Barongan Khas Batu Malang Meriahkan PKB ke 40 di Bali

Editor: Satmoko Budi Santoso

397

DENPASAR – Seni pertunjukan Pekan Kesenian Bali (PKB) setiap tahun selalu menampilkan berbagai pertunjukan seni baik dari Bali maupun kesenian dari berbagai daerah bahkan dunia.

Kesenian yang sudah menjadi budaya bagi masyarakat setempat tersebut ditampilkan untuk menghibur masyarakat yang datang ke ajang PKB tersebut.

Seperti penampilan kesenian Barong Kekinian dari Kota Batu Malang Jawa Timur ini misalnya. Kesenian asli Jawa Timur yang dikembangkan di Kota Batu ini berhasil menghipnotis orang yang ada di gedung art center itu. Hal tersebut dikarenakan penampilan yang khusus dipersembahkan pada Pesta Kesenian Bali ke-40 sangat menghibur sekaligus membikin jantung penonton berdegup kencang berkat atraksi fire dance, barongan, adegan bela diri, dan suara pecut yang siap membuat penonton terkejut.

Seusai berkeliling para penari barongan pun mengangkat barong dengan menghentakkan pada paha agar menimbulkan suara ‘tak’ saat mulut barong tertutup. Pada penampilan barongan di Kalangan Ayodya Taman Budaya, Denpasar.

Suasana kesenian barong – Foto Sultan Anshori

“Tema barongan yang dibawakan kali bertajuk Babad Wono Sri Banyak,” ucap Sunarto yang merupakan Sutradara Pertunjukan saat ditemui, Minggu (15/7/2018).

Sunarto menambahkan, banyak yang menggambarkan barongan sebagai sosok Glendo Barong Kepruk yakni Sang Singa Barong.

Barongan khas Batu Malang ini wujudnya memang seperti topeng atau tapel barong di Bali. Namun memiliki perbedaan pada ukuran dan detailnya. Hal itu karena barong dari batu itu memiliki ukuran lebih besar dan beratnya ada yang 50 kilo sampai 75 kilogram.

Cara memainkannya pun terbilang unik. Awalnya barongan sendiri dimulai dengan prosesi berkeliling mengitari wilayah yang akan dijadikan sebagai tempat tampil (layaknya tradisi ngelawang di Bali).

“Dalam setiap aksinya, kami sengaja memasukkan aksi fire dance hanya untuk hiburan agar unsur kekinian ini bisa membuat generasi muda mengenal barongan,” tutur Sunarto.

Sunarto pun menambahkan, sebelum pementasan berlangsung, terdapat ritual khusus nun sewu yang pada intinya memohon izin kepada penunggu yang bernaung di lokasi tampil agar senantiasa diberikan kelancaran saat pentas.

Dirinya juga mengaku sudah berkecimpung dan mengenal dalam dunia seni khususnya barongan ini sejak tahun 1998. Namun apabila menengok ke belakang, nyatanya Sunarto sudah sedari kecil mengenal dan melakoni kesenian khas Jawa Timur ini.

Menurut keterangan Sunarto bahwa sanggar bebarongan yang dikelolanya sudah turun-temurun yang sudah sejak sepuh mengembangkan kesenian ini. Pada masa kecil Sunarto, kesenian jaran kepang dor yang masih mendominasi.

“Kalau hitungannya pas saya belum mewarisi sanggar kurang lebih 26 tahun saya sudah bergelut dalam barongan,” pungkas Sunarto.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata Kota Batu, M. Dwiyanto menuturkan Barongan merupakan kesenian yang kini terangkat di Kota Batu. Sebab itulah yang membuat Dinas Kebudayaan Kota Batu untuk memperkenalkan barongan pada Pesta Kesenian Bali ke-40.

“Karena ada inovasi, jadi barongan yang awalnya hanya berpegang tradisi kini kian digemari,” ujar Dwiyanto.

Meski Kota Batu baru berusia 17 tahun, namun Dwiyanto ingin merangkul seniman Kota Batu untuk menciptakan wisata tematik yang mengkhususkan pada wawasan tradisi dan budaya. Agar nantinya tak hanya barongan, kesenian lainnya pun dapat terangkat dan dikenal luas ke seluruh pelosok negeri bahkan dunia.

Baca Juga
Lihat juga...