Alat Tua Menjadi Kendala Produksi Minyak Atsiri di Kulonprogo

295

YOGYAKARTA – Sejumlah produsen minyak atsiri di kawasan Perbukitan Menoreh, Girimulyo, Kulonprogo tidak bisa lagi memproduksi minyak nabati dengan aroma khas tersebut.

Terhentinya prosuksi disebabkan keterbatasan sarana prasarana berupa alat produksi yang dimiliki. Selain masih mengandalkan alat tradisional, sejumlah alat produksi yang dimiliki sudah tua sehingga sering rusak.

Seperti yang dirasakaan seorang produsen minyak atsiri tradisional asal dusun Kembang, Jatimulyo, Girimulyo, Kulonprogo, Dul Hadi. Ditemui Cendananews Hadi mengaku tidak bisa lagi memproduksi minyak atsiri berbahan baku daun cengkeh seperti biasanya.

Produsen minyak atsiri tradisional asal dusun Kembang, Jatimulyo, Girimulyo, Kulonprogo, Dul Hadi menunjukan bagaian ketel yang rusak karena bocor – Foto: Jatmika H Kusmargana

Alat berupa ketel pembakaran yang dimilikinya rusak sejak beberapa bulan terakhir. Padahal ketel uap tersebut merupakan alat utama untuk memproses daun cengkeh menjadi minyak atsiri, memasak daun untuk diambil uapnya. “Sudah beberapa bulan tidak bisa produksi. Kendalanya karena jeding (ketel) rusak. Bocor di beberapa bagian. Saat ini kita masih menunggu tenaga yang akan memperbaiki,” ujarnya, Selasa (3/7/2018).

Selama 18 tahun lebih menjadi produsen minyak atsiri, Hadi mengakui masih menggunakan ketel uap tradisional untuk menjalankan usahanya. Alat tersebut merupakan peninggalan orangtuanya yang juga seorang produsen minyak atsiri.  “Sejak dulu memang pakai jeding ini. Belum pernah ganti. Memang sering bocor. Biasanya kalau bocor ya ditambal. Maklim sudah tua,” ujarnya.

Hadi mengaku terpaksa tetap memakai alat produksi ketel uap tua karena keterbatasan modal. Ia mengaku tak memiliki cukup dana untuk membeli ketel uap berkapasitas 1 ton yang harganya lebih dari Rp 40 juta. “Kalau beli mahal. Tidak punya modal, jadi ya terpaksa tetap memakai ini. Walaupun sering rusak,” ungkapnya.

Sebelumnya, Hadi pernah mengajukan proposal bantuan kepada Pemkab Kulonprogo agar dibantu permodalan berupa satu set alat produksi ketel uap. Namun hingga kini proposal bantuan tersebut belum juga disetujui apalagi terealisasi.  “Kita sangat berharap adanya bantuan dari pemerintah. Karena kalau membeli sendiri kita jelas tidak mampu,” keluhnya.

Dengan ketel uap bekapasitas 1 ton, Hadi bisa menghasilkan 20-22 kilogram minyak atsiri. Jumlah tersebut dapat menurun 15 kilobgram minyak, jika kualitas daun cengkeh yang pakai sebagai bahan baku utama kurang baik.  “Untuk harganya satu kilo minyak atsiri berkisar antara Rp180ribu-Rp200ribu perkilogram. Biasanya disetor ke perusahaan di Purwokerto untuk diolah kembali,” ungkapnya.

Di kawasan perbukitan Menoreh Kulonprogo, banyak terdapat produsen minyak atsiri tradisional yang masih menggunakan alat sederhana. Di kawasan tersebut banyak terdapat pohon cengkeh yang merupakan baham baku utama pembuatan minyak atsiri. Selain memproduksi minyak atsiri dari daun cengkeh, warga biasanya juga memproduksi minyak atsiri dari daun nilam atau biasa disebut minyak nilam. Dibanding minyak atsiri daun cengkeh, nilai ekonomi minyak nilam jauh lebih tinggi. Yakni mencapai Rp600 ribu perkilogram.

Baca Juga
Lihat juga...