Bina Seni Atmaja Pelangi Nusantara Lahirkan Penari Berkualitas

Editor: Satmoko Budi Santoso

352

JAKARTA – Puluhan penari dari anak usia dini hingga orang dewasa kompak memadukan gerakan dengan irama musik.

Mereka berlenggok-lenggok sangat gemulai menunjukkan wanita yang sopan dan santun. Ini tercermin dalam gerak tari Topeng Ondel-Ondel Betawi yang dibawakan para penari Diklat Bina Seni Atmaja Pelangi Nusantara, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Sasara Krida, Minggu (1/7/2018).

“Kami sedang berlatih menari untuk pentas seni peringatan Hari Anak Nasional di Candi Bentar pada 29 Juli mendatang. Ada beberapa tari yang dibawakan, salah satunya Topeng Ondel-Ondel,” kata Ketua Diklat Seni Bina Atmaja Pelangi Nusantara TMII, Trimawarsanti, kepada Cendana News saat ditemui di sela-sela latihan, Minggu (1/7/2018).

Ketua Diklat Bina Seni Atmaja Pelangi Nusantara TMII, Trimawarsanti. Foto : Sri Sugiarti.

Santi, demikian sapaannya, menjelaskan, Bina Seni Atmaja Pelangi Nusantara TMII didirikan pada tahun 2008. Diklat seni ini adalah wadah pendidikan dan latihan untuk mencari penari-penari yang akan disiapkan dalam bagian program TMII.

Dijelaskan lebih lanjut, diklat ini terlahir untuk mengharumkan pendiri wadah seni Pelangi Nusantara (PN) TMII yakni Sampurno yang di masa pemerintahan Presiden RI Soeharto, dirinya bertugas sebagai Kepala Rumah Tangga Kepresidenan selama 17 tahun dan merangkap sebagai General Manager TMII, selama 18 tahun.

Misi Kesenian Pelangi Nusantara Taman Mini Indonesia Indah ke Belanda dalam rangka Floriade pada tahun 1992, merupakan momen yang ditampilkan Sampurno.

Tahun 1995 PN-TMII mengikuti Face of Indonesia ke USA dan Eropa, di bawah pimpinan Siti Hardiyanti Rukmana atau Mbak Tutut. Kemudian 1997, PN-TMII menerima penghargaan SOKA GAKAI International Peace and Cultural Award atas keberhasilannya dalam menampilkan Indonesia Menari.

Bahkan penari PN TMII, kerap tampil di istana negara menyambut para tamu dari berbagai negara. Tujuannya, pelestarian khazanah budaya bangsa agar lebih dikenal di mancanegara.

Santi mengatakan, dari dulu sampai sekarang PN TMII tetap berjaya dalam pelestarian seni budaya bangsa. Kini, anggota PN TMII  sudah senior-senior dan terus membina generasi milenial menari tradisi mengharumkan Indonesia.

Dengan hadirnya Bina Seni Atmaja Pelangi Nusantara TMII ini, Santi dan pelatih menari lainnya menempa siswa didik yang akan menjadi penari Pelangi Nusantara.

“Jadi, kami siapkan kaderisasi dari diklat Bina Seni Atmaja Pelangi Nusantara TMII. Ini proses latihan yang kami siapkan menuju penari Pelangi Nusantara. Kami menempa mereka menjadi penari tradisi berkualitas,” ungkap Santi.

Ragam tari tradisi yang diajarkan, di antaranya tari Aceh, Padang, Sunda, Betawi, dan provinsi lainnya. Dalam berlatih pun bertingkat, mulai tahap dasar, menengah, dan tingkat lanjut. Tetapi yang terpenting menurut Santi, adalah lebih kepada kreativitas mengingat diklat ini di bawah naungan program budaya TMII.

Jadi keberadaan diklat ini lebih kepada kesiapan untuk mendukung program TMII.

“Jadi, kami lebih banyak memproduksi, tapi tentunya kami juga menyiapkan siswa didik yang harus siap berproses produksi. Mereka kita tempa sebagai penari, dan juga kemandirian. Seperti dalam tata rias wajah, rambut, busana, dan lainnya, mereka diajarkan harus mandiri,” ujarnya.

Adapun prestasi yang diraih, selain menjadi juara pada lomba menari yang digelar TMII. Juga di beberapa lomba di luar TMII, dan juga kerap tampil di berbagai acara. Bahkan dalam pagelaran drama tari Ramayana, pemeran Sinta dan para putri serta tokoh kera adalah para penari diklat Bina Seni Atmaja Pelangi Nusantara.

Prestasi lainnya, mengharumkan nama Indonesia menari tradisi di luar negeri. Seperti di Korea, Singapura, India, dan negara lainnya.

Menurut Santi, seni adalah instrumen yang menumbuhkan jiwa dan semangat kebersamaan serta kekeluargaan. Seni budaya tradisi sangat sarat filsafat yang tinggi, indah dan mempesona. Bahkan, seni budaya merupakan komunikasi universal antarmanusia dalam mempererat perdamaian antarbangsa.

“Saya bangga, anak didik saya mencapai jatidiri yang kokoh lestarikan khazanah budaya bangsa,” ujar Kepala Bagian Produksi dan Kreatif Program Bidang Budaya TMII, ini.

Kini, tambah dia, peserta diklat Bina Seni Atmaja Pelangi Nusantara berjumlah 40 orang gabungan usia dini hingga dewasa. Namun jika dihitung sejak berdiri tahun 2008, yakni sekitar 100 siswa. Sebagian dari mereka sudah menjadi pelatih menari baik di dalam negeri maupun mancanegara.

“Kami latihan tiap hari Minggu pukul 10.00-14.00 WIB di lantai dua Sasana Krida TMII. Iurannya Rp 35 ribu per bulan,” kata wanita kelahiran 50 tahun ini.

Untuk menjadi penari mumpuni memang butuh proses. Namun, kata Santi, biasanya dalam waktu satu hingga dua tahun sudah terlihat, mereka menguasai, baik dalam gerak maupun kepekaan terhadap musik.

Santi menyebutkan, prestasi mereka dalam menari dengan bukti sertifikat dari TMII dalam ajang tari. Ini memudahkan para penari untuk mencari sekolah, hingga mereka mendapatkan beasiswa. Terbukti, kata Santi, banyak dari anak didik yang mendapat beasiswa di sekolah dan perguruan tinggi.

Ruth Fransisca Pangabean. Foto : Sri Sugiarti.

Ruth Fransisca Pangabean, salah satunya mengaku, sejak usia 6 tahun sudah latihan menari di diklat ini. Dia pernah menari di berbagai acara besar di Indonesia dan luar negeri.

Prestasi menarinya itu membuahkan hasil hingga memudahkan dirinya meraih pendidikan di sekolah dan perguruan tinggi.

“Puji Tuhan, saya bisa promosikan budaya Indonesia hingga ke luar negeri. Saya juga mendapat beasiswa dari prestasi menari,” pungkas pemeran Sinta pada dramatari Ramayana TMII.

Baca Juga
Lihat juga...