Bahan Baku Menjadi Kendala Pembuatan Perahu Tradisional

Editor: Mahadeva WS

241

LAMPUNG – Usaha kecil pembuatan, perbaikan perahu di Desa Ketapang, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan terkendala bahan baku kayu. Selama ini bahan baku harus didatangkan dari wilayah lain.

Supandi (40), salah satu pengrajin pembuatan perahu di pesisir timur Lampung menyebut, bahan baku kayu pembuatan perahu harus didatangkan dari Lampung Barat dan Lampung Timur. Terutama untuk jenis kayu pule, nangka dan jati. Kapal nelayan tradisional masih dibuat secara manual dengan sistem pemesanan.

Proses pembuatan perahu tradisional dimulai dari pembuatan rangka, lunas pada bagian bawah, linggi pada bagian haluan dan gading-gading pada bagian dalam perahu. Butuh waktu delapan bulan bagi Supandi bersama empat pekerja untuk membuat perahu dari awal proses hingga pengecatan.

Bahan baku kayu menjadi satu faktor proses lamanya pembuatan perahu tradisional. “Paling utama bahan baku kerangka. Dipilih kayu berkualitas jenis nangka, jati, pule yang jumlahnya makin terbatas di wilayah Lampung sehingga harus memesan,” terang Supandi saat ditemui Cendana News, Selasa (3/7/2018).

Proses pembuatan perahu nelayan mengikuti keinginan pemesan. Jenis perahu yang dibuat diantaranya janggolan, sopean, kasko dan jukung. Umumnya nelayan di wilayah pesisir pantai Ketapang membuat perahu jenis janggolan dengan ciri khas bagian haluan dan buritan tidak memiliki kepala. Sementara di bagian kepala ciri khas utama perahu janggolan biasa disebut sarang manis sebagai penanda bagian depan perahu.

Lokasi pembuatan dan perbaikan perahu tradisional di pesisir Ketapang Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
Selain janggolan, Supandi juga sering membuat perahu jukung, yaitu perahu tanpa cadik. Perahu jukung dibuat lebih cepat hanya membutuhkan waktu satu hingga dua bulan. Sementara jenis perahu kasko dengan bentuk lebih sederhana bisa dibuat dalam jangka waktu empat bulan. “Pemesan perahu biasanya ada dua jenis memiliki bahan kayu sendiri dan minta dibuatkan perahu atau membeli perahu dalam bentuk jadi,” beber Supandi.

Pembuatan perahu janggolan menyesuaikan kontur pantai pesisir Timur yang dominan berlumpur dan berpasir. Bentuk lengkung pada perahu janggolan menjadi ciri khas bagian penumpang dan sebuah tiang khusus untuk meletakkan layar pada bagian depan. Jenis perahu janggolan juga memiliki ciri khas warna cerah dengan ukiran dan lukisan menarik berupa bintang laut, gadis, elang serta lukisan lain sebagai ciri khas yang diinginkan pemilik perahu.

Memproduksi perahu janggolan membutuhkan modal besar. Saat ada petani menjual kayu jenis pule, nangka, jati, Supandi membeli dengan harga Rp2juta hingga Rp4juta perkubik dalam bentuk papan, balken untuk kebutuhan bagian perahu.

Berbagai jenis kayu tersebut akan diangin-anginkan serta direndam dalam air dan dilumuri oli untuk mempertahankan keawetannya. Sulitnya mencari kayu bahan perahu membuat proses pembuatan perahu hingga selesai bisa menghabiskan dana antara Rp90juta hingga Rp100juta. “Beberapa nelayan yang memiliki kerabat memiliki lahan biasanya menanam beberapa jenis kayu bahan perahu agar proses mencari kayu mudah,” cetus Supandi.

Harga perahu janggolan yang dibuat Supandi bisa lebih dari Rp120juta. Selain proses pembuatan, Supandi juga melayani usaha reparasi atau perbaikan perahu mulai proses penggantian dinding, lunas, linggi hingga gading-gading yang rusak. Termasuk reparasi proses pengecatan sesuai keinginan pemilik perahu.

Harga jasa perbaikan mempergunakan sistem borongan, satu kali pekerjaan sesuai dengan kesepakatan pemilik dan Dirinya. Hasil kerja rapi dan awet menjadikan Supandi bisa bertahan menjadi pembuat dan perehab perahu. Dibantu Udin, Hendra dan pekerja lain, proses pembuatan perahu dilakukan di dekat pantai.

Sobri (36) salah satu nelayan di Ketapang menyebut, perahu janggolan dipakai untuk menangkap ikan dengan jaring. Perahu baru lengkap dengan peralatan pancing rawe dasar, jaring dan perlengkapan lain termasuk mesin disebutnya bisa menghabiskan modal Rp500juta.

Meski demikian, dengan hasil tangkapan yang banyak, modal tersebut bisa kembali dalam jangka setahun. “Saat hasil tangkapan melimpah terutama jenis teri sebagian hasil bisa disisihkan untuk membayar modal karena sebagian uang berasal dari pinjaman bank,” jelas Sobri.

Potensi perikanan tangkap sebagai usaha nelayan di wilayah Ketapang disebut Sobri ikut didukung adanya usaha pembuatan dan perbaikan perahu. Selain proses pembuatan awal, pemeliharaan rutin dilakukan sebulan sekali terutama saat terang bulan dengan pengecekan mesin dan badan perahu. Perbaikan menyeluruh biasanya diserahkan ke pembuat perahu untuk menjaga keawetan perahu.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.