banner lebaran

BNPT: Anak Keluarga Teroris Harus Dibina Khusus

153
Ilustrasi -Dok: CDN
JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebutkan, negara memiliki tanggung jawab dalam melakukan pembinaan bagi anak-anak keluarga teroris sebagai bagian dalam upaya melawan radikalisasi.
Deputi Kerja sama Internasional BNPT, Irjen Pol Hamidin, menngatakan, anak-anak yang orang tuanya terlibat terorisme, harus diambil alih dan dibina secara khusus.
“Mereka yang di bawah umur itu umumnya belum bisa berdiri sendiri. Jadi, anak-anak yang terlibat terorisme itu anak-anak yang bermasalah hukum. Mereka orang-orang yang harus kita ambil alih, harus kita bina secara khusus,” katanya, di sela seminar internasional “Indonesia International Defense Science” (IIDS) 2018, di Jakarta, Kamis, (12/7/2018).
Sebab, lanjut dia, untuk merekrut teroris itu paling enak mengajak ke lingkungan keluarga. “Ini yang selama ini kita lupakan. Kita lupa, bahwa lingkungan keluarga paling efektif untuk diajak, seperti kasus Surabaya. Jadi, BNPT terlibat untuk pencegahan berikutnya. Jadi, begitu dia masuk ke sana, maka program counter radikalisasi untuk anak-anak itu dilakukan,” ucap Hamidin.
Ia mencontohkan, ada kasus anak yang orang tuanya menjadi pelaku teror di Irak. Ketika diinvestigasi, sang anak tidak pernah berkeinginan menjadi mujahidin seperti yang dilakukan orang tuanya yang sudah tewas.
Namun, lanjut dia, anak di bawah umur tersebut gemar bermain senjata karena faktor lingkungan yang membentuknya. Jika tidak dibina, maka bukan tidak mungkin suatu waktu malah akan mengikuti jejak orang tuanya.
“Jadi, anak seperti itu sudah bermain senjata. Mereka mengatakan dia teroris radikal dan akan menjadikannya teroris. Nah, itu negara harus mengambil alih. Dia itu contoh dan kami ambil alih. Kita masukan dia ke pesantren, belajar normal, kita jadikan anak normal,” ujarnya.
Karena itu, tambah dia, negara harus terlibat, tetapi komponen utamanya adalah keluarganya. “Kalau kita ambil alih serta merta, kita akan mendapat penolakan. Dan, di situ sang anak butuh komunitasnya”, pungkasnya. (Ant)
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.