Buah Lokal Beri Keuntungan Ekonomis Warga Penengahan

Editor: Satmoko Budi Santoso

250

LAMPUNG – Pemanfaatan keberadaan buah lokal sebagai buah segar dan bahan kuliner minuman menjadi berkah bagi sejumlah pelaku usaha. Buah lokal yang dibudidayakan warga di antaranya semangka, melon, pepaya, nanas, buah naga, apel malang, alpukat dan buah segar lain.

Keberadaan buah lokal, menjadi salah satu sumber penghasilan bagi Mariawati (39) warga desa Pasuruan kecamatan Penengahan Lampung Selatan yang membuka usaha kuliner minuman es buah, jus buah dan mie ayam bakso.

Mariawati menyebut, pasokan buah lokal yang lancar cukup memberinya bahan baku untuk pembuatan es buah, jus buah. Tren kesukaan warga akan olahan buah disebut Mariawati juga muncul dengan semakin banyaknya usaha kuliner berkonsep kafe.

Mariawati,menyajikan es buah kombinasi berbagai buah lokal agar disukai anak anak [Foto: Henk Widi]
Lokasi usaha mendukung di tepi Jalan Lintas Sumatera KM 67 bahkan disebutnya menjadi cara menyajikan buah segar dengan varian yang lebih menarik. Buah segar dengan kombinasi beragam buah banyak diminati anak-anak yang kurang menyukai buah dalam kondisi utuh.

“Selama ini jika disajikan hanya dalam wujud aslinya berupa buah segar masyarakat kurang menyukainya, maka muncul tren pembuatan jus buah dan es buah dengan konsep kafe yang membuat betah konsumen,” terang Mariawati, salah satu pemilik usaha kuliner berkonsep kafe, penyedia berbagai minuman buah di Penengahan saat ditemui Cendana News, Minggu (1/7/2018).

Mariawati menyebut, pengolahan buah hingga penyajian bermula dari kerjasama dengan pengelola program gizi Puskesmas Penengahan. Keprihatinan akan sulitnya anak-anak mengkonsumsi buah dilakukan dengan membuat menu jus buah dan es buah yang bisa dinikmati di kafe miliknya dan sebagian bisa dibawa pulang dalam bentuk cup atau gelas plastik tertutup.

Kemasan jus buah dan es buah yang menarik menjadi faktor daya tarik agar warga gemar mengkonsumsi buah lokal.

Yanti, salah satu pedagang buah segar menimbang semangka yang akan dijual [Foto: Henk Widi]
Buah lokal yang diperoleh langsung dari petani lokal disebut Mariawati dipilih dari buah segar. Mariawati bahkan menyebut tidak pernah menggunakan buah impor karena selain mahal potensi buah lokal untuk dijadikan minuman segar berbahan buah masih cukup potensial.

Harga terjangkau bagi warga dengan satu cup es buah dan jus buah seharga Rp7.000  masih bisa memberi keuntungan ratusan ribu disamping usaha kuliner mie ayam bakso yang ditekuninya.

Pada musim buah tertentu di antaranya buah durian, alpukat, permintaan akan jus buah bahkan bisa mencapai 100 cup per hari. Permintaan cukup banyak terutama saat hari sekolah karena lokasi berjualan miliknya dekat dengan lingkungan sekolah.

Khusus untuk anak sekolah kemasan atau porsi khusus dengan harga terjangkau  diberi harga menyesuaikan kantong pelajar.

“Mengajak masyarakat terutama generasi muda untuk mencintai buah lokal salah satunya dengan kreasi namun harganya terjangkau,” beber Mariawati.

Ia menyebut dengan bahan baku, varian rasa yang sama beberapa jenis es buah dan jus buah akan dijual berbeda di sejumlah pasar modern. Meski dijual dengan harga ekonomis, namun ia memastikan tidak mengurangi kualitas dan kuantitas buah yang digunakan.

Selain memberi kesegaran, es dan jus buah yang dibuatnya tetap memberi nilai gizi dari buah lokal yang tak kalah dengan buah impor.

Perolehan keuntungan dari buah lokal juga dirasakan oleh Yanti (30) warga yang memiliki usaha jual beli buah. Bersama sang suami Kuwadi (31) berbagai jenis buah lokal dijual secara keliling di antaranya nanas, melon, salak, semangka hingga jeruk peras Banyuwangi.

Berbagai jenis buah tersebut dibeli dari petani langsung di kecamatan Palas sebagai sentra buah lokal.

“Beberapa tahun silam sulit mencari buah jeruk dan melon dari wilayah Lampung Selatan tapi mulai banyak petani yang mengembangkan,” cetus Yanti.

Rantai distribusi yang lebih pendek membuat Yanti bisa menjual berbagai jenis buah dengan harga terjangkau. Saat jeruk peras Banyuwangi didatangkan dari Jawa per kilogram dijual dengan harga Rp20.000, namun kini hanya dijual seharga Rp15.000 karena dibeli langsung dari kebun.

Pepaya Calina atau California seharga Rp3.000 per buah, semangka Rp3.000 per kilogram, melon Rp4.000 per kilogram, alpukat Rp10.000 per kilogram.

Omzet berjualan buah keliling sebagian dijual di rumah diakui Yanti bisa mencapai ratusan ribu per hari. Omzet meningkat terjadi saat bulan Ramadan kemarin dengan permintaan dominan buah melon, semangka dan timun suri.

Meski serbuan buah impor kerap membanjiri pasar ia mengaku masih setia berjualan buah lokal. Sebab butuh modal besar untuk berjualan buah impor seperti pir, apel Australia dan buah impor lain.

Selain itu dengan sistem borongan buah lokal bisa langsung dibeli dari petani tanpa pengawet.

Baca Juga
Lihat juga...