Bintangi Sabrina, Jeremy Thomas Angkat Horor Indonesia

281
Jeremy Thomas (Foto Akhmad Sekhu)

JAKARTA – Jeremy Thomas termasuk artis senior yang masih eksis sampai sekarang. Banyak film maupun sinetron yang dibintangi yang kesemuanya bergenre drama. Kini ia membintangi film horor produksi Hitmaker Studios berjudul ‘Sabrina’, dimana ia berperan sebagai paranormal.

“Film ini mempunyai sesuatu yang berbeda daripada paradigma film-film horor yang selama ini dibuat di Indonesia, “ kata Jeremy Thomas, saat acara Gala Premiere Film Horor ‘Sabrina’ di Senayan City XXI, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat malam (6/7/2018).

Lelaki kelahiran Pekanbaru, 31 Juli 1970 itu membeberkan dari segi sinematografi maupun para pemain hingga sutradara memberikan hal yang baik untuk dapat memberikan hiburan pada masyarakat.

“Standar horornya berbeda karena sudah banyak kemajuan yang sangat baik sehingga bisa bersaing di dunia perfilman Asia, bahkan mungkin juga Eropa,“ bebernya bangga.

Jeremy mengaku berlatar belakang pemain drama sejak 1992. Pada saat menerima skenario ini perlu dicatat, waktu itu sedang di London.

“Dalam film ini saya berperan sebagai paranormal. Tapi dalam film ini bukan seperti paranormal yang ada dalam film-film horor sebelumnya,“ ungkapnya.

Kebanyakan film horor di Indonesia hanya main kaget saja saat ada setannya, tapi film Sabrina beda karena ceritanya bagus.

“Tidak hanya mengandalkan visi dan editing, film ini memang beda, ceritanya bagus,“ ujarnya.

Film Sabrina ini adalah sekuel dari film The Doll 2 yang sukses dengan banyak penonton.

“Ada pula kemungkinan sukses yang membuat saya menerima peran ini. Ini kesempatan saya yang sangat baik untuk pertama kali main film horor,” tuturnya.

Dalam film ini, ada action, drama dan ada juga love story antara Reinard dengan Bu Laras.

“Anda bisa membayangkan saya mengangkat tubuh Luna Maya yang terluka, berdarah-darah karena luka sangat parah,” imbuhnya.

Ia ingin bisa membuktikan sebagai pemain yang berbeda dengan peran-peran sebelumnya, yang kali ini menjadi Rainard, seorang paranormal yang dengan mantra-mantranya dapat melawan roh jahat.

“Mantra yang diucapkan dalam film ini memakai bahasa Indonesia, supaya universal saja. Diambil dari lafal doa dengan terjemahannya, yang sebenarnya justru lebih susah dalam cara pengucapan. Karena harus tidak putus,” paparnya.

Para pemain dalam film ini, kata Jeremy, melakukan hal yang terbaik. Rata-rata para pemain pulang syuting film sekitar jam lima pagi selama 35 hari.

“Kami bekerja keras ingin membuktikan bahwa stigma film horor di Indonesia yang selama ini dibilang dibuat asal takut, asal terkejut, tidak ada lagi di film ini. Kami angkat derajat dan marwah film horor di Indonesia supaya kita bisa bersaing. Bukan hanya di dalam negeri namun juga sampai di Asia bahkan Eropa,“ tandasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.