Balairung, Tempat Pertemuan Tokoh Adat Minangkabau

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

185

JAKARTA — Berkunjung ke Anjungan Sumatera Barat di Taman Mini Indonesia Indah, pengunjung akan dihadapkan pada lima buah bangunan. Bangunan utama yakni Rumah Gadang, rumah adat Minangkabau.

Selain itu juga ada bangunan lain yang memiliki arsitektur yang mirip, yakni lumbung padi (rangkiang), tempat shalat dan mengaji (surau) dan balai adat (balairung). Tak ketinggalan sebuah bangunan yang agak berbeda, yakni rumah adat mentawai atau Rumah Panjang Uma.

Untuk Balairung sendiri, sebuah bangunan dengan struktur seperti pendopo yang memiliki fungsi tempat mengadakan musyawarah mufakat dalam masyarakat Minang. Bangunan yang hampir mirip dengan rumah gadang juga berbahan kayu serta berukiran motif tumbuhan dan satwa paduan warna merah, kuning, hitam, dan biru.

Pemandu Anjungan Sumatera Barat TMII, Leni Febriani menjelaskan, ruangan Balairung ini terbuka, terkadang tanpa dinding penyekat. Bagian ujung disediakan untuk tetua adat (penghulu) atau Niniak Mamak yang bergelar Datuak.

“Di Balairung ini, Niniak Mamak bermusyawarah dengan para tokoh berbahas berbagai hal,” kata Leni kepada Cendana News, Minggu (22/7/2018).

Hingga kini di Minangkabau, tambah Leni, Balairung masih menjadi tempat pertemuan para tokoh dan masyarakat dalam membahas berbagai persoalan.

Keunikan balairung ini, jelas Leni, sekeliling bangunannya terhias aneka ragam ukiran. Yakni, ukiran padat, datar, tembus dan bakar yang bermotif tumbuhan, bunga, dan satwa. Warna yang ditonjolkan dalam bangunan Balairung adalah merah, kuning, hitam, dan biru yang berfilosofi keindahan dan mengandung ajaran adat Minangkabau yang religius.

balairung
Pemandu Anjungan Sumatera Barat TMII, Leni Febriani. Foto : Sri Sugiarti

Menurutnya, Balairung adalah warisan khazanah budaya nenek moyang masyarakat Minangkabau Sumatera Barat yang harus dijaga dan dilestarikan, terkhusus diperkenalkan kepada generasi milenia. Sehingga mereka mengenal budaya daerahnya kemudian mencintai dan turut melestarikan.

“Balairung adalah salah satu bagian rumah adat kebanggaan masyarakat Minangkabau, yang akan terus dilestarikan dengan hadirnya reflikanya di TMII ini,” kata Leni.

Balairung di anjungan Sumatera Barat TMII digunakan sebagai tempat pertemuan masyarakat Minangkabau yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya saat mereka menggelar acara pameran, dan pergelaran seni budaya daerah.

Balairung di anjungan ini juga digunakan sebagai ruang pameran keterampilan tangan, dan pergelaran seni budaya Minangkabau.

“Balairung tidak pernah sepi dari aktivitas kesenian adat Sumatera Barat. Khazanah budaya Minang tidak hanya disukai masyarakat Sumatera Barat, tapi juga dari daerah lain dan juga turis mancanegara,” jelasnya.

Terbukti sebut dia, dalam sebulan 1,000 orang pengunjung singgah di anjungan ini. Mereka tidak hanya sekedar menyaksikan tampilan budaya dan pameran produk unggulan daerah Sumatera Barat tapi juga menjadikan pembelajaran pengetahuan.

Dan bahkan, kata Leni, banyak diantara pengunjung domestik maupun turis yang bertanya tentang daerah wisata di Sumatera Barat itu ada apa saja. Termasuk keberadaan Balairung di Minangkabau juga mereka pertanyakan dengan detail.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.