Aktivis Buruh Desak Pemkab Flotim Perbaiki Akses Jalan Kabupaten

Editor: Koko Triarko

271
LARANTUKA – Pemerintah Kabupaten Flores Timur (Flotim), diminta untuk mengaspal jalan kabupaten sepanjang 30 kilometer, yang menghubungkan Desa Pamakayo di bagian timur, dengan dengan Desa Tana Lein dan beberapa desa lainnya di bagian barat yang berada di Kecamatan Solor Barat.
“Jalan darat yang menghubungkaan wilayah timur dan barat kecamatan Solor Barat Pulau Solor sudah sekitar 10 tahun ini belum diaspal kembali. Jalannya sangat jelek. Aspal jalan sudah terkelupas semua,” sebut Noben da Silva, aktivis buruh dan HAM, Senin (16/7/2018).
Noben da Silva, Aktivis Buruh dan HAM yang merupakan warga asli Flores Timur. -Foto: Ebed de Rosary
Kepada Cendana News, Noben saapannya, berharap agar pemerintah segera membangun jalan ini untuk membuka akses warga desa di bagian barat Pulau Solor, dengan bagian timur dan dengan wilayah selatan Pulau Solor. Selama ini, katanya, masyarakat kesulitan, sebab biaya transportasi pasti mahal dan waktu tempuh menjadi semakin lama.
“Dari Ritaebang sebagai ibukota kecamatan menuju Pamakayo saja bisa memakan waktu satu jam. Padahal, jaraknya sekitar 20 kilometer. Rusaknya jalan juga membuat angkutan pedesaan sulit melintasi jalan ini, apalagi di musim hujan,” tuturnya.
Noben meminta, agar sebagai wilayah kepulauan yang terpisah dari Pulau Flores, seharusnya Solor mendapatkan perhatian lebih, sebab akses ke setiap desa harus melewati jalan darat. Kalau lewat laut, biayanya lebih mahal dan tidak ada kapal yang memiliki rute antarkecamatan di Pulau Solor.
“Kalau jalannya bagus, tentu masyarakat di desa-desa di kecamatan Solor Barat, bisa menjual hasilnya ke Pamakayo atau Ritaebang dengan biaya transportasi yang murah. Selama ini, masyarakat hanya menunggu menjual hasilnya seminggu sekali saat hari pasar di Ritaebang atau Pamakayo,” jelasnya.
Selain di Solor Barat, tambah Noben, beberapa ruas jalan di Solor Timur dan Solor Selatan juga perlu diperbaiki, meski kondisnya tidak terlalu parah dibandingkan dengan di kecamatan Solor Barat. Akan lebih baik kalau ada jalan yang menghubungkan ketiga kecamatan di pulau Solor ini, dan kondisinya pun harus bagus.
“Dibandingkan dengan Pulau Adonara yang memiliki delapan kecamatan, kondisi jalan di Pulau Solor tentu sangat jauh berbeda. Hampir semua jalan di Pulau Adonara sudah beraspal mulus, apalagi jalan yang menghubungkan wilayah-wilayah di pegunungan,” terangnya.
Wakil Bupati Flores Timur, Agustinus Payong Boli, mengatakan, pemerintah memang kesulitan untuk mencari kontraktor yang mau membangun jalan di Pulau Solor, sebab di daerah ini tidak ada pasir dan harus mendatangkannya dari Desa Nobo, Kecamatan Ilebura.
“Untuk batu kerikil sudah ada perusahaan yang membangun Asphalt Mixing Plant (AMP) dari luar daerah, sehingga tentunya akan lebih mudah membangun jalan aspal di Pulau Solor. Tapi sampai sekarang, pasirnya juga harus diambil dari daratan Pulau Flores, seperti di Nobo, Kecamatan Ile Bura atau di Pulau Adonara,” sebutnya.
Ketiadaan pasir dan sulitnya air bersih inilah, kata Agus, membuat kontraktor tidak berani menerima pengerjaan pengaspalan jalan di Pulau Solor, sebab takut mengalami kerugian, sebab harga beli pasir hingga pendropingan ke Pulau Solor sangat besar.
“Pemerintah tentunya sudah memikirkan hal ini dan sebagai bupati dan wakil bupati yang baru setahun menjabat, kami sudah berkomitemen untuk membangun semua jalan, baik di Flores daratan maupun di Pulau Solor, agar membuka isolasi dan meningkatkan ekonomi masyarakat,” sebutnya.
Sejak melintas dari Pamakyo menuju Ritaebang menggunakan sepeda motor, kondisi jalan aspal hampir semua ruas jalan sepanjang sekitar 20 kilometer tersebut mengalami kerusakan parah. Aspal jalan sudah terkelupas semua dan bebatuan berserakan di badan jalan.
Hanya sekitar dua kilometer saja jalan yang beraspal mulus dan terlihat baru dikerjakan saat melintasi Desa Dani Wato. Saat musim hujan, parktis jalan ini sulit dilewati oleh sepeda motor, terutama di beberapa tanjakan.
Baca Juga
Lihat juga...