Biaya Perawatan Mahal, Kendala Kebun Buah Langka Sedayu

Editor: Satmoko Budi Santoso

843

YOGYAKARTA – Menjadi salah satu lokasi wisata agro edukatif favorit di Yogyakarta, Kebun Buah Langka Sedayu Bantul ternyata selama ini belum mampu untung dari sisi bisnis.

Memiliki koleksi sekitar 1500 tanaman buah dengan 350 jenis berbeda, Kebun Buah Langka Sedayu, masih mengandalkan sokongan dana pribadi dari sang pemilik Bonaventura Adi Nugroho untuk mendukung kegiatan operasional.

Koordinator Kebun Buah Langka Sedayu, Farida Septiana, membenarkan hal tersebut. Dana yang didapat dari hasil penjualan tiket masuk pengunjung, dikatakan tak sebanding dengan pengeluaran untuk merawat seluruh tanaman.

Sejumlah pengunjung sedang berkeliling melihat koleksi tanaman buah langka di Kebun Buah Langka Sedayu Bantul – Foto Jatmika H Kusmargana

“Setiap bulan kita rata-rata hanya dikunjungi sekitar 500 pengunjung. Dengan harga tiket Rp10 ribu untuk kunjungan biasa dan Rp35 ribu untuk paket khusus per orang, jelas dana itu tidak mencukupi,” ujarnya.

Ia menyebut untuk mengelola ribuan tanaman langka memang dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Biaya listrik untuk menyiram tanaman dengan air saja dikatakan mencapai Rp1,5 juta per bulan. Sementara biaya kebutuhan pupuk organik mencapai Rp55 juta per bulan.

“Itu belum termasuk biaya untuk kebutuhan pestisida alami, tenaga perawat tanaman, dan sebagainya. Jadi memang masih tombok. Namun tujuan kita tidak semata-mata bisnis, namun lebih pada edukasi maka tetap jalan,” katanya.

Untuk menambah pemasukan, Kebun Buah Langka Sedayu sendiri juga turut menjual berbagai bibit tanaman langka hasil budidaya pada pengunjung. Termasuk juga menjual berbagai macam produk pertanian seperti pupuk, pot, dan sebagainya.

“Mayoritas tanaman di sini adalah tanaman langka. Sehingga kita berupaya membudidayakannya. Nanti hasilnya kita jual pada pengunjung. Meskipun itu bukan fokus utama kita, karena dari sisi lokasi juga belum mendukung,” ujarnya.

Sejumlah bibit yang dijual itu memiliki harga bervariasi, mulai dari Rp60 ribu hingga mencapai Rp5 juta per bibit tergantung kelangkaan dan kesulitan proses pembudidayaan bibit tersebut.

“Seperti untuk bibit buah kelengkeng kristal kita jual Rp60 ribu. Sedangkan untuk bibit buah langka seperti sawo Mamey Sapote dari Mexico kita jual Rp5 juta. Sementara bibit anggur Brazil Rp5 juta,” katanya.

Kebun Buah Langka Sedayu sendiri mengaku tengah berencana mengembangkan objek wisata agro edukatif ini. Yakni selain fokus pada edukasi, Kebun Buah Langka Sedayu juga akan fokus melakukan upaya budidaya serta memproduksi buah-buah langka dari seluruh dunia untuk dijual atau dipasarkan pada pengunjung.

“Sudah ada rencana mengembangkan. Nanti kemungkinan kita akan buka cabang di Gunung Kidul. Dengan lahan cukup luas, disana akan diarahkan untuk budidaya dan produksi,” katanya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.