Antisipasi Kekeringan, Warga di Lamsel Terus Galakkan Penghijauan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

161

LAMPUNG — Mata air yang muncul secara alami tanpa berhenti saat musim kemarau di lahan salah satu warga desa Sukaratu kecamatan Kalianda Lampung Selatan merupakan dampak dari terjaganya lingkungan hutan Gunung Rajabasa.

“Kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan dengan menanam pohon untuk resapan, pencegah longsor membuat mata air masih mengalir,” sebut Supari (50) salah satu warga desa Sukaratu kepada Cendana News, Rabu (11/7/2018).

Mata air Sukaratu memberi banyak manfaat bagi warga. Pasokan tanpa harus membayar cukup membantu kebutuhan warga selama musim kemarau.

“Penanaman pohon penghijauan akan sangat terasa manfaatnya ketika musim kemarau ini terutama jenis pohon berakar tunjang membantu resapan dan mata air masih terjaga meski kemarau melanda,” terang Supari.

Sebagian warga yang mengambil air bahkan berasal dari sejumlah desa yang cukup jauh. Selain wilayah yang tidak memiliki sumber permanen, sebagian sungai mulai mengalami penyusutan.

Disebutkan, sebelumnya, saat musim kemarau ketersediaan air sumur dalam yang mulai berkurang mulai dirasakan sebagian warga. Bahkan mereka terpaksa membeli dari penyedia untuk memenuhi kebutuhan MCK.

Supari memastikan sebagian warga di lereng Gunung Rajabasa mulai melakukan penanaman pohon paska banjir bandang melanda sebagian wilayah Kalianda beberapa bulan silam.

Kesadaran melalui penanaman pohon terus digalakkan masyarakat. Sebanyak ratusan pohon yang bisa dipanen selama usia enam tahun selalu diremajakan pasca dipanen.

“Pentingnya menjaga pepohonan sebagai peresap air memang akan terasa saat musim kemarau tiba,” papar Supari.

Selain Supari, sebagian warga di bantaran sungai Way Pisang juga merasakan hal yang sama. Kuwadi (50) mengungkapkan, alih fungsi lahan ikut mematikan sejumlah mata air. Keberadaan embung yang dikenal dengan waduk Pergiwo di kawasan hutan register 1 Way Pisang bahkan telah mengering dan menjadi belukar.

“Embung yang dulu menyerupai danau bahkan sudah kering, warga kembali memanfaatkan air sungai Way Pisang yang debitnya menyusut,” terang Kuwadi.

air bersih
Supari, warga desa Sukaratu kecamatan Kalianda mengambil air bersih dari sumber mata air yang bisa dipergunakan untuk umum [Foto: Henk Widi]
Beberapa warga di desa Kelaten kecamatan Penengahan bahkan membuat ceruk atau belik di dekat sungai. Upaya memancing mata air muncul di tepi sungai, sebagian warga menanam beberapa jenis pohon peresap air diantaranya jati ambon, bambu, pinang dan palem.

Upaya menjaga pasokan mata air juga terus dilakukan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Way Seputih Way Sekampung (BPDAS WSS). Ngatman, salah satu petugas menyebutkan, alokasi bibit bagi masyarakat telah disiapkan sebanyak 2,5 juta bibit. Penyediaan secara gratis membuat warga dengan kesadaran sendiri melakukan penanaman pohon di sekitar daerah aliran sungai.

“Sebagian warga menanam di kawasan register satu Way Pisang untuk meremajakan kawasan yang rusak,” papar Ngatman.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.