Bale Gede TMII Hadirkan Rangkaian Siklus Kehidupan Manusia

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

220

JAKARTA — Taman Mini Indonesia Indah (TMII) memang tidak ada habisnya dalam memberikan edukasi, pelestarian dan pengembangan khazanah budaya bangsa. Seperti yang terlihat di Anjungan Bali. Di atas lahan seluas 6.632 meter persegi hadir lingkungan perumahan adat yang syarat dengan filosofi budaya.

“Pada dasarnya rumah adat Bali menampilkan pola arsitektur tradisional, yang bersumber pada Astha Kosala-kosili,” kata pemandu Anjungan Bali, I Wayan Suarka kepada Cendana News, Kamis (5/7/2018).

Dijelaskan, Astha Kosala-kosili mengandung arti, postur tubuh si penghuni rumah dijadikan suatu ukuran yang berdasarkan filosofi Tri Hita Kirana yang artinya adalah hubungan harmonis antara Tuhan dengan manusia, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam sekitarnya.

Seperti di halaman dalam Anjungan Bali ini, tepatnya sebelah kiri terdapat Bale Gede. Bentuk bangunan ini ditopang 12 tiang berbahan kayu dan bertembok kekar dihiasi ukiran khas Bali. Begitu pula dengan tiang-tiangnya, sehingga bangunan ini terlihat unik.

Bale Gede ini difungsikan sebagai tempat tinggal orang tua atau nenek kakek. Orang dengan kasta dan masyarakat biasa juga tinggal di Bale Gede atau rumah adat ini.

“Bale Gede ini juga difungsikan untuk merayakan upacara Manusa Yadnya. Yakni, rangkaian upacara sehubungan dengan siklus kehidupan manusia sejak di dalam kandungan sampai akhir hayatnya,” kata Wayan.

Di antaranya upacara megedong gedongan/bayi di dalam kandungan atau neluh bulanin hingga upacara kelahiran dan penguburan ari-ari bayi. Selain itu, upacara 42 hari bayi turun tanah dan upacara usia bayi 210 hari.

Upacara menekdana bagi anak perempuan yang mengalami pubertas atau datang bulan pertama. Tujuan upacara ini memohon kepada menstruasi bagi wanita, memohon kepada Dewi Bulan supaya anaknya mengikuti jejak Dewi Bulan, yakni feminin selayaknya perempuan.

“Kaya sifat-sifat feminin, lemah lembut, murah senyum, dan sabar. Itu yang menandakan Dewi Bulan. Sehingga anak itu kalau orang Islam agar salihah,” ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, upacara Ngaraja Saule. Yakni upacara untuk anak laki-laki yang sudah mimpi basah pertama atau suara ngembakin.

Upacara ini memohon kepada Dewa Asmara, agar asmara anaknya dipergunakan dengan baik tidak sembarangan. Jadi kata Wayan, ada tuntutan supaya anak laki-laki itu mengikuti filosofi Dewa Asmara, tidak mengumbar asmaranya.

Upacara lainnya yang digelar di Bale Gede adalah mepandes atau tatah gigih. Maksud dan tujuan upacara ini untuk menghilangkan Sap Ribu atau enam musuh yang ada dalam diri manusia.

“Upacara ini ditandai dengan dipanggur 4 gigi seri atas dan dua gigi taring bawah. Sap Ribu artinya, sifat malas, iri hati, dengki, fitnah, pemarah, dan suka mabuk. Enam sifat ini harus dihilangkan,” kata pria kelahiran Bali 59 tahun ini.

Selanjutnya, upacara pawiwahan atau pernikahan dan upacara kematian. Sebelum mayatnya dibawa ke kuburan biasanya dilaksanakan upacara di Bale Gede. Untuk kemudian dibakar dengan menggelar upacara Ngaben.

Wayan menjelaskan, upacara ini mengandung filosofi lambang dunia sehingga kalau orang meninggal itu tidak boleh membawa lagi sifat-sifat duniawi-nya, sehingga harus dibakar.

“Dengan dibakar ada reinkarnasi, juga ada penebusan dosa kembali,” ujarnya.

Terkait Bale Gede. Wayan mengatakan, hingga kini di setiap rumah masyarakat Bali selalu ada Bale Gede yang tempat dan fungsinya sama untuk upacara siklus kehidupan manusia. Hanya saja bentuk bangunan disesuaikan dengan taraf ekonomi masyarakat Bali.

Misalnya, kata Wayan, kalau ekonomi kelas bawah, namanya Bale Wong Kilas. Bangunannya disanggah enam tiang dan bahan material pun berbeda. Bisa berbahan bambu, tapi tidak menghilangkan ornamen khas ukiran Bali.

“Bale Wong Kilas, bangunan lebih sederhana tapi tetap mengandung filosofi budaya Bali yang berfungsi untuk menggelar upacara siklus kehidupan manusia,” ujarnya.

Pemandu Anjungan Bali TMII, I Wayan Suarka. Foto: Sri Sugiarti

Untuk masyarakat Bali kelas menengah dan kasta tertentu Bale Gede selalu tampil di rumahnya.

“Bale Gede dan Bale Wong Kilas adalah rumah adat Bali yang syarat budaya yang terus harus di lestarikan,” kata Wayan.

Kembali Wayan mengatakan, sebagian masyarakat Bali yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya malah di rumahnya juga selalu ada Bale Gede.

Namun sebut dia, yang tak memiliki karena kondisi lahan rumah tak memadai, ada beberapa masyarakat Bali yang tinggal di Jakarta mengadakan upacara tradisi itu di Anjungan Bali ini.

“Iya seperti usia bayi 210 hari dan lainnya. Mereka merasa lebih bermakna secara diadakan di Bali langsung,” ujarnya.

Wayan berharap masyarakat Bali dimana pun berada terkhusus yang tinggal di Jakarta agar selalu melestarikan. Jika kangen kampung halaman dapat langsung berkunjung ke Anjungan Bali TMII.

Begitu juga dengan masyarakat lainnya dengan berkunjung ke TMII bisa mengenal budaya Bali. Salah satunya tentang ragam rumah adat.

“Budaya daerah itu aset bangsa yang harus dilestarikan,” tutupnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.