Bioteknologi dan Traditional Farming Mampu Tingkatkan Produktivitas Padi

Editor: Mahadeva WS

237

YOGYAKARTA – Sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sektor pertanian, Yayasan Damandiri mengembangkan demplot padi dan kebun jambu dengan pendekatan bioteknologi dan traditional farming, di desa Argomulyo Sedayu, Bantul. Demplot tersebut menjadi sarana pecontohan dan transfer pengetahuan kepada petani.

Pendekatan bioteknologi dan traditional farming dipilih, karena terbukti lebih unggul dari sisi produktivitas. Programnya juga lebih ramah lingkungan, serta sangat cocok diterapkan di kawasan Desa Argomulyo. Di kawasan tersebut saat ini aktivitas pertanian masih didominasi petani tradisional.

Konsultan bidang pertanian Waringin Agritech, Agung Sugondo – Foto : Jatmika H Kusmargana

Konsultan bidang pertanian Waringin Agritech, Agung Sugondo menjelaskan, traditional farming merupakan upaya budidaya pertanian dengan menggunakan cara-cara tradisional. Misalnya, pengolahan tanah dengan cara dibajak menggunakan tenaga manusia dan hewan, hingga proses fermentasi alami dengan cara didiamkan beberapa hari.

Sementara, pendekatan bioteknologi merupakan upaya mengelola komoditas pertanian dengan memanfaatkan makhluk hidup yang terdapat di dalam ekosistem. Salah satu yang menjadi contoh adalah pemanfaatan belut, untuk mengolah limbah dan zat yang dapat menurunkan produktivitas komoditas pertanian.

“Dari hasil riset, penggunaan tenaga kerbau untuk membajak sawah, ternyata mampu membuat tingkat produktivitas padi lebih tinggi dibanding jika menggunakan traktor. Dengan pola yang sama, selisihnya bisa sampai 1 ton per hektar. Karena kerbau bisa merasakan, jika melewati tanah yang tandus dia akan jalan melambat. Beda dengan mesin yang flat atau statis,” jelasnya.

Selain memiliki tingkat produktivitas yang lebih tinggi pendekatan bioteknologi dan traditional farming juga tidak menghasilkan residu sama sekali. Hal itu menjadikan, kondisi tanah akan tetap subur dalam jangka waktu yang lebih lama.

Sementara itu varietas padi inpari 23 aromatik yang dipilih untuk program tersebut merupakan varietas pasdi asli Bantul. Dengan demikian, sangat cocok ditanam di kawasan Argomulyo. Varietas tersebut terbukti memiliki tingkat produktivitas tinggi dengan hasil mencapai sembilan ton per hektar.

“Untuk budidaya bibit jambu, kita menggunakan sistem stek untuk perbanyakan. Selain itu juga menggunakan sistem penyerbukan manual agar menghasilkan buah yang lebih besar. Termasuk sistem kastrasi atau membuang buah yang tidak perlu. Kita tidak memakai sistem kultur jaringan karena mudah berubah,” jelasnya.

Tradisi wiwitan mengawali peremian lahan percontohan Bio Technologi dan pertanian tradisional di Demplot Damandiri di Argomulyo, Bantul – Foto Jatmika H Kusmargana

Yayasan Damandiri menyiapkan sebuah lahan percontohan pengembangan sektor pertanian terpadu berbasis bioteknologi di Desa Argomulyo, Sedayu, Bantul. Dewan Penasihat Yayasan Damandiri, Retnosari Widowati Harjojudanto atau Eno Sigit Soeharto mengatakan, pembukaan demplot tersebut merupakan kelanjutan program Desa Mandiri Lestari di desa Argomulyo.

Sebanyak 7.000 meter persegi lahan disiapkan di demplot tersebut untuk pengembangan padi jenis inpari 23. Sementara lahan seluas 3.000 meter persegi disiapkan untuk pengembangan bibit jambu jenis deli madu. Termasuk berbagai jenis sayuran, kolam ikan, ternak bebek dan kelinci jenis unggul. Demplot Damandiri diharapkan dapat menjadi percontohan bagi warga masyarakat yang tinggal di sekitar Desa Argomulyo.

Baca Juga
Lihat juga...