, mempersiapkan diri dengan mengadakan seminar Internasional Big Data di Nusa Dua, Bali, Kamis, (26/7/2018).
“Kegiatan ini juga sebagai ajang promosi Bali sebagai host dalam penyelenggaraan IMF. Jadi, di sini adalah series program kegiatannya. Bahkan, tidak hanya ini, kegiatan lain akan segera menyusul,” kata Erwin Rijanto, Dewan Gubernur Indonesia, di sela acara.
Erwin mengaku memang sudah berharap sejak jauh hari, agar acara IMF itu digelar di Bali. Hal tersebut karena semua negara akan membahas sektor ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Dan, salah satunya akan membahas tentang digital ekonomi.
“Secara prinsip, kami sudah siap untuk menyambut iven bergengsi bank dunia tersebut,” imbuh Erwin.
Saat ditanya soal kegiatan seminar internasional big data, ia menjelaskan, bahwa kegiatan ini memang salah satu inisiatif BI, bekerja sama dengan lembaga internasional, karena peranan big data dalam pembuatan keputusan sangat penting.
Dengan menggunakan big data tersebut, katanya, kita lebih cepat dan tepat untuk daya prediksi terkait data yang berhubungan dengan digitalisasi.
Salah satu manfaatnya adalah saat perumusan kebijakan, di antaranya analisis moneter, makroprudensial dan stabilitas sistem keuangan serta menciptakan kebutuhan informasi dan riset baru.
Selain itu, katanya, manfaat lain yang diperoleh oleh bank sentral adalah adanya indikator baru yang lebih cepat dan lebih sering, dan pemetaan keterkaitan antarpelaku keuangan, melalui analisis jaringan untuk memitigasi risiko sistemik sistem keuangan.
“Selain itu, adanya indikator terkait perilaku ekonomi, melalui analisis dan pembelajaran data transaksional, dan data tidak terstruktur, seperti pemberitaan dan media sosial. Sekarang ini sudah 30 persen yang digunakan, termasuk Central Bank. Dan, setiap waktu jumlahnya terus meningkat. Ini membuktikan ke depan data secara digitalisasi tersebut menunjukkan tren positif,” kata Erwin.
Sementara itu, menurut Yati Kurniati, Direktur Eksekutif Departemen Statistik BI Pusat, selama menjalankan big data sejak 2014, tantangan yang dihadapi pihak BI adalah soal akses data.
Kesediaan dari perusahaan atau pun portal-portal digital untuk men-share data secara detail. Karena, katanya, big data yang bersifat behavior, transaksi yang dilakukan oleh e-commerce, kita harus mempunyai akses terhadap e-commerce tersebut secara granular.
“Transaksi bagaimana sektornya, jenis barangnya apa, dan paling banyak peminatnya, ya semacam itulah. Dan, alhamdulillah BI sudah bisa mencakup sekitar 60 persen transaksi yang bersifat e-commerce besar di Indonesia. Dan, kami sampai saat ini juga lebih meningkatkan akses ke beberapa perusahaan lain seperti perusahaan otomotif. Agar transaksi dunia otomotif untuk membentuk leading indikator ekonomi ke depan. Jadi, bagaimana demain dan suplay otomotif, permintaan properti, bagaimana permintaan tenaga kerja itu dilakukan ekstrak datanya dari portal online”, bebernya.
Namun, lanjutnya, sampai saat ini akses portal ini sangat minim sekali, sementara untuk portal media online dari luar Jawa, hasilnya kurang maksimal. Baik kualitas gambar serta tulisan, misalnya permintaan tenaga kerja atau lowongan kerja dan sebagainya.
Karena itu, diharapkan kepada para pemilik media online yang berada di luar Jawa, agar lebih meningkatkan lagi kualitasnya.
Seminar dihadiri oleh puluhan delegasi dari berbagai negara di dunia.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.