Bangun Jalan Desa, Warga Solor Dibayar Rp8.000 Perhari

Editor: Mahadeva WS

643

LARANTUKA – Warga Desa Lamaole, Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur (Flotim) beberapa bulan belakangan ikut membangun jalan desa setempat. Pembangunan jalan desa tersebut mempergunakan dan dari Dana Desa, sehingga warga dilibatkan secara langsung dalam prosesnya.

“Biasanya kalau ada permintaan dari desa baru kami kerja mengangkat batu dan menyusunnya. Dalam sehari kerja kami dibayar Rp8.000. Yang kerja banyak orang,” sebut Olga Hayon, warga Dusun Tanah Edang, Desa Lamaole, Kecamatan Solor Barat, Senin (16/7/2018).

Banyaknya masyarakat yang ikut bekerja di kegiatan tersebut menjadikan masyarakat dibagi menjadi beberapa kelompok. “Dalam seminggu paling setiap orang hanya mendapat jatah bekerja sehari sampai dua hari. Kalau tidak ada pekerjaan maka kami menjalankan aktivitas seperti bisa sebagai petani dan juga nelayan,” tuturnya.

Warga Desa Lamaole lainnya Lasarus Kewuan menambahkan, pembangunan jalan sudah berlangsung hampir setahun. Masyarakat bekerja mengumpulkan batu dan menyusunnya di jalan yang akan disemen. Batu-batu berukuran sedang dikumpulkan dari kebun dan areal sekitar jalan untuk ditumpuk di badan jalan.

Masyarakat menyusun batu-batu tersebut di badan jalan dan akan disemen untuk meratakannya. “Biasanya dalam seminggu sekali sampai dua kali kami bekerja baik laki-laki maupun perempuan. Kalau kepala dusun menyuruh untuk bekerja baru kami bekerja sebab semua bekerja sesuai gilirannya,” ungkapnya.

Meski hanya mendapat upah minim, Lasarus mengaku warga terbantu dengan kegiatan tersebut. Mayoritas warga Desa Lamaole berprofesi sebagai petani lahan kering dan hanya bekerja maksimal saat musim hujan. Warga menambah penghasilan dengan memelihara ternak seperti kambing dan babi untuk dijual, meski hanya satu atau dua ekor saja yang dipelihara.

“Tandusnya lahan dan minimnya penghasilan membuat banyak warga desa yang memilih merantau ke luar daerah bahkan bekerja di Malaysia agar bisa menafkahi keluarga dan membangun rumah,” tuturnya.

Rata-rata warga yang bekerja di kegiatan tersebut adalah perempuan, bahkan beberapa diantaranya sudah berusia tua. Mereka ikut bekerja mengangkat batu berukuran sekepalan tangan orang dewasa menggunakan ember dan menyusunnya di badan jalan. Beberapa lelaki terlihat sibuk meratakan kembali bebatuan tersebut agar memudahkan proses penyemenan. Pekerjaan mengaduk campuran material semen dan pasir menggunakan mesin, sehingga tinggal diratakan di badan jalan.

Baca Juga
Lihat juga...