BNN: Pencegahan Narkoba Butuh Gerakan Bersama

249
BNN -Dok: CDN
BOGOR – Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Pol Heru Winarko, mengatakan, upaya pemberantasan penyalahgunaan narkoba membutuhkan peran serta semua pihak, baik kementerian/lembaga, maupun komponen masyarakat.
“Semua komponen bangsa kita libatkan dalam usaha penanggulangan narkoba. BNN mengajak semua pihak, termasuk kementerian lembaga, untuk fokus terhadap bahaya narkoba,” kata Winarko, dalam laporan peringatan Hari Anti-Narkoba Internasional (HANI) 2018, di BNN Lido, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (12/7/2018).
Winarko menyampaikan laporannya di hadapan Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Wiranto, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Eko Putro Sandjojo, dan sejumlah mantan Kepala BNN, beserta Duta Besar tamu undangan.
Menurut Winarko, peringatan HANI menjadi pendorong dalam membangun kesadaran seluruh umat manusia dalam pencegahan dan pemberantasan narkoba, yang menjadi ancaman kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Pemberantasan narkoba membutuhkan gerakan bersama seluruh komponen bangsa untuk melawan kejahatan narkoba,” ujarnya.
Winarko mengatakan, narkoba adalah bisnis yang menggiurkan, untuk menggeser barang haram ini dari satu wilayah ke wilayah lain dengan berat 10 kg, pengedar bisa mendapat Rp250 juta.
Dari hasil survei yang dilakukan BNN dan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia, prevalensi penyalahgunaan narkoba pada 2014 sebesar 2,18 persen, dan 1,77 persen di 2017.
Dalam juta jiwa, prevalensi pengguna narkoba pada 2014 sebesar 4 juta lebih dan 2017 menurun di angka 3,3 juta jiwa.
Narkoba menyebabkan kematian. Angka kematian per tahun 12.044 orang, atau 33 orang per hari di 2014. Sedangkan di 2017 menurun menjadi 11.071 orang per tahun, atau 30 orang mati setiap harinya.
Kerugian negara yang disebabkan oleh narkoba pada 2014 sebesar Rp63,1 triliun, dan meningkat di 2017 sebesar Rp84,7 triliun.
Sementara itu, berdasarkan jenis kelamin, jumlah pengguna laki-laki lebih besar dari perempuan, yakni 72 persen laki-laki dan 28 persen perempuan di 2014.
Narkoba menyasar semua kelompok usia, mulai dari kalangan pekerja sebesar 59 persen, pelajar 24 persen dan populasi umum 17 persen.
Winarko mengingatkan, pemberantasan narkoba harus dilakukan secara komprehensif, mengingat kondisi Indonesia yang terbuka menjadi peluang bagi pengedar menjadikan pangsa pasar yang luas.
“Mereka bisa masuk ke Indonesia lewat pintu-pintu ilegal,” ucapnya.
Selain itu, kemajuan teknologi saat ini juga digunakan para pengguna narkoba untuk melakukan perdagangan, bahkan kini ada banyak macam jenis narkoba baru yang menambah tantangan dalam pencegahan narkoba.
Data dari United Nation Office on Drugs and Crime (UNODC), terdeteksi 739 total NPS atau New Psychoactive Substance yang beredar di dunia. Di Indonesia, ada 71 jenis. Sebanyak 65 jenis telah masuk ke regulasi Menkes, sisanya, belum.
Winarko menyebutkan, menghadapi situasi itu, BNN secara serius menyatakan perang dari narkoba, bersih dari penyalahgunaan.
“Perlu dukungan dan perhatian semua kementerian dan lembaga, melalui program P4GN,” kata Winarko.
Peringatan HANI dipusatkan di pusat rehabilitasi BNN Lido, dimeriahkan dengan pameran edukasi peralatan BNN, dan edukasi terkait pencegahan narkoba.
“Kenapa HANI dilaksanakan di sini (Lido), karena banyak yang belum tahu Lido ini seperti apa, kita akan jadikan tempat untuk workshop, agar residen bisa ikut berperan dalam pencegahan narkoba,” tutur Winarko. (Ant)
Baca Juga
Lihat juga...