Benahi Mentalitas, Wisatawan Datangi Sikka

Editor: Satmoko Budi Santoso

328

MAUMERE – Membenahi destinasi wisata termasuk sarana, kebersihan dan mentalitas dengan sendirinya juga mempromosikan kekayaan alam yang sudah diberikan Tuhan. Manusia bermental baik harus menjadi poin untuk diperbaiki.

“Pariwisata secara global, wisatawan tidak kita undang pun dia akan datang. Dunia informasi saat ini sudah berkembang pesat. Tapi bagaimana mulai lebih membenahi mentalitas dan cara penanganan terhadap wisatawan, itu yang penting,” tegas Heribertus Ajo, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Kabupaten Sikka, Senin (23/7/2018).

Ada kontroversi dan ironi yang harus dibenahi, tambah Heri, sapaannya. Orang selalu beranggapan wilayah timur Indonesia asri, eksotik, alamiah dan baik. Tetapi kalau sampah ada dimana-mana, maka semua kebanggaan percuma.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah kabupaten Sikka, Heribertus Ajo. Foto : Ebed de Rosary

“Turis naik motor di jalanan tidak merasa aman, turun di airport turis ditarik sana-sini dan harga selalu berubah serta terkesan pemerasan. Ini pasti akan membuat turis malas datang ke Sikka,” ungkapnya.

Kalau kita bercermin dari daerah lain yang menata pariwisatanya secara bagus, sebut Heri, ada rasa aman, familiar, wisatawan dijamu dengan baik dan seluruh dunia mengembangkan aspek itu. Kalau kita tidak mencontoh, maka pasti akan ditinggalkan wisatawan, meski destinasi wisata menarik.

“Sebagian orang yang sudah memberikan kontribusi dengan sikap yang baik, dialah yang sudah mempromosikan pariwisata Flores. Masyarakat kita di masa lalu bersikap ramah, telah berjasa besar sehingga membuat wisatawan datang ke Flores,” tuturnya.

Keinginan dari seluruh dunia, saat ini, tandas Heri, ingin mengembangkan ecowisata, pariwisata yang selaras alam. Pariwisata yang bertanggung jawab. Turis bertanggung jawab terhadap destinasi wisata yang dikunjungi. Masyarakat di sekitar destinasi wisata mengembangkan tata ruang dengan menghargai alam.

“Ecowisata merupakan sebuah cita rasa, membangun segala fasilitas pariwisata yang selaras alam dengan memperhatikan kearifan lokal. Pariwisata berdampak kepada siapa, kepada investor saja? Tentu tidak, sebab harus berdampak kepada masyarakat di sebuah daerah destinasi wisata,” sebutnya.

Dengan begitu, tandas Heri, masyarakat akan merasakan dampak dan turut bertanggung jawab atas perkembangan pariwisata karena mereka juga mendapatkan manfaat serta pendapatan dari kunjungan wisatawan ke Kabupaten Sikka.

“Masyarakat desa dan kelompok yang mengembangkan wisata di desa, jangan putus asa tapi harus secara terus menerus merawat, menjaga dan mengembangkan wisata domestik agar suatu saat bisa terkenal,” sarannya.

Sementara itu, Siflan Angi, anggota DPRD Sikka berpendapat sama. Menurutnya perlu ada revolusi mental di kalangan masyarakat dan juga pelaku pariwisata serta pemerintah agar satu visi, berjalan bersama dalam mengembangkan pariwisata di Kabupaten Sikka.

“Kami melihat selama ini masih saja ada pengeboman ikan di kawasan taman wisata alam dan laut Teluk Maumere sehingga membuat wisatawan yang sedang diving atau snorkeling merasa terganggu serta tidak aman,” tuturnya.

Untuk itu Siflan meminta agar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sikka berkoordiasi dengan dinas terkait lainnya agar bersama-sama melakukan perbaikan dan mengambil langkah mengatasi. Tentu kami ingin agar wisatawan merasa betah saat berkunjung ke Sikka.

“Badan promosi pariwisata ini harus juga berkoordinasi dengan semua dinas terkait dan juga Forkopimda Sikka seperti polisi, TNI AL, TNI AD, kejaksaan dan lembaga swasta lain agar bisa bersama memberikan masukan dan membantu pengembangan pariwisata,” pintanya.

 

Baca Juga
Lihat juga...