BPS: Beras dan Rokok, Penyebab Kemiskinan di Sumbar

Editor: Koko Triarko

297
Kepala BPS Sumatera Barat, Sukardi/ Foto: M. Noli Hendra
PADANG – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat, menyebut pengeluaran untuk membeli beras dan rokok kretek filter menjadi penyebab masyarakat di Sumatera Barat hidup di garis kemiskinan.
Kepala BPS Sumatera Barat, Sukardi, menjelaskan, dari survei sosial ekonomi yang dilakukan terhadap masyarakat di Sumatera Barat, tercatat ada 357,13 ribu orang penduduk miskin di Sumatera Barat. Jumlah tersebut mengalami penurunan sebanyak 2,86 ribu orang, dibandingkan dengan bulan September 2017.
“Ada 10 poin yang menyebabkan masyarakat di Sumatera Barat itu harus mengeluarkan biaya yang besar dan menyebabkan mereka hidup di bawah garis kemiskinan. Seperti beras, rokok kretek filter, telur ayam, cabai merah, bawang merah, dan beberapa komoditas lainnya,” kata, Senin (16/7/2018).
Ia menyebutkan, produk pangan dan nonmakanan tersebut, ternyata menjadi hal yang paling banyak dibutuhkan oleh masyarakat di Sumatera Barat, baik itu di perkotaan maupun di pedesaan.
Jumlah penduduk miskin di kota sebanyak 114,84 ribu orang dan jumlah penduduk miskin di desa sebanyak 242,29 ribu orang.
Menurutnya, pengeluaran masyarakat untuk beras di daerah perkotaan sebesar 20,95 persen, sedangkan pedesaan 26,79 persen. Lalu, untuk rokok kretek filter 11,07 persen untuk perkotaan dan 10,21 untuk pedesaan.
“Kalau luar dari hal itu, juga ada telur ayam ras, daging ayam, mie instan dan gula pasir,” sebutnya.
Ia mengaku, pedesaan sepertinya kebutuhan beras cukup besar ketimbang perkotaan. Untuk komoditi bukan makanan berpengaruh lebih rendah dibandingkan dengan komoditi makanan, untuk perumahan sebesar 8,30 persen untuk daerah perkotaan dan 6,91 persen untuk daerah pedesaan, dan selanjutnya bensin sebesar 4,36 persen untuk daerah perkotaan dan 3,91 persen untuk daerah pedesaan.
Alasan yang menyebabkan pedesaan lebih besar pengeluaran untuk membeli beras, karena kebutuhan beras di pedesaan lebih besar, karena banyak masyarakat yang bekerja keras, sehingga beras menjadi kebutuhan utama.
Berbeda dengan di pedesaan, wajar jika pengeluaran untuk membeli beras di kota itu sedikit, karena pekerja di perkotaan lebih banyak bekerja kantoran, sehingga makanan nasi tidak begitu sebanyak pekerja masyarakat di pedesaan.
Sukardi mengakui, di pedesaan terdapat banyak masyarakat yang bertani yang bisa menghasilkan beras. Namun, pengeluaran petani untuk mendapatkan kebutuhan lainnya ialah dengan cara menjual beras. Hal tersebut, juga masuk hitungan dalam survei, bahwa itu masuk dalam golongan pengeluaran masyarakat di pedesaan.
“Jadi, batas garis kemiskinan berada pada  Rp476.554 dengan jumlah penduduk 357, 13 ribu orang, dengan indeks keparahan kemiskinan mencapai 0,242 persen,” ujarnya.
Sementara itu, jumlah penduduk miskin di Sumatra Barat yang tercatat di BPS pada September 2017 lalu sebanyak 359.990 ribu orang, atau 6,75 persen dari seluruh penduduk Sumatra Barat.
Angka itu turun 4.520 orang ketimbang jumlah penduduk miskin pada survei sebelumnya, Maret 2017, yakni 364.510 orang atau 6,87 persen dari total penduduk.
Penduduk miskin itu mengacu pada ketetapan Garis Kemiskinan (GK) yang berbeda-beda di setiap provinsi di Indonesia. Untuk Sumbar, Garis Kemiskinan (September 2017) ditetapkan di angka Rp455.797 per kapita per bulan. Artinya, penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulannya di bawah angka Rp455.797, maka diketagorikan sebagai penduduk miskin.
Sukardi menjelaskan, persentase penduduk miskin di perdesaan masih lebih tinggi dibanding di perkotaan. Jumlah penduduk miskin di perkotaan pada September 2017 sebanyak 5,11 persen dari total penduduk. Sementara di perdesaan, angkanya lebih tinggi, yakni 7,94 persen.
“Hal itu pada September 2017 lalu. Kalau di tahun 2018 ini masih saja terjadi penurunan kondisi kemiskinan di Sumatera Barat,” ucapnya.
Untuk rinciannya, jumlah penduduk miskin di Sumatera Barat, tercatat 114.590 orang di perkotaan dan di perdesaan 245.410 orang. Angka keduanya merupakan hasil survei September 2017.
Baca Juga
Lihat juga...