banner lebaran

Alga Hijau, Alternatif Pengobatan Mastitis pada Sapi Perah

Editor: Koko Triarko

176
YOGYAKARTA – Masih tingginya kasus mastitis pada ternak di Indonesia, menjadi salah satu penyebab tidak maksimalnya produksi susu nasional saat ini. Mastitis merupakan penyakit yang sangat merugikan peternak, karena ambing sebagai produksi susu mengalami kerusakan akibat infeksi mikroba pathogen. 
Selama ini, penanganan mastitis masih menggunakan antibiotik konvensional. Namun, penggunaan antibiotik yang terus-menerus justru berpotensi meningkatkan residu antibiotik dalam susu, dan berpotensi terjadinya peningkatan resistensi bakteri terhadap antibiotik itu sendiri.
Mengatasi persoalan tersebut, tiga Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, yaitu Marista Kurniati, Dion Adiriesta Dewanda, dan Yusuf Farid Achmad, yang tergabung dalam tim PKM-PE, memanfaatkan potensi Alga Hijau (Ulva fasciata) sebagai solusi pengobatan alami penyakit mastitis.
Di bawah bimbingan Dosen dan sekaligus Dekan FKH UGM, Prof. Dr. drh. Siti Isrina Oktavia Salasia, para mahasiswa memanfaatkan kelimpahan sumber daya kelautan Indonesia itu sebagai solusi alternatif pengobatan mastitis, terutama akibat Methicillin Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA) pada hewan ternak.
Menurut  Marista Kurniati, Alga Hijau banyak tersebar di Indonesia, terutama di wilayah pantai Gunungkidul, dan selama ini belum dimanfaatkan optimal oleh masyarakat. Padahal, tumbuhan ini memproduksi metabolit alami yang bersifat antibakteri, antiinflamatori, antiproliferstif, antiviral, dan antioksidan.
“Senyawa bioaktif Ulva fasciata berpotensi sebagai obat alami berbagai penyakit infeksi. Termasuk mengatasi mastitis pada ternak. Karena sejumlah penelitian menyebutkan, resistensi antibiotik pada kasus mastitis pada sapi cukup tinggi, mencapai 56,1 persen,” kata Marista Kurniati, di Kampus FKH UGM, Jumat (13/07/2018).
Hamparan Alga Hijau di kawasan pesisir Pantai Selatan Gunungkidul, Yogyakarta –Foto: Ist./ Jatmika H Kusmargana
Penelitian ini diawali dengan melakukan ekstraksi Alga Hijau. Selanjutnya, dilakukan uji in vitro dengan metode difusi, yang bertujuan untuk mengetahui zona hambat bakteri dan menentukan konsentrasi efektif dari ekstrak Alga Hijau, yang mampu menghambat atau mematikan bakteri.
“Kemudian dilanjutkan uji dengan menggunakan hewan coba tikus yang diinfeksi bakteri Methicillin Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA), penyebab mastitis, dengan cara dipping dan peroral. Uji ini dilakukan selama 14 hari dan didapatkan hasil yang positif,” paparnya.
Marista berharap, potensi ekstrak alga hijau sebagai pengobatan alami kasus mastitik ini dapat mengurangi penggunaan antibiotik, dan dapat dikembangkan menjadi pengobatan injeksi pada hewan ternak.
“Harapannya bisa digunakan untuk pengobatan langsung menuju target, yaitu ambing yang mastitis,” pungkasnya.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.