Aksi Brutal ‘Geng Klitih’ di Jogja: Visi Misi Membunuh atau Dibunuh

Editor: Koko Triarko

591
YOGYAKARTA – Maraknya aksi kekerasan melibatkan remaja di bawah umur atau biasa disebut “klitih” di Yogyakarta, dinilai sebagai dampak kurangnya perhatian orang tua dan sekolah terhadap masa tumbuh kembang anak-anak dari remaja ke dewasa.
Para pelaku klitih dinilai merupakan korban indoktrinasi dari adanya geng sekolah. Sehingga, pelaku kekerasan klitih tidak bisa disebut sebagai pelaku kenalakanan remaja atau pelaku tindak kriminal.
Hal itu diungkapkan sejumlah pembicara dalam seminar ‘Membongkar Akar dan Mencari Solusi Masalah Klitih’, di Gedung Soegondo Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Kamis (12/07/2018).
Salah seorang narasumber, Bagian Psikologi Polda DIY, AKP Muhtar Efendi, menyebutkan, rata-rata pelaku klitih yang ditangkap oleh Polda DIY berusia di bawah umur 17 tahun. Menurutnya, para pimpinan geng aksi klitih ini mengerti, bahwa anak di bawah umur tidak bisa dipidanakan.
“Anggota geng yang sudah berusia 17 tahun, hanya berada di belakang layar,” kata Muhtar.
Menurut Muhtar, para pelaku aksi klitih ini berasal dari anggota geng sekolah SMA. Hampir setiap sekolah SMA memiliki geng yang visi misinya melakukan aksi kekerasan, atau bahkan membunuh anak laki-laki dari siswa sekolah lain.
“Tapi, biasanya setiap sekolah mengingkari ada geng di sekolahnya, karena kita tahu aktivitas geng ini mirip gerakan bawah tanah,” imbuhnya.
Dari hasil investigasinya terhadap beberapa anggota geng sekolah yang sudah ditangkap, ia menyebutkan geng pelaku klitih paling banyak berada di Kota Yogyakarta, yakni 35 geng, selanjutnya 15 geng klitih di Sleman, 16 geng di Bantul, 4 di kulonprogo dan 1 geng dari satu sekolah di Gunungkidul.
Lebih lanjut, dijelaskan, dari pengakuan sejumlah pelaku anggota geng, mereka mengaku sering menjadikan warung burjo atau angkringan sebagai tempat untuk berkumpul. Mereka juga kerap mencari korban, yakni anak laki-laki dari SMA lain yang menjadi musuhnya.
“Visi misi mereka itu membunuh atau dibunuh, dengan membawa seragam korban sebagai bukti dan senjata yang dipakai untuk membunuh akan dijadikan ‘pusaka’ bagi geng mereka,” katanya.
Setiap melakukan aksinya, kata Muhtar, para pelaku tidak sendirian. Tapi secara bersama-sama dengan pembagian tugas satu sama lain. Biasanya, aksi klitih ini tidak terencana, sebagaimana terjadi pada kasus korban mahasiswa UGM yang meninggal serta pembacokan di Wirobrajan.
“Awalnya, mereka hanya berkumpul di warung burjo dengan membawa lima motor berboncengan,” katanya.
Muhtar mengaku prihatin terhadap para remaja yang melakukan aksi klitih yang menyebabkan korban meninggal dunia. Dia juga tidak menyangka, bahwa pelaku klitih ini umumnya penduduk asli Yogyakarta.
“Antara lucu, sedih, dan tragis, saya menganggap Yogyakarta punya budaya yang khas orang Jawa, tidak suka kekerasan, tidak suka menggunakan senjata tajam. Tapi, semua yang kami periksa, pelakunya asli orang Yogyakarta, meski beberapa ada pendatang,” tuturnya
Sementara itu, Dosen Psikologi UGM, Dr. Arum Febriani, MA., mengatakan berdasarkan penelitian yang mereka lakukan terhadap pelaku klitih yang saat ini masuk dalam pengawasan Lembaga Pembinaan Khusus Anak ,diketahui para pelaku ini sebagian besar adalah laki-laki, meski ada satu orang perempuan.
Setelah dilakukan tes psikologi, diketahui para pelaku aksi klitih ini memiliki kematangan emosi yang rendah dan kurang mendapat perhatian dan pengawasan dari orang tua.
Dikatakan Arum, relasi buruk dengan orang tua dan pernah memiliki riwayat kekerasan fisik di keluarga, menjadikan para pelaku ini memiliki komitmen kuat dengan kelompok geng sekolah, karena merasa senasib.
“Semua pelaku merasakan hilangnya figur ayah mereka, selalu merindukan sosok ayahnya,” katanya.
Dari penelitian tim psikologi UGM itu juga diketahui, para pelaku aksi klitih ini memiliki motivasi rendah di bidang akademik, karena motivasi belajar yang rendah dan pernah memiliki riwayat drop out dari sekolah. Di samping hubungan keluarga yang kurang harmonis.
“Mereka memiliki kematangan emosi yang buruk, hubungan dengan ayah dan ibu kurang hangat, tapi kedekatan dengan kelompok sangat kuat, bahkan mereka mengaku rela mati demi kelompok geng tidak masalah, bahkan merasa terhormat,” katanya.
Sosiolog UGM, Dr.s Soeprapto, menyebut aksi klitih marak terjadi sejak adanya peraturan dari Wali Kota Yogyakarta yang menindak tegas peserta aksi tawuran dengan ancaman mengeluarkan mereka dari sekolah. Alhasil, antargeng sekolah mencarikan musuhnya sendiri dengan melakukan aksi klitih.
Lemahnya pengawasan dari orang tua dan sekolah menjadikan pelajar bisa direkrut masuk menjadi anggota kelompok geng, yang melakukan perbuatan menyimpang.
“Makin melemahnya fungsi keluarga karena orang tua tidak melakukan sosialisasi budaya, nilai dan norma,” ujarnya.
Menurutnya pula, orang tua diharuskan untuk memberi perhatian serius dan melakukan pengawasan setiap aktivitas anaknya selama menempuh pendidikan di bangku sekolah SMA.
Soal penegakan hukum, Soeprapto berpendapat, penanganan aksi klitih ini tidak bisa selesai hanya sampai pada penegakkan hukum pelakunya, namun mengusut tuntas siapa dalang di balik setiap aksi kekerasan klitih yang terjadi di Yogyakarta selama ini.
“Jangan hanya sampai pada pelaku, semua ditindak dengan tidak pandang bulu,” katanya.
Baca Juga
Lihat juga...